SAMARINDA – Tren kasus HIV di Samarinda menunjukkan pola yang mengkhawatirkan, di mana Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) masih menjadi kelompok paling terdampak. Kondisi tersebut sejalan dengan fenomena serupa yang terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, dr. Ismid Kusasih, menjelaskan data yang ada menegaskan dominasi LSL dalam angka kasus HIV. “Data yang ada menunjukkan kelompok LSL menempati posisi tertinggi kasus HIV di Samarinda,” ungkapnya.
Meski demikian, dr. Ismid menyoroti adanya pergeseran tren. Kasus HIV kini mulai ditemukan pada kelompok masyarakat umum, termasuk ibu rumah tangga yang terdeteksi positif setelah menjalani skrining rutin.
Menurut dr. Ismid, tingginya angka kasus yang terlaporkan di Samarinda merupakan bukti dari keberhasilan program skrining yang aktif dilakukan oleh pemerintah kota. Ia menegaskan skrining merupakan kunci untuk mengetahui kondisi sebenarnya di masyarakat.
“Kalau di Samarinda terlihat banyak, itu karena kita aktif melakukan skrining sehingga datanya terlapor,” tambahnya.
Dirinya menjelaskan mengapa HIV kini masuk dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang mewajibkan semua daerah untuk menanganinya.
Hingga pertengahan tahun 2025, Dinkes Samarinda telah melakukan skrining terhadap 20.000 warga dan 223 di antaranya terdeteksi positif HIV. Dari jumlah tersebut, 220 orang sudah aktif menjalani pengobatan. Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya, di mana 527 orang ditemukan positif dari 47.000 skrining. Saat ini, terdapat sekitar 2.000 pasien HIV di Samarinda yang secara rutin mendapatkan terapi.
“Kalau sudah AIDS, imunitas tubuh habis dan risiko kematian tinggi. Jadi kuncinya skrining, jangan takut periksa. Kerahasiaan pasien pasti kami jaga,” pungkasnya.
Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo





