NUSANTARA – Bunga Rafflesia Price termasuk bunga dengan waktu mekar yang sulit ditebak. Bunga itu terbilang langka. Apabila di sebagian wilayah Indonesia, contohnya Sumatera butuh belasan tahun untuk menemukannya. Kini di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) di Kalimantan Utara, justru kerap ditemukan bermekaran.
Populasi kembang langka berukuran jumbo tersebut rupanya banyak dijumpai di sektor Krayan, terutama di Desa Pa’ Kidang, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan.
Di wilayah itu, Rafflesia Pricei bahkan tumbuh di lokasi yang berdekatan dengan permukiman masyarakat.
Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, menyampaikan meski keberadaannya relatif mudah ditemukan, namun karakter biologis Rafflesia tetap sulit diprediksi.
“Mekarnya Rafflesia Pricei tidak dapat diprediksi seperti tumbuhan pada umumnya. Berdasarkan hasil data monitoring, Rafflesia Pricei paling sering berbunga pada bulan Agustus. Namun masih perlu monitoring berkala untuk memastikan seberapa sering Rafflesia Pricei mekar,” ujarnya, Senin (24/11/2025).
Hasil pemantauan Balai TNKM menunjukkan kemunculan Rafflesia Pricei saat ini tercatat di SPTN Wilayah I Long Bawan yaitu di Desa Long Api dan Tang Paye. Lalu di SPTN Wilayah II Long Alango di Desa Rian Tubu, dan di SPTN Wilayah III Long Ampung di Desa Paliran. Monitoring paling sering dilakukan di sektor Long Bawan, termasuk di Desa Pa’ Kidang yang kini menjadi salah satu pusat ekowisata taman nasional.
Seno menambahkan masyarakat Desa Pa’ Kidang telah membentuk kelompok wisata Pa’ Kidang Makmur sebagai upaya pelestarian. Dalam mendukung upaya pengembangan ekowisata itu, Balai TNKM melakukan kegiatan pelatihan pemanduan serta memberikan bantuan sarana prasarana berupa selter dan papan informasi serta interpretasi. Balai ingin perjalanan pelestarian Rafflesia Pricei di Krayan berangkat dari pendekatan sosial dan budaya.
Kepala SPTN Wilayah I TNKM, Hery Gunawan, menjelaskan harmonisasi hubungan masyarakat dengan bunga tersebut telah mengalami perubahan besar. Ia mengungkapkan dulu Rafflesia tidak memiliki nilai khusus dalam tradisi masyarakat sekitar.
“Menurut cerita masyarakat, sebelum mengetahui bahwa Rafflesia merupakan tumbuhan langka dan dilindungi, masyarakat memanfaatkan bunga Rafflesia untuk pakan anjing ketika di dalam hutan,” ujarnya.
Kini masyarakat justru menjadi penjaga Rafflesia Pricei melalui tim monitoring di Resor Krayan dan melalui aktivitas wisata lokal. Budaya ikut bertransformasi, salah satunya replika dan gambar Rafflesia kini digunakan sebagai properti dalam tarian Dayak Lundayeh, menjadikannya simbol baru yang menghubungkan identitas adat dengan konservasi alam.
Keberadaan Rafflesia Pricei menjadi indikator lestari dan sehatnya hutan TNKM.
“Adanya Rafflesia Pricei menandakan bahwa fungsi ekologis hutan TNKM masih terjaga dengan baik. Hal tersebut dikarenakan Rafflesia merupakan tumbuhan yang sensitif terhadap gangguan,” ujar Hery.
Dinilai mengandung daya tarik wisata, TNKM membentuk kelompok monitoring khusus untuk Rafflesia Pricei agar masyarakat dapat menentukan waktu kemungkinan mekarnya bunga sehingga wisatawan memiliki peluang menyaksikan antesis (periode bunga mekar) secara langsung.
Lokasi wisata unggulan desa tersebut, Buduk Udan, berada di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Jalur pendakian menuju puncak menempuh jarak sekitar 5 kilometer. Saat perjalanan kembali, pengunjung diarahkan melewati rute yang bersinggungan langsung dengan habitat alami Rafflesia Pricei, sehingga peluang melihat bunga mekar semakin besar dalam satu titik.
TNKM yang dikelola melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, dan mitra konservasi terus mendorong pemanfaatan wisata alam berbasis perlindungan ekosistem. Seno Pramudito berharap destinasi wisata di Desa Pa’ Kidang, khususnya Buduk Udan, dapat dikembangkan dan dilestarikan sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Kami juga mengharapkan para mitra dan pemerintah daerah mendukung pengembangan destinasi wisata di Desa Pa’ Kidang ini,” pungkasnya.
Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Yahya Yabo





