SAMARINDA – Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) kembali menjadi sasaran hantaman tongkang batu bara pada Minggu (25/1/2026) pagi. Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kalimantan Timur mengonfirmasi adanya kerusakan signifikan pada struktur pelindung maupun pilar utama jembatan akibat insiden tersebut.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPR-Pera Kaltim, Muhammad Muhran, mengungkapkan tim teknis dan konsultan langsung diterjunkan ke lokasi sekitar pukul 10.00 WITA setelah laporan warga dan video insiden tersebut viral di media sosial.
Berdasarkan hasil investigasi lapangan, Tongkang Marine Power 3066 diketahui menghantam salah satu safety fender (pengaman pilar) saat melintas dari arah Samarinda menuju Loa Buah.
“Satu fender di posisi paling depan mengalami benturan keras. Secara visual, posisinya miring, ada retakan, dan bagian betonnya gompal atau terkelupas,” ujar Muhran saat meninjau lokasi kejadian.
Ironisnya dampak benturan tidak berhenti di alat pengaman saja. Struktur inti jembatan yakni Pilar 8 dan Pilar 9, ditemukan mengalami kerusakan berupa bekas goresan besar dan retakan akibat gesekan lambung tongkang.
Saat ini tim konsultan sedang bekerja ekstra melakukan pengukuran geometri secara detail. Fokus pemeriksaan meliputi:
Kemiringan pilar (memastikan tetap tegak lurus). Keretakan pada lantai jembatan. Kondisi expansion joint (sambungan jembatan). Stabilitas trotoar dan parapet.
Muhran menyebut insiden tersebut sangat disayangkan mengingat DPUPR-Pera baru saja merampungkan uji dinamis pekan lalu.
“Hasil uji dinamis sebelumnya hampir rampung, tapi karena ini adalah tabrakan ketiga, kami harus melakukan tinjauan ulang total terhadap kesehatan struktur jembatan,” tegasnya.
Demi menjaga keselamatan pengguna jalan, otoritas terkait masih memberlakukan pembatasan tonase di atas Jembatan Mahulu.
“Kendaraan dengan muatan di bawah 8 ton masih diizinkan melintas. Namun untuk kendaraan berat di atas 8 ton, sementara ini tidak kami rekomendasikan,” kata Muhran.
Pihak DPUPR-Pera Kaltim tidak menutup kemungkinan adanya rekayasa lalu lintas lanjutan atau bahkan penutupan total ketika hasil kajian geometri menunjukkan risiko tinggi. Saat ini, koordinasi intensif sedang dilakukan bersama KSOP dan Pelindo untuk langkah mitigasi lebih lanjut.
Kondisi di sisi Loa Buah kini menjadi perhatian serius, karena pilar di area tersebut saat ini tidak memiliki fender pelindung, sehingga sangat rentan apabila terjadi benturan susulan di masa mendatang.
Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo





