PASER – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Paser mencari solusi untuk mengendalikan populasi buaya yang terus meningkat, menyusul banyaknya kasus penyerangan buaya terhadap masyarakat dalam beberapa waktu belakangan.
Komandan Tim Rescue BPBD Paser, Marwan, mengatakan untuk di Kalimantan khususnya Kabupaten Paser tidak ada predator alami atau hewan yang dapat memangsa buaya sehingga populasinya tidak terkendali. Berbeda halnya sebelum buaya menjadi satwa yang dilindungi oleh undang-undang.
“Zaman dulu sekitar tahun 90-an sebelum buaya dilindungi oleh undang-undang, masih banyak masyarakat yang menjadi pemburu buaya untuk diambil daging dan kulitnya,” kata Marwan, Minggu (29/6/2025).
Dengan terus meningkatnya populasi buaya yang terus membayang-bayangi keselamatan masyarakat di Bumi Daya Taka, Marwan berharap ada ruang diskusi yang dibuat khusus untuk membahas terkait populasi buaya di Kabupaten Paser.
“Saya berharap dapat duduk bersama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA, termasuk dengan TNI-Polri untuk mencari solusi atas permasalahan populasi buaya ini,” ujarnya.
Sepanjang tahun 2025, telah terjadi setidaknya empat kasus penyerangan buaya terhadap masyarakat, di mana dua korban di antaranya meninggal dunia dan dua korban selamat.
Meski kasus serangan buaya pada tahun 2025 lebih sedikit dibandingkan tahun 2024 lalu yang mencapai 7 kasus, namun hal ini masih menunjukkan ancaman serius bagi masyarakat.
“Peringatan kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati pada saat beraktivitas di pinggir sungai, sebab populasi buaya sudah mulai tinggi,” pungkasnya.
Pewarta: Nash
Editor: Yahya Yabo





