spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

PUPR PPU: Terkait Lubang Jalan Poros Penajam-Kademan, Itu Cukup Merepotkan

PPU – Beberapa waktu lalu, tim Media Kaltim Network (jaringan Radar Media) melakukan penelusuran terkait kondisi jalan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Hasilnya terdapat sekitar 220 lubang dari simpang Tunan hingga jalan poros depan Pemkab PPU.

Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat PPU, Petriandy P Pasulu, menanggapi kondisi tersebut. Ia mengatakan ruas jalan poros Penajam-Kademan merupakan milik Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN)

“Jadi balai itu berarti milik jalan nasional. Kalau jalan kabupaten, jalan kabupaten, jalan provinsi itu yang dari wilayah pelabuhan penajam sampai ke samping masjid Al-Ula itu sekarang statusnya itu menjadi jalan provinsi. Sekitar 5-6 kilometer,” terangnya, Selasa (04/03/2025).

Selanjutnya, Rian -apaan akrabnya- mengatakan jalan dari Tunan hingga ke Pemkab PPU merupakan jalan nasional. Ia memahami masalah ini cukup pelik terkait dengan permasalahan perawatan jalan tersebut.

“Nah ini ya repotnya ya. Repotnya begini. Saya kemarin dapat konfirmasi bahwa dari balai pun itu mereka ‘kan dapat efisiensi juga ya,” ungkapnya.

Lanjut Rian mengatakan dirinya mendapat informasi yang masih perlu dikonfirmasi ke BBPJN kalau anggaran preservasi jalan poros Penajam-Kademan dihilangkan.

“Artinya tidak ada perbaikan jalan nanti yang di antara Penajam dan Kademan. Ya mau enggak mau ya. Akhirnya pemerintah kabupaten ini kami harus hadirlah di situ,” tegasnya.

Namun, ia memahami perawatan tersebut belum maksimal, sehingga perlu menyesuaikan kondisi keuangan dari Dinas PUPR PPU. Terlebih yang harus menjadi pertimbangan, apabila hanya fokus pada jalan nasional maka jalan kabupaten akan terabaikan.

“Artinya jalan kabupaten ini kita memanfaatkan recycling ya. Recycling aspal lama, itu kita bongkar, kita olah lagi, baru kita jadikan lagi. Tapi kita kasih campuran tambahan aspal lagi,” jelasnya.

Hal ini menurutnya salah satu upaya menghemat anggaran dengan melakukan recycle aspal. Namun, melalui metode tersebut sangat terbatas kemampuannya.

“Jadi misalnya kalau ada tadi 200 lubang misalnya yang harus kita tangani, paling satu hari itu ya kita paling 10 lubang. Tapi kalau 10 lubang ‘kan menunggu sampai selesai, yah sudah ada lubang yang baru lagi yang kita kerjakan. Akhirnya seperti itu,” ungkapnya.

Rian mengatakan efisiensi tersebut cukup berdampak. Targetnya memang pihaknya akan melakukan pemeliharaan melalui swakelola Dinas PUPR dengan membeli aspal dan menggunakan alat aset dinas.

“Jadi alat, tenaga kerja itu dari teman-teman pemeliharaan bina marga. Ya jauhnya lebih irit, lebih irit sebenarnya. Cuma memang kalau secara waktu ya agak lambat. Tidak seperti yang proyek ya,” ungkapnya.

Pewarta: Nelly Agustina
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

INFO GRAFIS