Sekolah di Kutim Harus Bebas Kekerasan dan Berbasis Pendekatan Restoratif

SANGATTA – Saat ini di tengah maraknya pemberitaan kasus kekerasan di lingkungan sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh proses belajar mengajar berjalan tanpa kekerasan, baik fisik maupun verbal.

Isu tersebut kembali mencuat setelah publik dihebohkan insiden di SMA Negeri 1 Cimarga, Banten, di mana seorang guru dilaporkan ke polisi karena menampar siswa yang kedapatan merokok. Meski kasus tersebut berujung damai, peristiwa itu membuka kembali perbincangan tentang pentingnya pembelajaran tanpa kekerasan di sekolah.

Berbeda dengan sejumlah daerah lain, Kutai Timur hingga kini belum pernah mencatat kasus serupa. Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan lingkungan sekolah di Kutim harus menjadi ruang aman bagi peserta didik.

“Tentu diharapkan guru-guru kita bisa menyesuaikan dengan situasi itu. Mengajar ‘kan tidak harus dengan kekerasan,” ujarnya saat ditemui, Selasa (4/11/2025).

Menurut Mulyono, hingga saat ini tidak ada laporan resmi terkait tindak kekerasan antara guru dan siswa di wilayahnya.

“Kalau di Kutai Timur sendiri rasa-rasanya hampir enggak ada. Laporan langsung ke sini juga tidak ada dan belum pernah masuk media kasus seperti itu,” tuturnya.

Ia tidak menampik pernah terjadi insiden ringan yang melibatkan guru dan siswa, namun kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan tanpa perlu melibatkan proses hukum.

“Pernah sih kecil-kecil, misalnya menyentil anak. Tapi akhirnya bisa kita selesaikan, tidak sampai muncul ke permukaan,” tambahnya.

Meski demikian, Disdikbud tetap menyiapkan langkah antisipatif apabila di kemudian hari muncul persoalan serupa. Prinsip restorative justice atau keadilan restoratif akan menjadi pendekatan utama dalam penyelesaian konflik di lingkungan pendidikan.

“Kita pasti mengupayakan solusi damai terlebih dahulu. Sekarang ini ‘kan juga ada istilah hukuman dengan restorasi, mediasi, dan penyelesaian damai. Itu yang kita kedepankan,” jelasnya.

Menurut Mulyono, rendahnya angka kekerasan di sekolah menandakan meningkatnya kesadaran para guru akan pentingnya menciptakan suasana belajar yang aman dan humanis. Namun ia mengingatkan kekhilafan tetap bisa terjadi karena faktor manusiawi.

“Guru juga manusia. Kadang ada khilafnya, tapi yang penting bisa diselesaikan dengan baik. Kita semua tentu tidak ingin ada kekerasan di sekolah,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia memastikan tidak ada keluhan dari kalangan guru terhadap kebijakan pembelajaran tanpa kekerasan. Para pendidik dinilai sudah mampu beradaptasi dengan aturan yang berlaku.

“Mungkin ada perasaan susah dalam mendidik di tengah aturan yang ketat, tapi sejauh ini tidak ada keluhan resmi. Guru-guru kita sudah bisa menyesuaikan,” pungkasnya.

Pewarta: Ramlah
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI