PASER – Aliansi Paser Bersatu gelar aksi demonstrasi, menolak program transmigrasi yang digagas oleh Kementerian Transmigrasi (Kementrans) di wilayah Kabupaten Paser. Berlangsung di Halaman Kantor Bupati Paser, Senin (1/8/2025).
Ratusan masa yang turun dalam aksi demonstrasi tersebut menyampaikan kekhawatirannya tentang dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang mungkin timbul dari program tersebut. Mereka khawatir transmigran akan mendapatkan lahan yang lebih baik dan lebih luas, sementara mereka sendiri tidak mendapatkan akses yang sama.
Koordinator Lapangan Aliansi Paser Bersatu, Amirudin, mengatakan pihaknya menolak program transmigrasi yang bertujuan untuk mendatangkan masyarakat luar daerah masuk ke Paser. Ia menilai program tersebut harusnya memprioritaskan kesejahteraan warga asli Paser, karena masih banyak warga Paser yang belum sejahtera.
“Seharusnya, kami warga asli Paser yang diutamakan. Ironisnya, kami masyarakat asli daerah malah tidak punya apa-apa, endo belo masuk akal karan yo (ini tidak masuk akal namanya),” tegas Amir.
Ia memohon kepada pemerintah, agar dapat mendengar aspirasi mereka, untuk menolak program transmigrasi yang mendatangkan masyarakat dari luar daerah.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Paser, Fahmi Fadli, mengatakan pihaknya sepakat untuk menolak program transmigrasi yang mendatangkan masyarakat dari luar Paser. Bahkan dirinya mengakui pihaknya telah lama bersurat ke kementerian agar program tersebut lebih memprioritaskan masyarakat lokal.
“Pada prinsipnya tuntutan masyarakat kami dukung. Ayo kita kawal bersama-bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Paser,” tegasnya.
Bupati Fahmi menjelaskan program tersebut banyak membawa manfaat, sehingga sangat disayangkan apabila kita tolak total program yang baik tersebut. Karena penerima manfaat dari program akan menerima rumah, lahan, dan Jaminan Hidup (Jadup).
“Kita harus berpikir cerdas, karena dari program ini masyarakat akan menerima rumah, lahan, dan Jadup. Kenapa tidak kita ambil kesempatan ini, untuk kearifan lokal kita,” pungkasnya.
Pewarta: Nash
Editor: Yahya Yabo





