50 Negara Akan Hadir, Kaltim Dipersiapkan Jadi Tuan Rumah Kongres Dunia CIOFF 2026

SAMARINDA — Kalimantan Timur bersiap memasuki babak baru dalam diplomasi budaya internasional. Dalam rangkaian East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025, Presiden CIOFF Indonesia, Said Rachmat, mengumumkan Samarinda tengah dipertimbangkan untuk menjadi tuan rumah Kongres Dunia CIOFF tahun 2026 yang akan dihadiri oleh delegasi dari 50 negara anggota.

Pengumuman ini disampaikan Said Rachmat di sela acara yang mempertemukan para delegasi seni dari berbagai negara dan provinsi Indonesia.

Menurutnya, kesiapan infrastruktur, komitmen pemerintah daerah, serta suksesnya pelaksanaan EBIFF 2025 menjadi alasan kuat untuk membawa forum budaya tertinggi CIOFF ke Bumi Etam.

“Kami sangat terkesan dengan pelaksanaan EBIFF tahun ini. Penyelenggaraan yang rapi dan suasana yang hangat membuktikan bahwa Samarinda siap menjadi tuan rumah pertemuan dunia. CIOFF sedang memfinalisasi rencana agar Kongres Dunia digelar di sini pada Oktober 2026,” ujar Said Minggu (27/7/2025).

Apabila rencana ini terwujud, maka Kalimantan Timur akan menerima kehadiran perwakilan resmi dari 50 negara anggota CIOFF, organisasi internasional mitra UNESCO yang membawahi festival-festival folklor dan seni tradisional dunia.

Ini akan menjadi kedua kalinya Indonesia menjadi tuan rumah Kongres Dunia CIOFF, setelah sebelumnya digelar di Kutai Kartanegara pada 2017.

Sekretaris Daerah Kaltim, Sri Wahyuni, menyambut baik wacana tersebut dan menyatakan pemerintah provinsi siap berkoordinasi lintas sektor untuk menyiapkan event bertaraf global tersebut.

“Kalimantan Timur tidak hanya siap secara budaya dan logistik, tetapi memiliki potensi pariwisata dan ekowisata kelas dunia yang akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para delegasi dari luar negeri,” jelas Sri.

Destinasi seperti Pulau Derawan, Maratua, Labuan Cermin, serta potensi Ibu Kota Nusantara (IKN) akan menjadi bagian dari paket promosi budaya dan wisata yang ditawarkan dalam rangkaian kongres mendatang.

Menurut Said Rachmat, selain agenda utama kongres, akan ada tur budaya dan kunjungan lapangan bagi peserta untuk mengenalkan warisan lokal dan komunitas seni rakyat di Kalimantan Timur.

Kehadiran 50 negara di Samarinda tidak hanya menjadi prestise diplomatik, tapi diharapkan memberi dampak langsung terhadap promosi UMKM, kuliner lokal, dan produk ekonomi kreatif Kalimantan Timur.

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Kuswantari, menyebutkan pengalaman EBIFF 2025 menjadi pembelajaran penting dalam menyiapkan diri menuju event berskala dunia.

“Kami akan maksimalkan potensi lokal untuk tampil, dari produk kerajinan, fesyen etnik, hingga kuliner khas yang bisa dikemas sebagai daya tarik bagi pasar global,” ujarnya.

Kongres Dunia CIOFF 2026 dipandang sebagai tonggak penting dalam menempatkan Kalimantan Timur di peta kebudayaan dunia.

Dengan kehadiran 50 negara, Samarinda tidak hanya menjadi titik temu budaya, tetapi panggung strategis Indonesia dalam memperkuat diplomasi kultural global.

“Kami optimis dalam lima tahun ke depan, East Borneo akan dikenal sebagai poros budaya dunia. Samarinda menjadi titik berangkatnya,” sebut Said Rachmat.

Penulis: Hanafi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI