SAMARINDA – Di tengah hiruk pikuk kota, tersembunyi sebuah kisah perjuangan hidup yang memilukan. Mariawati (60 tahun), seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama suaminya, Slamet Riadi (59 tahun), dan kakak kandungnya, Masniah (64 tahun), di Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang, RT 014, tengah menghadapi kenyataan pahit yakni kesulitan pangan yang mencekik.
Keluarga lansia itu mengaku sudah mencapai batas kemampuan mereka dalam bertahan hidup. Slamet Riadi, suami Mariawati, adalah seorang relawan pemadam kebakaran tanpa gaji tetap, sebuah pekerjaan mulia yang ironisnya tidak menjamin kebutuhan dasar keluarganya.
“Saya sempat iri melihat beberapa warga, tetangga-tetangga saya ini dapat semua bantuan dari pemerintah, kanan kiri dapat semua, ini saya tidak dapat, ada apa? Malahan yang benar-benar membutuhkan yang tidak dapat,” tutur Mariawati dengan suara bergetar.
Puncak kesulitan itu terjadi baru-baru ini. Mariawati menceritakan momen ketika Ketua RT setempat datang dan memberikan sebakul nasi. Namun lauknya hanya tersisa satu ekor ikan yang harus mereka bagi bertiga.
“Saya makan itu sampai nangis saya, karena melihat keadaan saya seperti itu,” kenangnya.
Tragisnya lagi, saat hendak memasak ikan tersebut, gas elpiji mereka habis. Momen itu memaksa Mariawati memilih prioritas yang tidak seharusnya dihadapi.
“Gas apa beras yang harus dibeli? Betul-betul kering betul kita ini, gas tidak ada, minyak makan tidak ada, telur tidak ada, apa-apa sudah kering,” keluhnya.
Bahkan pernah keluarga itu mengalami masa dua hari tidak makan sama sekali, hanya mengonsumsi air putih, dengan satu bungkus indomie dibagi untuk tiga orang.
Untuk menyambung hidup, Mariawati hanya mengandalkan satu pekerjaan yaitu membuat ketupat. Selama lima tahun terakhir, ia sanggup membuat 100 buah ketupat per hari. Namun upahnya sangat minim, hanya Rp10.000 per 100 ketupat dan pencairannya pun tidak menentu.
“Pendapatan seminggu itu perkiraan 300-an, tetapi orang itu tidak langsung membayar 300, kadang 200, kadang 150, jadi seperti ngutang gitu,” jelasnya.
Pendapatan yang tidak pasti itu, ditambah dengan kondisi rumah yang memprihatinkan, tanpa jendela, membuat mereka basah kuyup saat hujan dan diserbu nyamuk semakin menambah derita.
Mariawati mengaku sudah mencoba mengurus bantuan ke kantor lurah, namun hanya diberi formulir yang tidak ia mengerti cara mengisinya, tanpa pendampingan. Ia merasa kecewa karena melihat orang yang lebih mampu justru mendapatkan bantuan, sementara keluarganya yang kelaparan terlewat.
Mengingat kondisi itu, Mariawati menyampaikan pesannya yang paling mendalam berharap bisa didengar langsung hingga ke tingkat tertinggi.
“Saya sempat mendengar statment-nya Pak Prabowo itu harus kena sasaran, tepat sasaran. Itu kan bagus,” ujarnya.
“Saya seperti ini semoga mengetuk hati pemerintah,” sambungnya.
Secara khusus, ia memohon bantuan kepada Wali Kota Samarinda, Andi Harun.
“Harapannya untuk Pak Walikota Andi Harun, minta tolong Pak Andi Harun minta tolong minta bantuan, modal. Yang kedua bantuan dari pemerintah, orang dapat kita juga dapat. Jadi kita itu jangan dilewatkan lah, kita ‘kan warga Indonesia,” pungkasnya penuh harap.
Mariawati dan keluarganya berharap kisah mereka dapat menjadi cermin bagi pemerintah agar proses penyaluran bantuan sosial benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo





