spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Akses Sulit Hingga Anggaran Sulit, Potret Pendidikan di Perbatasan PPU-Kubar

PPU – Efisiensi anggaran besar-besaran berdasarkan Inpres nomor 1 tahun 2025 sangat berdampak pada 241 guru honorer yang dirumahkan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Utamanya daerah-daerah terpencil atau daerah perbatasan yang kesulitan akses.

Salah satunya SD Negeri 005 Filial yang berada di daerah Bongan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Barat. Sekolah ini memiliki enam kelas dengan total sekitar 47 orang murid bergantung di sekolah ini.

“Awalnya ada tiga gurunya, dua dirumahkan dan hanya sisa satu guru (PNS). Tapi yang satu masih saya minta mengajar karena sangat kekurangan,” ungkap (R) perwakilan guru SDN 005 Filial, Rabu (12/02/2025).

Ia mengatakan paling sedikit guru yang dibutuhkan mengajar sebanyak tiga orang. Itu pun menurutnya telah diakali dengan format satu guru bertanggung jawab dua kelas.

“Ya kalau tinggal satu guru menangani enam kelas ya kerepotan. Walaupun satu kelas isinya tidak banyak hanya enam atau delapan orang, tetapi tetap kerepotan. Ini ‘kan kelas jauh dari SDN 005 Sotek. Dan ini satu guru harus semua mata pelajaran ya,” ungkapnya.

“Nah sekarang kalau misal kelas satu belajar matematika, kelas dua belajar IPA, kelas tiganya belajar bahasa, bagaimana? ‘Kan jadinya repot. Jadi ya pasti kemungkinan ada yang terabaikan karena enggak maksimal,” tambahnya.

Walaupun pihaknya telah mengakali dengan membagi jadwal masuk kelas. Tetapi, apabila yang ditangani lebih dari satu kelas menurutnya tidak maksimal. Sehingga hanya akan diberi tugas tanpa diterangkan pembelajarannya.

“Jangankan yang di Filial, untuk di sekolah induknya saja yang dikurangi ada tiga orang. Jadi total lima orang. Kalau guru mata pelajaran masih bisa diakali, tapi kalau guru kelas ya sulit sekali. Ya akhirnya harus bergantian,” jelasnya.

R mengatakan akses menuju sekolah Filial saja sulit, sehingga sulit ketika harus bolak-balik untuk mengajar. Sementara guru PPPK yang bertugas di SDN 005 Filial diminta untuk menetap dikarenakan tidak ada guru.

“Sementara ini ya anak-anak tetap belajar jadi guru PPPK itu saya minta ‘stand by’ agar bisa tetap melakukan aktivitas belajar dan mengajar. Pengurangan ini cukup berdampak ya, ‘kan yang dihadapi manusia,” paparnya.

Apabila tidak ada yang mengawasi akan sulit bagi anak-anak. R mengatakan sejak hari ini tidak ada solusi pasti terkait dengan nasib kebutuhan guru ini. Semuanya dikembalikan ke sekolah untuk memformulasikan kekurangan guru.

“Ya bekerja sama dengan komite untuk mencari solusinya,” terangnya.

Selain itu, R mengatakan pihaknya akan melakukan swadaya untuk membayar upah transportasi guru honorer yang tetap bekerja tersebut. Termasuk urunan dengan komite sekolah.

“Kita kesulitan juga kalau semua dirumahkan, apalagi kalau di sekolah Filial. Sambil menunggu kebijakan dari para pemangku kebijakan. Mudah-mudahan ada solusinya segera,” katanya.

R mengatakan guru yang berada di SD Negeri 005 Filial sebenarnya telah mengajar selama satu tahun. Pihaknya menegaskan kekurangan guru ini benar-benar nyata walaupun bisa diusahakan dengan pertukaran jam. Namun semuanya tetap tidak maksimal.

“Ya harapannya guru honorer tetap bisa dipekerjakan. Walaupun nanti formula dan undang-undangnya seperti apa, yang pasti kami sangat membutuhkan tenaga guru ini,” pungkasnya.

Pewarta: Nelly Agustina
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

INFO GRAFIS