TENGGARONG – Di tengah sunyi malam Kecamatan Sangasanga, bukan hanya doa yang dipanjatkan, tetapi pesan sejarah yang diturunkan dari generasi ke generasi. Taman Makam Pahlawan (TMP) Wadah Batuah kembali menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, saat ratusan orang lintas generasi berkumpul dalam Apel Kehormatan dan Renungan Suci memperingati 79 tahun Peristiwa Merah Putih Sangasanga, Selasa (27/1/2026) dini hari.
Di bawah temaram obor dan lantunan trompet mengheningkan cipta, suasana sakral membungkus prosesi yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi edukatif dan simbolik. Makam para pejuang tidak lagi sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan ruang belajar sejarah terbuka, tempat generasi muda menyerap nilai keberanian, pengorbanan, dan nasionalisme secara langsung dari jejak perjuangan bangsanya.
Tepat pukul 00.00 WITA, prosesi dimulai. Hadir dalam kegiatan itu prajurit TNI, anggota Polri, pejabat pemerintah daerah, pelajar, serta elemen masyarakat. Apel Kehormatan dan Renungan Suci dipimpin Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara, Sunggono. Ia menegaskan peringatan itu bukan sekadar agenda tahunan, tetapi bagian dari proses pewarisan nilai perjuangan.
“Taman makam ini bukan hanya tempat mengenang, tapi tempat membangun kesadaran. Di sinilah generasi sekarang belajar bahwa kemerdekaan tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari darah, air mata, dan keberanian,” ujarnya.
TMP Wadah Batuah menyimpan kisah tragis sekaligus heroik Peristiwa Merah Putih Sangasanga 27 Januari 1947. Saat itu, rakyat Sangasanga bersama pejuang Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda (NICA) yang kembali menguasai wilayah strategis penghasil minyak bumi tersebut.
Perlawanan rakyat yang diawali dengan strategi perebutan senjata pada 26 Januari 1947 berhasil menguasai Kota Sangasanga. Namun sehari kemudian, Belanda melancarkan serangan balasan brutal. Puluhan pejuang dan warga sipil gugur dalam tragedi kemanusiaan yang hingga kini menjadi luka sejarah sekaligus simbol perlawanan.
Sebanyak satu anggota angkatan bersenjata dan 74 pejuang rakyat dimakamkan di TMP Wadah Batuah. Mereka bukan hanya nama dalam prasasti, tetapi fondasi kemerdekaan yang hari ini dinikmati generasi penerus.
Yang menarik, peringatan tahun ini memperlihatkan dominasi generasi muda dalam rangkaian kegiatan, termasuk napak tilas jalur perjuangan yang digelar sebelumnya. Anak-anak muda menyusuri rute yang dahulu dilalui para pejuang, menjadikan sejarah bukan lagi cerita buku teks, melainkan pengalaman nyata.
“Hampir seluruh peserta napak tilas adalah generasi muda. Ini bukti bahwa sejarah tidak mati. Ia hidup di langkah-langkah mereka,” kata Sunggono.
Renungan suci di Sangasanga malam itu menjadi lebih dari sekadar ziarah. Ia berubah menjadi ritual regenerasi nilai, di mana keberanian, cinta tanah air, dan kesadaran sejarah diwariskan secara simbolik dari para pejuang kepada generasi masa kini.
Di bawah langit gelap Sangasanga, doa-doa yang mengalir bukan hanya untuk mereka yang gugur, tetapi untuk masa depan bangsa, agar semangat Merah Putih tetap hidup, tidak hanya dalam upacara, tetapi dalam tindakan nyata menjaga tanah air, sumber daya, dan kedaulatan Indonesia.
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo





