spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Antisipasi Antraks, DKPPP Bontang Imbau Patuhi Lalu Lintas Hewan

BONTANG – Penyakit Antraks telah menjadi topik yang hangat dibicarakan belakangan ini karena menimbulkan serangan pada hewan ternak seperti sapi dan kambing. Sumber penyakit ini awalnya berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta dan telah menyebabkan beberapa kematian pada bulan Juni yang lalu.

Virus Antraks dapat menular melalui kontak langsung maupun konsumsi hewan atau daging sapi yang terinfeksi. Virus ini juga memiliki kemampuan bertahan yang tinggi di permukaan seperti tanah.

Penyakit Antraks merupakan penyakit bakterial yang bersifat menular secara akut pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis, demikian dijelaskan oleh situs resmi Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo.

Antraks, dalam bahasa Yunani, berarti batu bara. Nama ini diberikan karena kulit seseorang yang terkena Antraks akan berubah menjadi hitam. Penyakit ini biasanya lebih sering menyerang hewan herbivora liar dan yang telah dijinakkan.

Penyakit antraks bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya, namun tidak dapat ditularkan antara sesama manusia.

Bacillus anthracis sebagai penyebab penyakit antraks, bersifat gram positif, berbentuk batang, tidak bergerak dan membentuk spora. Bentuk vegetatif dari bakteri ini dapat tumbuh subur di dalam tubuh dan segera menjadi spora apabila berada di luar tubuh ketika kontak dengan udara luar. Spora ini dengan cepat akan terus menyebar melalui air hujan.

Hewan ternak dapat terinfeksi penyakit antraks apabila memakan pakan atau meminum air yang terkontaminasi spora tersebut atau jika spora mengenai bagian tubuh yang luka. Ternak penderita antraks kemudian dapat menulari ternak yang lain melalui cairan (eksudat) yang keluar dari tubuhnya. Cairan ini kemudian mencemari tanah sekelilingnya dan dapat menjadi sumber untuk munculnya wabah berikutnya.

Kasi Pelayanan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Peternakan (DKPPP) Bontang drh Riyono menjelaskan bahwa virus tersebut tidak terindikasi di Bontang sehingga warga tidak perlu waspada.

Wilayah Bontang rutin melakukan pengiriman hewan ternak seperti sapi dan kambing, semenjak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sebelum dilakukan pengiriman sudah rutin melakukan uji lab sehingga penyakit pada hewan akan terdeteksi.

“Ini ada permohonan kambing masuk 100 ekor dan Sapi 39 ekor. Kenaikan harga juga tidak ada. Untuk antraks, hanya menggunakan surat keterangan pemeriksaan tanpa sampel uji laboratorium,” jelasnya.

Beberapa hewan ternak dikirim dari Sulawesi dimana daerah tersebut masih bersih dari PMK dan Antraks. Namun, 6 bulan terakhir tidak ada kasus penyakit hewan menular, syarat untuk pengiriman ternak dinilai cukup efektif dalam mengurangi penyebaran.

“Dengan menaati peraturan lalu lintas hewan, insyaallah hewan-hewan yang masuk ke Kota Bontang tidak membawa wabah atau penyakit,” tutupnya.(Rm)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER