Eksotisme Maratua: Lagu Kepingan Surga Hingga Candaan Ayam naik Speedboat

SAMARINDA – Tak perlu jauh-jauh ke Maldives, Palau, Bora-bora atau ke Koh Tau Thailand untuk menikmati keindahan laut dan pulaunya.

Pulau Maratua, surga tersembunyi di ujung timur Kalimantan Timur, menjelma menjadi destinasi unggulan tanah air. Punya potensi bahari kelas dunia.

Dikelilingi laut biru jernih dan terumbu karang yang masih perawan, Tim Percepatan Pengembangan Wisata Maratua yang dipimpin oleh Michael Surya terus bekerja keras untuk semakin memoles dan memasarkan destinasi yang memang dikarunia keindahan sejak lama itu.

Menurut Michael, Maratua menawarkan pengalaman wisata tak terlupakan. Sensasi menyelam bersama pari manta dan penyu hijau, hingga menikmati ketenangan resort-resort eco-friendly yang ramah lingkungan.

“Jangan lupa, keramahan warga dan keunikan budaya. Menjadikan momen wisata ke pulau ini lebih hangat dan autentik,” katanya.

Di bawah arahannya, peningkatan infrastruktur pendukung wisata, penguatan promosi digital, serta pemberdayaan masyarakat lokal, lebih difokuskan.

Termasuk, program pelatihan pemandu wisata, digitalisasi UMKM, hingga pengembangan spot diving bersertifikat internasional.

Hasilnya,  Kunjungan wisatawan meningkat signifikan dua tahun terakhir. 2023 lalu, 422.459 wisatawan tercatat mengunjungi pulau eksotis ini. Angka itu naik drastis menjadi 557.21 di 2024.

Libur hari besar, dan pelaksanaan event seperti Dive Fiesta dan Maratua Jazz, diyakini jadi pemicu kenaikan angka kunjungan.

Terkini, Michael bikin gebrakan. Karena latar belakangnya yang sebagai musisi, ia menciptakan lagu khusus untuk Maratua. Judulnya, Maratua Kepingan Surga.

Lirik, lagu dan aransemen semua hasil karyanya. Lirik dan klipnya indah, kental dengan ajakan untuk menyambangi Maratua. Butuh waktu 2 minggu baginya untuk menggarap semua elemen lagu itu

“Intinya, lewat lagu itu, saya ingin Maratua lebih dikenal dengan pendekatan yang berbeda,” harapnya.

Saat ini, promosi lagu itu sedang berjalan meski belum begitu masif. “Masih mengalir begitu aja, belum kemana mana kok,” tambahnya.

Michael yakin Maratua akan selalu menjadi salah satu wisata bahari Andalan di kaltim. Diberkahi dengan alamnya yang indah baik diatas maupun bawah lautnya.

Apalagi menurutnya, hingga kini wisatawan hanya mengenal ‘kulit luar’ dari Maratua. Rata-rata hanya dari susut resort. Padahal, masih banyak titik destinasi menarik yang belum banyak diketahui yang tersebar di 4 kampung di Maratua.

Pada media, Michael punya program memoles tampilan Maratua secara dekat. Detailing akan sangat ia perhatikan.  Gayung bersambut. Sederet pelaku wisata di Maratua punya keinginan yang sama.

Landmark pun akan dibangun untuk melahirkan icon baru. Pengembangan kuliner dan UMKM berkolaborasi dengan Pemkab maupun Pemprov, terus dilakukan.

Penataan bisnis penginapan hingga resort diprioritaskan sampai pada pengolaan limbah yang modern. Ada proses limbah kotoran manusia atau feses dengan tidak langsung membuangnya ke laut.

Kolaborasi dengan penduduk setempat juga berjalan baik. Banyak Guest house bertumbuh melibatkan SDM lokal sebagai pekerja. Putaran ekonomi merekapun membaik.

“Ada namanya program desa binaan. Sedang diajukan kerjasamanya ke bank daerah. Ini sekaligus wujud kepedulilan dan peningkatan edukasi mengenai perbankan, inklusi keuangan, dan lainnya,” bebernya.

Satu hal yang masih menjadi perhatian Michael, akses via udara yang masih terbatas. Perlu pesawat ATR. Saat ini ada nya Cessna Caravan dengan kapasitas 12 penumpang.

“Ya, untuk mendukung pergerakan keluar masuk wisatawan. Kita butuh dukungan armada tambahan disamping mengandalkan trasportasi laut (speedboat),” katanya.

Karena kondisi itulah, harga-harga di Maratua cenderung tinggi. Bahan pangan semua dari luar. Akses pengiriman melalui speedboat. Hargapun menyesuaikan.

“Sering muncul kelakar, ayam lalapan di Martua mahal karena ayam-nya saja ke Maratua naik speedboat,” candanya. (dhi)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI