spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Debat Publik KPU Bontang: Empat Paslon Bersaing Tawarkan Visi Bontang Lebih Maju

BONTANG – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bontang menggelar debat publik perdana Pilkada Bontang 2024 di Hotel Grand Mutiara pada Minggu (10/11/2024). Debat ini menjadi momentum penting bagi pasangan calon (paslon) untuk menyampaikan visi, misi, serta program unggulan mereka kepada masyarakat.

Dengan empat paslon yang bertarung, debat ini diharapkan dapat memberikan gambaran jelas kepada masyarakat mengenai rencana pembangunan kota yang akan mereka jalankan dalam lima tahun ke depan.

Debat publik dibuka dengan sesi pemaparan visi dan misi, di mana setiap paslon diberikan waktu tiga menit untuk menyampaikan tujuan utama mereka jika terpilih sebagai pemimpin Kota Bontang. Dalam segmen ini, masing-masing paslon menyoroti isu-isu spesifik yang menjadi fokus utama dalam program kerja mereka.

Paslon nomor urut 1, Basri Rase, mengawali sesi pemaparan dengan memperkenalkan visi untuk menjadikan Bontang sebagai kota yang hebat, inovatif, dan berdaya saing. Basri memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan ekonomi yang kompetitif.

Dalam pandangannya, Bontang yang ramah dan berakhlak adalah pondasi utama untuk mewujudkan kota yang harmonis. Basri juga menyoroti pentingnya akses layanan kesehatan yang nyaman dan penyediaan infrastruktur internet yang baik bagi seluruh masyarakat.

“Kami ingin membangun kota yang ramah dan berakhlak, menyediakan layanan kesehatan yang nyaman, dan akses internet hebat,” tegas Basri Rase.

Kemudian, paslon nomor urut 2, Sutomo Jabir, menyoroti potensi besar yang dimiliki Bontang, baik dari segi geografis maupun industrinya. Dengan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 3,3 triliun, ia yakin potensi tersebut dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Sutomo, tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah kemiskinan, pengangguran, dan ekonomi. Ia menawarkan solusi berbasis industri, baik industri besar maupun industri rumah tangga, sebagai strategi untuk mendorong perekonomian kota.

“Kami menawarkan solusi ekonomi berbasis industri, baik skala besar maupun home industry,” ujarnya dengan optimis.

Berbeda dengan dua paslon sebelumnya, pasangan nomor urut 3, Najirah dan Muhammad Aswar, justru lebih tertarik untuk membawa visi “Bontang Juara” dengan program unggulan yang difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan dan peran masyarakat dalam pembangunan.

Salah satu program andalan mereka adalah “Kartu Siswa Juara” yang akan memberikan bantuan dana sebesar Rp 2 juta per siswa untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka. Paslon ini juga merencanakan pengalokasian dana sebesar Rp 100-350 juta untuk setiap Rukun Tetangga (RT) agar masyarakat dapat berperan aktif dalam pengembangan lingkungan sekitar.

Sedangkan paslon nomor urut 4, Neni Moerniaeni dan Agus Haris, memilih fokus pada visi kota industri berkelanjutan dengan ekonomi dinamis. Neni, yang pernah menjabat sebagai wali kota, menyoroti pentingnya memperjuangkan pembagian hasil yang lebih adil untuk Bontang dari pemerintah pusat. Ia juga berjanji akan memberikan fasilitas gratis bagi siswa, seperti seragam dan alat tulis, sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan anak-anak Bontang.

“Kami akan membawa perubahan untuk Bontang, termasuk memberikan kelengkapan siswa secara gratis,” jelas Neni.

Pentingnya Peran Ormas dalam Mewujudkan Kerukunan di Bontang

Debat publik kali ini juga mengangkat isu terkait kerukunan antarumat beragama dan peran organisasi masyarakat (ormas) dalam menjaga keharmonisan sosial di Kota Bontang. Menariknya, paslon nomor urut 1, Basri Rase, dan paslon nomor urut 2, Sutomo Jabir, kompak mendukung peran ormas dalam menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman masyarakat Bontang.

Basri Rase mengklaim bahwa selama masa pemerintahannya, Bontang berhasil menciptakan iklim kerukunan yang kondusif tanpa konflik. Ia menyatakan bahwa konsep “Kota Pancasila” yang diterapkan di Bontang menjadi dasar dari harmoni sosial tersebut, dan hal ini dicapai berkat kolaborasi dari berbagai pihak, seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) hingga Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

“Keberhasilan ini adalah hasil kerja sama semua pihak, mulai dari FKUB hingga Forkopimda, yang berperan besar dalam menjaga kondusivitas Kota Bontang,” ujar Basri.

Sementara itu, Sutomo Jabir menekankan pentingnya keadilan dan dukungan nyata bagi ormas yang berperan dalam menjaga kerukunan. Ia berencana memberikan bantuan sosial bagi ormas agar mereka dapat terus meningkatkan peran mereka dalam memperkuat harmonisasi di Bontang. Sutomo berharap Pilkada kali ini dapat menjadi contoh kerukunan untuk Pilkada mendatang.

“Kami ingin memperluas peran ormas dengan memberikan dukungan, baik secara sosial maupun fasilitas, agar mereka dapat terus mengangkat harkat dan martabat serta menjaga harmonisasi di Kota Bontang,” ungkap Sutomo.

Seluruh Paslon Sepakat Perkuat Posyandu untuk Tekan Angka Stunting

Selain isu kerukunan, masalah stunting atau gizi buruk pada anak juga menjadi perhatian utama dalam debat kali ini. Seluruh paslon sepakat untuk memperkuat peran Posyandu sebagai garda terdepan dalam penanganan dan pencegahan stunting.

Paslon nomor urut 1, Basri Rase, mengusulkan pengembangan aplikasi terintegrasi untuk memantau data anak stunting secara real-time dan membantu kerja kader Posyandu. “Aplikasi ini akan membantu Posyandu dalam memantau dan mengatasi kasus stunting dengan lebih cepat dan akurat,” ujarnya.

Paslon nomor urut 2, Sutomo Jabir, menekankan pentingnya edukasi kesehatan sebagai langkah awal pencegahan stunting. Sutomo berencana untuk menggandakan insentif bagi kader Posyandu sebagai penghargaan atas dedikasi mereka. Ia menambahkan bahwa Posyandu akan menjadi ujung tombak dalam mengatasi stunting.

Paslon nomor urut 3, Najirah-Aswar, mengusulkan sistem satu data untuk setiap bayi yang akan memudahkan pemantauan kesehatan anak. Mereka juga menawarkan subsidi bagi warga pada momen penting seperti menikah, melahirkan, dan meninggal.

Sementara itu, paslon nomor urut 4, Neni Moerniaeni, menyoroti bahwa masalah gizi buruk dan sanitasi yang kurang memadai adalah penyebab utama stunting. Ia berkomitmen untuk meningkatkan infrastruktur sanitasi di kota sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi stunting.

Dengan visi, misi, dan program unggulan yang dipaparkan oleh masing-masing pasangan calon, masyarakat Bontang diharapkan dapat lebih memahami pilihan terbaik untuk masa depan kota mereka. (KN/adv)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

INFO GRAFIS