SANGATTA – Pemerintah Kutai Timur (Kutim) mulai melangkah ke babak baru dalam upaya pemerataan listrik di wilayahnya. Tidak hanya mengandalkan jaringan PLN, Pemkab kini memanfaatkan potensi lokal limbah sawit untuk dikembangkan menjadi sumber Energi Baru Terbarukan (EBT).
Kecamatan Sandaran menjadi lokasi pertama penerapan program inovatif tersebut. Melalui kolaborasi bersama pihak swasta dan PLN, pemerintah daerah berupaya menjadikan kawasan terpencil tersebut sebagai contoh penerapan energi mandiri berbasis sumber daya lokal.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menuturkan peresmian proyek tersebut akan menjadi penanda dimulainya transformasi energi di Kutim.
“Insya Allah, nanti saya akan meresmikan listrik di salah satu desa di Kecamatan Sandaran. Satu per satu sudah mulai terealisasi secara bertahap,” ujar Ardiansyah.
Dalam tahap awal, Pemkab Kutim menggabungkan dua skema utama. Pertama, melalui pemanfaatan daya surplus dari PT Bumi Mas Agro (BMA), perusahaan sawit yang menyerahkan kelebihan pasokan listriknya untuk dikelola PLN dan disalurkan ke masyarakat sekitar.
Kedua dengan menyiapkan jalur khusus energi biodiesel sawit. Limbah dari pengolahan sawit akan diolah menjadi bahan bakar pembangkit listrik, sebagai solusi jangka panjang bagi daerah yang belum terjangkau jaringan utama.
“Kita juga siap dengan menggunakan biodiesel dari sawit. Insya Allah yang akan kami resmikan di Sandaran,” tambah Ardiansyah.
Program tersebut sekaligus memperlihatkan keseriusan Pemkab dalam mewujudkan kemandirian energi di daerah terpencil. Kutim yang sebagian besar wilayahnya masih didominasi kawasan perkebunan, dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan energi berbasis sawit.
Selain proyek di Sandaran, Ardiansyah mencatat kemajuan signifikan pada sejumlah wilayah lain. Berdasarkan laporan PLN, sekitar 9 hingga 15 desa di Kutim kini siap dialiri listrik dalam waktu dekat.
Bupati menegaskan target ideal pemerintah daerah adalah 100 persen desa di Kutim dialiri listrik. Meski pelaksanaan teknis menjadi kewenangan PLN, Pemkab terus mendorong percepatan melalui berbagai skema kerja sama.
“Mereka paham betul bahwa Kutim ini wilayahnya sangat luas, dan mereka siap memberikan pelayanan terbaik,” kata Ardiansyah.
Ia menambahkan beberapa inisiatif percepatan elektrifikasi melibatkan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Kolaborasi itu memungkinkan masyarakat di pelosok menikmati akses listrik tanpa menunggu proses panjang di tingkat pusat.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah, PLN, dan pihak swasta, Pemkab Kutim berharap setiap jengkal wilayah di Kutim dari pesisir hingga pedalaman dapat segera menikmati terang listrik yang berkelanjutan.
Pewarta: Ramlah
Editor: Yahya Yabo





