SAMARINDA – Kasus dugaan perakitan 27 bom molotov yang menyeret mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan terus bergulir. Salah satu mahasiswa yang sempat ditahan, Andi Irham, membeberkan kronologi penangkapan yang terjadi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul, Jalan Banggeris, Samarinda, Minggu (31/8/2025) malam.
Dalam penggerebekan tersebut, aparat mengamankan 22 mahasiswa. Andi Irham mengaku diberikan banyak pertanyaan dan ditahan sementara hingga 17 jam. Sehari kemudian atau Senin (1/9/2025) sore, sebanyak 18 orang dibebaskan termasuk dirinya.
Sementara empat mahasiswa lainnya ditetapkan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam perakitan molotov. Polisi menyebut masih ada dua orang lain yang kini berstatus buron dan diduga sebagai aktor utama.
Irham menegaskan kehadirannya di kampus saat itu murni untuk mengerjakan tugas kuliah sekaligus berdiskusi dengan mahasiswa baru yang baru saja menyelesaikan Ospek.
“Memang tujuan saya ke kampus untuk mengerjakan tugas. Kami sempat mengobrol santai dengan teman-teman mahasiswa baru. Tidak ada niatan lain,” ujarnya.
Ia menuturkan sekitar pukul 00.00 WITA, sejumlah mobil dan motor masuk ke kawasan kampus. Beberapa mahasiswa berlarian, namun dirinya memilih tetap berada di lokasi hingga akhirnya ditangkap.
Meski begitu, Irham ragu empat mahasiswa yang kini menjadi tersangka benar-benar terlibat. Ia menilai ada kemungkinan pihak luar yang memasok barang-barang tersebut.
“Saya yakin ada pihak lain yang mungkin menjadi pemasok, bukan dari teman-teman di kampus ini, karena pertanyaannya dari mana mereka (empat tersangka) dapat uang untuk membuat bom molotov, apa lagi mereka ini perantau,” tambahnya.
Irham curiga ada yang menyuplai bahan-bahan molotov tersebut dari luar kampus. “Bahkan kemungkinan bukan senior kampus dan bukan mahasiswa di sini yang menyuplai,” katanya.
Keraguan serupa muncul di kalangan mahasiswa FKIP Unmul. Mereka menilai empat mahasiswa yang ditetapkan tersangka hanya korban, sementara dua orang yang saat ini buron diduga kuat sebagai aktor intelektual dari perakitan molotov tersebut.
“Mereka itu baik-baik gak ada yang aneh dalam bergaul di sini, itu yang kami gak habis pikir kenapa sampai mereka ditetapkan tersangka,” ujar salah seorang mahasiswa lainnya yang tidak mau disebutkan namanya.
Sementara itu, Ketua Jurusan Pendidikan IPS Unmul, Reza, mengaku terkejut dengan kasus tersebut. Ia menegaskan pihak kampus tidak pernah menyangka ada aktivitas semacam itu di lingkungan mahasiswa.
“Kami sama sekali tidak menyangka. Apalagi ini mahasiswa pendidikan. Kalau dari cerita kronologis teman-teman mahasiswa, justru logikanya mereka adalah korban. Saya yakin ada aktor luar yang bermain,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Rektor Unmul dikabarkan tengah berupaya memberikan penangguhan penahanan terhadap empat mahasiswa yang masih ditahan di Polresta Samarinda. Dukungan serupa datang dari jajaran dosen yang berharap proses hukum dapat mempertimbangkan fakta mengenai mahasiswa tersebut tidak memiliki rekam jejak negatif sebelumnya.
Di sisi lain, aktivitas perkuliahan di Universitas Mulawarman tetap berjalan normal. Pantauan di lingkungan kampus menunjukkan mahasiswa dan dosen tetap menjalankan rutinitas akademik tanpa gangguan. Proses belajar mengajar berlangsung seperti biasa, menandakan kasus tersebut tidak berdampak langsung pada kegiatan pendidikan.
Hingga kini aparat masih mendalami peran empat mahasiswa yang ditetapkan tersangka, sekaligus memburu dua orang lain yang disebut sebagai aktor utama dalam kasus tersebut.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





