Menaiki Kereta Pertama di Sulawesi Selatan: Transportasi Massal dan Proyek Lanjutan

SALAH satu transportasi yang menjadi wadah massal yakni kereta api. Kereta api, khususnya di Sulawesi Selatan masih menjadi transportasi yang baru bagi masyarakat. Transportasi massal yang baru pertama kali ada bagi masyarakat Sulawesi Selatan terlebih wilayah Barru, Pangkep, dan Maros.

Di Sulawesi Selatan, Barru termasuk yang dilalui kereta api dengan melintasi dua kabupaten lainnya yakni Pangkep dan Maros. Dalam rute yang dilalui kereta dari Barru kota hingga Maros ada 10 stasiun. Stasiunnya di Barru yakni stasiun Garongkong, Barru Kota, dan stasiun Tanete Rilau. Memasuki Pangkep ada stasiun Mandalle, stasiun Ma’rang, stasiun Labakkang, stasiun Pangkajene dan stasiun Ramang-ramang. Memasuki Maros melintasi stasiun Maros dan stasiun Mandai untuk pemberhentian terakhir. Ada beberapa stasiun di wilayah Barru dan Maros, namun belum dioperasikan. Informasinya, kereta api Sulsel akan menghubungkan Parepare ke Makassar.

Kereta api di stasiun Tanete Rilau Barru. (Yahya Yabo/Media Kaltim/RM)

3 Desember 2025 lalu, saya melakukan perjalanan dari Barru ke Makassar. Sekadar ingin mencoba menaiki kereta di Sulsel. Saya menaiki kereta melalui stasiun Tanete Rilau, Barru. Dari lokasi rumah di Kecamatan Tanete Riaja, perjalanan ke stasiun memakan waktu lebih kurang 30 menit menggunakan transportasi angkutan umum, namun angkutan umum dari Tanete Riaja cukup jarang. Saya tiba di stasiun Tanete Rilau pukul 09:45 WITA. Jadwal kereta datang pukul 10:10 WITA sesuai jadwal di tiket. Saya membeli tiket di loket, harga tiket hanya Rp10 ribu dari stasiun Tanete Rilau hingga stasiun Mandai, pemberhentian terakhir kereta. Menunggu di tempat ruang tunggu, penumpang masih sepi. Sebelumnya, uji coba kereta pada medio 2021-2022 tiket penumpang digratiskan, kemudian dinaikkan secara bertahap.

Beberapa stasiun yang dilewati. (Yahya Yabo/Media Kaltim/RM)

Setelah kereta datang, tepat waktu, pukul 10:10 WITA. Tertulis di dalam tiket yang saya punya, tujuan ke stasiun Mandai akan dilewati hingga sampai pukul 11:37 WITA. Saya dan penumpang lainnya menaiki kereta. Di dalam kereta, berjejer kursi penumpang di dalam gerbong kereta. Ada kursi prioritas bagi Lansia dan ibu hamil. Penumpang telah ramai, terlihat ada rombongan murid Taman Kanak-kanan (TK) bersama gurunya yang mungkin sedang mencoba kereta api dan memberikan gambaran pembelajaran mengenai transportasi kereta api. Dari penjelasan petugas keamanan, kereta memiliki tiga gerbong dalam satu kereta. Untuk setiap hari hanya satu kereta yang beroperasi. KA Sulsel memiliki dua kereta yang beroperasi.

Suasana dalam kereta api. (Yahya Yabo/Media Kaltim/RM)

Saat di dalam kereta, saya mengobrol bersama petugas keamanan kereta. Petugas bercerita kalau pembangunan stasiun lainnya masih terus dilakukan, namun masih terkendala pembebasan lahan warga. “Pembangunan masih berlanjut. Tapi masih menunggu pembebasan lahan. Di sini ada dua kereta yang dimiliki,” kata petugas keamanan saat saya berbincang-bincang dengannya.

Stasiun kereta mulai beroperasi terbatas pada medio 2021-2022. Dan peresmian pertamanya pada Maret 2023 yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada eranya.

Sementara, jarak tempuh kereta hanya 80 KM dari Barru ke Maros.

Keramahan petugas saat kereta melintasi stasiun. (Yahya Yabo/Media Kaltim/RM)

Adanya transportasi kereta di Sulsel, terkhusus di Barru-Maros yang saat ini beroperasi memang membantu masyarakat. Jarak tempuh waktu yang dapat dipangkas ketika menggunakan mobil dari 2,5 jam menjadi hanya lebih kurang 1,5 jam sampai Maros. Namun, semuanya perlu terintegrasi dari layanan transportasi dari dan menuju stasiun.

Pembangunan jalur KA Sulsel dibiayai melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Ada anggaran pemerintah melalui APBN dan badan usaha. Untuk rute Maros-Barru telah menghabiskan anggaran Rp9,2 triliun dengan panjang rute 80 kilometer. Sejatinya, rute Makassar-Parepare akan diselesaikan dengan panjang 145 kilometer.

Stasiun Mandai, stasiun pemberhentian terakhir di Maros. (Yahya Yabo/Media Kaltim/RM)

Sampai di stasiun Mandai, Maros, saya turun bersama dengan penumpang lainnya yang memang memiliki tujuan ke Maros atau Makassar atau hanya sekadar mencoba menaiki kereta api yang baru ada di Sulsel. Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Makassar menggunakan transportasi bus yang disediakan gratis dari dan menuju stasiun Mandai, Maros.

Masyarakat memang terbantukan dengan adanya kereta api, namun upaya memberikan layanan yang terintegrasi di setiap daerah harus didukung pemerintah terkait untuk memenuhi transportasi massal yang memadai. Kemudian, untuk lanjutan pembangunan proyek jalur kereta jangan sampai mencederai hak rakyat atas pembebasan lahan di setiap daerah.

*Penulis, Yahya Yabo
Redaktur Radar Media Network/Jurnalis Media Kaltim Network.

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI