KUTIM – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan swasembada pangan. Data dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) mencatat, saat ini Kutim hanya memiliki 2.613 hektare lahan sawah aktif, padahal kebutuhan minimal untuk mencapai swasembada diperkirakan mencapai 10 ribu hektare.
Situasi tersebut membuat Kutim masih sangat bergantung pada pasokan beras dari daerah lain. Pemerintah daerah menegaskan, swasembada pangan tidak bisa ditunda lagi, apalagi Kutim memiliki wilayah yang luas dan potensi besar di sektor pertanian.
Kepala Dinas TPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengungkapkan pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk membuka hingga 20 ribu hektare sawah baru pada tahun 2029. Target tersebut meliputi lahan baru di beberapa kecamatan yang memiliki potensi seperti Rantau Pulung, Kaubun, dan Bengalon.
“Luas eksisting 2.613 hektare masih jauh dari ideal. Oleh karena itu, kita susun roadmap hingga lima tahun ke depan untuk memperluas sawah dan meningkatkan produktivitas. Harapannya Kutim tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tapi juga bisa jadi lumbung pangan regional,” jelasnya, Kamis (18/9/2025).
Namun, jalan menuju swasembada tidak mudah. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan lahan yang sesuai untuk persawahan, termasuk ketersediaan jaringan irigasi. Selain itu, regenerasi petani menjadi persoalan. Banyak generasi muda enggan terjun ke dunia pertanian karena dianggap kurang menjanjikan dibanding sektor lain.
“Bukan hanya lahan, yang kita butuhkan adalah mekanisasi pertanian. Tanpa alat modern, produktivitas sulit ditingkatkan. Saat ini sebagian besar petani masih mengandalkan cara manual,” tambahnya.
Di sisi lain, para petani menyambut baik rencana perluasan sawah dan penyediaan alat modern. Para petani berharap pemerintah benar-benar konsisten menjalankan program tersebut.
“Kalau ada sawah baru dan mesin pertanian, hasil panen bisa lebih banyak. Selama ini kami masih bergantung pada tenaga manusia, tentu terbatas,” ujar Ibrahim, petani di Kecamatan Sangatta Selatan.
Selanjutnya, sebagian petani khawatir dengan masalah klasik seperti akses pupuk, harga gabah yang fluktuatif, hingga biaya produksi yang tinggi.
“Kalau lahan luas tapi pupuk langka atau harga gabah jatuh, ya tetap berat bagi petani,” sebutnya.
Dengan target 20 ribu hektare sawah baru, Kutim menaruh harapan besar pada sektor pertanian sebagai pilar ketahanan pangan. Apabila program tersebut berhasil, Kutim bukan hanya mampu menekan impor beras dari daerah lain, tapi memberi lapangan kerja baru serta menjaga stabilitas harga pangan lokal.
Pewarta: Ramlah
Editor: Yahya Yabo





