SAMARINDA – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie (RSUD AWS) akhirnya buka suara terkait tudingan adanya tidak terbukanya soal ketersediaan kamar rawat inap. Klarifikasi itu disampaikan langsung Wakil Direktur Medik dan Keperawatan RSUD AWS, Nurliana Adriati Noor, menanggapi temuan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim dan keluhan sejumlah pasien yang merasa sulit mendapatkan kamar meski rumah sakit disebut masih memiliki tempat tidur kosong.
Nana menegaskan pihaknya tidak pernah menutup-nutupi ketersediaan kamar pasien. Menurutnya ada sejumlah faktor medis dan teknis yang menyebabkan pasien harus menunggu lama di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebelum mendapatkan ruang perawatan.
“Sebelumnya kami mohon maaf kalau ada pasien atau keluarga yang merasa lama menunggu di IGD. Kami pastikan bukan karena permainan kamar, tetapi karena ada beberapa hal yang menjadi penyebab,” jelasnya.
Nana kemudian merinci beberapa kondisi yang kerap membuat pasien tampak belum bisa langsung masuk ruang rawat inap yakni
1. Kondisi pasien yang belum stabil
Setelah pasien masuk melalui IGD, Nana menuturkan berdasarkan standar yang ditetapkan pihak rumah sakit, pasien harus dalam kondisi stabil sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap sesuai dengan klasifikasi penyakit dan gendernya.
“Sebagian pasien perlu dilakukan observasi dan stabilisasi di IGD sebelum dipindahkan ke ruangan. Karena fungsi IGD memang menangani kegawatdaruratan, jadi kami mendahulukan pasien dengan prioritas tertinggi,” terangnya.
2. Pasien yang sedang dipersiapkan untuk tindakan
Beberapa pasien perlu menjalani tindakan medis segera, seperti operasi darurat, sehingga persiapannya dilakukan di IGD. Menurut Nana, hal itu merupakan prosedur dasar dalam pelayanan di IGD yang memang memerlukan waktu untuk sebelum melanjutkan prosedur medis lanjutan.
“Kalau langsung dipindahkan ke ruangan lalu dikembalikan lagi ke kamar operasi, justru bisa mengganggu stabilitas pasien,” ujarnya.
3. Perbedaan jenis kelamin dan peruntukan ruang
Menurut Nana, kamar yang tersedia tidak bisa langsung diisi karena berbeda jenis kelamin dengan pasien yang akan masuk atau karena peruntukannya tidak sesuai sehingga diperlukan penyesuaian sesuai jenis kelamin di setiap ruangan.
“Contohnya, ruang infeksius tidak bisa diisi oleh pasien non infeksius dan sebaliknya,” jelas Nana.
4. Ruang perawatan dalam tahap renovasi
Saat ini, lanjutnya beberapa ruangan di RSUD AWS tengah direnovasi sehingga kapasitas tempat tidur sementara berkurang.
“Memang perlu kita ketahui rumah sakit ini sudah beroperasional cukup lama dan gedung memerlukan renovasi untuk meningkatkan kenyamanan pasien,” ungkapnya.
5. Beban rujukan tinggi
RSUD AWS merupakan rumah sakit rujukan tertinggi di Kaltim. Akibatnya banyak pasien dari berbagai daerah seperti Kutai Kartanegara (Kukar) yang dirujuk ke Samarinda sehingga menambah kepadatan layanan.
Selain faktor tersebut, Nana menyebut adanya tidak seimbangnya antara pasien yang keluar dan yang masuk ke ruang rawat inap.
“Setiap bulan, perputaran pasien dari rawat jalan dan IGD mencapai 3.000 sampai 3.500 orang. Kadang jumlah pasien yang keluar tidak seimbang dengan yang akan masuk,” katanya.
Nana memastikan meski pasien belum mendapatkan kamar, pelayanan medis tetap berjalan maksimal di IGD.
“Kami tetap memberikan layanan terbaik meskipun pasien masih berada di IGD. Kalau kamar penuh, kami menawarkan penyesuaian kelas sementara,” tambahnya.
Sebagai contoh, pasien kelas 1 bisa sementara dirawat di ruang kelas 2 atau 3 dan sebaliknya. Setelah ada pasien yang pulang, penyesuaian kelas akan segera dilakukan sesuai hak masing-masing pasien.
“Kami terus berupaya memperbaiki sistem, termasuk dalam mekanisme rujukan dan distribusi kamar. Tidak ada niat untuk menutupi atau mempermainkan ketersediaan tempat tidur,” tegas Nana.
Sebagai langkah untuk memastikan keterbukaan jumlah tempat tidur, RSUD AWS telah menempatkan sejumlah layar yang berisikan informasi kuota yang tersedia berdasarkan ruangan secara langsung di sejumlah titik pelayanan.
Pemerintah Provinsi Kaltim sendiri telah menjadwalkan rapat evaluasi dengan manajemen rumah sakit untuk memastikan pelayanan publik tetap transparan dan akuntabel.
Pewarta: Hadi Winata
Editor: Yahya Yabo





