TENGGARONG – Gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bekotok kini tak lagi sekadar tumpukan limbah. Di balik hiruk pikuk aktivitas harian, tengah berlangsung revolusi senyap menuju sistem pengelolaan sampah modern yang lebih tertata, higienis, dan ramah lingkungan.
Setelah lebih dari tiga dekade hanya berfungsi sebagai tempat buang akhir, TPA Bekotok akhirnya bersiap meninggalkan metode lama dan beralih ke sistem baru berbasis teknologi sanitary landfill.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, Irawan, menyebut perubahan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang pengelolaan sampah di Kutai Kartanegara.
“Sekarang tidak diperkenankan lagi namanya open dumping. Kita hanya buang tanpa ada perlakuan. Dari sisi estetika, kesehatan, dari segala macam sudah dilarang,” ujarnya, Senin (13/10/2025).
Metode open dumping di mana sampah hanya ditumpuk tanpa pengelolaan telah lama menjadi sumber persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran air tanah, bau menyengat, hingga risiko kebakaran gas metana. Melalui pendekatan sanitary landfill, TPA Bekotok kini mulai ditata ulang agar lebih aman bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Sanitary landfill itu dari sisi biaya memang luar biasa besar. Kita buatkan kolam, kita buatkan membran kedap, supaya air dari sampah bisa ter-filter,” jelasnya.
Sistem baru itu menempatkan sampah dalam lapisan tanah yang ditutup setiap hari, disertai pemasangan geomembran dan saluran lindi tertutup untuk mencegah kebocoran limbah cair. Tak hanya itu, prosesnya juga dilengkapi dengan sistem ventilasi gas guna mengendalikan emisi metana yang berpotensi membahayakan.
Irawan mengakui, TPA Bekotok yang beroperasi sejak 1993 memang masih menggunakan konsep lama. Namun kini, pemerintah daerah tengah melakukan modernisasi infrastruktur agar sesuai dengan standar nasional.
“Kalau sistem control landfill itu bisa seminggu sekali kita timbun, tapi kalau sanitary landfill, tiap hari dilakukan penutupan tanah. Jadi memang butuh biaya besar,” ungkapnya.
Meski memerlukan investasi tinggi, sistem ini diyakini akan memperpanjang umur operasional TPA sekaligus melindungi air tanah dari kontaminasi. DLHK Kukar juga tengah menata ulang zona aktif dan zona lama agar penimbunan lebih efisien serta meminimalkan tumpang tindih.
“Kita ingin TPA ini rapi dulu semuanya. Kalau sudah maksimal, baru kita lanjutkan sistem penimbunan tanah penutup agar benar-benar tertata,” ujar Irawan.
Penerapan sanitary landfill menjadi bukti komitmen Pemkab Kukar dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah modern. Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, transformasi itu adalah langkah strategis menuju Kukar Hijau, di mana prinsip keberlanjutan menjadi bagian dari perencanaan daerah.
Namun, Irawan menegaskan keberhasilan sistem tersebut tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Peran masyarakat dalam mengurangi sampah dari sumbernya menjadi kunci keberlanjutan.
“Sampah itu memang perlu biaya besar untuk dikelola, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menguranginya dari sumbernya,” pungkasnya. (adv)
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo





