Sekolah Filial Jadi Pilihan, Cegah Anak Putus Sekolah Karena Terbatas Akses

SANGATTA – Pemerintah Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) meluncurkan strategi inovatif untuk memastikan semua anak dapat bersekolah.

Taktik jitu tersebut merupakan pendirian sekolah filial, sebuah sekolah sementara yang didirikan di lokasi terpencil untuk memangkas jarak tempuh yang selama ini menjadi penyebab utama anak putus sekolah.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menjelaskan sekolah filial hadir sebagai solusi cepat dan praktis. Selama ini, banyak orang tua di pelosok kesulitan menyekolahkan anak-anaknya karena harus menempuh jarak yang terlalu jauh.

“Karena alasan jarak dan berbagai kendala, banyak orang kesulitan menyekolahkan anaknya. Karena itu, kita maksimalkan sekolah filial,” ujar Mulyono, Jumat (3/10/2025).

Sekolah filial itu tidak dimaksudkan untuk bertahan selamanya. Menurut Mulyono, apabila sudah tersedia lahan yang memadai dan jumlah siswa mencapai minimal 60 anak, sekolah filial akan segera ditingkatkan statusnya menjadi sekolah umum atau sekolah permanen.

Komitmen Disdikbud Kutim terhadap pemerataan pendidikan telah ditunjukkan dengan pembangunan infrastruktur yang gencar dalam dua tahun sembilan bulan terakhir.

Pembangunan sekolah kini tidak lagi terpusat di perkotaan, tetapi telah menjangkau kecamatan terpencil termasuk daerah pelosok seperti Sandaran, Busang, dan Karangan.

“Pembangunan ini milik semua. Semua harus merasakan manfaatnya. Kita tidak hanya membangun di kota, tapi sampai ke pelosok juga,” tegasnya.

Upaya tersebut diperkuat dengan pendirian sejumlah sekolah baru untuk menambah daya tampung siswa. Di antaranya adalah SD 14 (Sangatta Selatan), SD 14, 15, 16, dan 17 (Sangatta Utara), SD 9 (Rantau Pulung), serta SD 20 (Bengalon). Pembangunan itu mencakup fasilitas Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sekolah swasta.

Melalui kebijakan pembangunan dan pendirian sekolah filial tersebut, Disdikbud Kutim optimistis dapat secara signifikan menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah tersebut.

“Sekarang sudah banyak perubahan. Saya yakin dua tahun lagi, wajah pendidikan Kutim akan jauh lebih maju,” pungkas Mulyono.

Pewarta: Ramlah
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI