SAMARINDA – Upaya dalam menjadikan Prasasti Yupa dari Kutai sebagai warisan dokumenter dunia terus bergulir. Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV menggelar Sosialisasi Prasasti Yupa di Kutai Menuju Memory of the World UNESCO, Senin (8/9/2025), di Gedung Prof. Dr. H. Masjaya, Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda.
Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Hubungan Antar Lembaga, Ismunandar, menjelaskan pengajuan Yupa ke UNESCO bertujuan menjaga jejak sejarah bangsa.
“Program Memory of the World ini untuk memastikan masyarakat tidak amnesia sejarah. Dokumen atau prasasti yang signifikan dicatat di UNESCO, kemudian dipelihara agar bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” jelasnya.
Menurut Ismunandar, Indonesia telah memiliki 16 dokumen yang tercatat di Memory of the World, mulai dari Lontara La Galigo, Negarakertagama, hingga arsip korban tsunami Aceh. Namun, belum ada satu pun prasasti yang diakui.
“Yupa akan menjadi prasasti pertama dari Indonesia yang diajukan. Nilai penting lainnya, Yupa berasal dari abad ke-4 Masehi, jauh lebih tua dibanding dokumen lain yang rata-rata dari abad ke-13,” ujarnya.
Kepala BPK Wilayah XIV Kaltim–Kaltara, Lestari, menambahkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk akademisi dan pemerintah daerah, menjadi modal penting dalam pengajuan tersebut.
“Yupa bukan hanya bukti awal sejarah tulisan di Indonesia, tetapi juga menegaskan bahwa sejak abad ke-4 masyarakat kita telah berinteraksi dengan budaya internasional dan mampu mengadaptasinya sesuai konteks lokal,” terangnya.
Sosialisasi ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Madya Dr. Nasha bin Rodziadi Khaw (Universiti Sains Malaysia), Dr. Ninie Susanti (Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia), Dr. Andriyati Rahayu (UI), Rini Rusyeni (ANRI), serta akademisi Universitas Mulawarman. Diskusi tersebut menjadi ajang memperkuat naskah nominasi sebelum batas pengajuan ke UNESCO pada November 2025.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





