Sambo Tidak Ideal Ikut Porprov 2026, Anggaran Masih Terbatas

TENGGARONG – Ketersediaan anggaran menjadi tantangan serius di tengah ambisi besar Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk meraih hasil maksimal pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur (Kaltim) 2026.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kebutuhan anggaran yang diajukan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kukar untuk menghadapi ajang olahraga tingkat provinsi tersebut mencapai Rp109 miliar. Namun di sisi lain, kemampuan anggaran Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar dalam APBD 2026 masih berada di kisaran Rp8–10 miliar.

Kondisi tersebut membuat sejumlah Cabang Olahraga (Cabor) harus menahan napas. Potensi prestasi yang besar terancam tidak tergarap optimal akibat keterbatasan anggaran pembinaan atlet.

Situasi tersebut memaksa para atlet berlatih dalam berbagai keterbatasan. Hal itu dirasakan langsung oleh cabang olahraga Sambo Kukar. Sebagai olahraga kombat yang menuntut kesiapan fisik, teknik, serta sarana latihan berstandar tinggi, Sambo Kukar kini harus berjuang dengan kondisi yang serba terbatas.

Persoalan yang dihadapi bukan hanya menyangkut target prestasi, tetapi keselamatan atlet saat menjalani latihan rutin. Sebagai cabang olahraga yang tergolong baru berkembang di Kukar, Sambo belum memiliki fasilitas penunjang latihan yang memadai.

Pelatih Sambo Kukar, Armadani, mengungkapkan dukungan anggaran yang diterima menjelang Porprov Kaltim 2026 jauh dari ideal. Dari total Rencana Anggaran Biaya (RAB) sekitar Rp400 juta, cabang olahraga Sambo hanya memperoleh persetujuan anggaran sekitar Rp88 juta.

Ironisnya anggaran tersebut sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan pertandingan, seperti seragam, sementara fasilitas utama latihan justru belum terpenuhi.

“Kami berlatih di gedung Dispora Kukar, tapi matras yang tersedia masih matras puzzle. Itu belum sesuai standar Sambo, terutama untuk latihan bantingan yang berisiko tinggi,” ujar Armadani, Rabu (28/1/2026).

Menurutnya ketiadaan matras khusus Sambo bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menyangkut aspek keselamatan atlet. Latihan bantingan dengan intensitas tinggi sangat berisiko apabila dilakukan tanpa perlindungan yang memadai, sehingga program latihan terpaksa dibatasi.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pola pembinaan jangka panjang. Tahapan latihan umum yang seharusnya menjadi fondasi pembentukan fisik dan teknik atlet tidak dapat dijalankan secara maksimal. Bahkan kebutuhan dasar atlet seperti vitamin dan suplemen penunjang latihan terpaksa dikesampingkan.

“Kita latihan di matras tipis. Jelas kami tidak bisa latihan bantingan dengan tenaga 100 persen karena itu membahayakan atlet,” sebutnya.

Armadani menjelaskan keterbatasan anggaran tidak lepas dari kebijakan pembagian dana yang harus mengakomodasi banyak induk organisasi olahraga di Kukar. Akibatnya setiap cabang olahraga hanya menerima porsi anggaran yang relatif kecil termasuk Sambo.

Padahal pada Porprov Kaltim 2026 mendatang, Sambo Kukar direncanakan menurunkan 24 atlet, seiring adanya penambahan empat kelas pertandingan. Apabila ditambah ofisial dan pelatih, total kontingen Sambo Kukar mencapai 31 orang yang tentu membutuhkan persiapan matang dan berkelanjutan.

Sebagai cabang olahraga yang relatif baru berkembang di Kukar, Sambo sejatinya menunjukkan prospek prestasi yang menjanjikan. Atlet Sambo Kukar bahkan mampu menyumbangkan satu medali perak pada PON Aceh, sementara di tingkat nasional, cabang olahraga tersebut telah mencatatkan raihan medali lengkap. Termasuk mendalami emas pada PON Beladiri di Kudus.

“Target prestasi sebenarnya bisa tinggi. Kami pernah diminta target 15 emas dan kami siap, asal persiapan dan dukungan anggarannya maksimal. Pembinaan atlet itu tidak bisa instan,” tegas Armadani.

Selain persoalan sarana dan anggaran, ia menyoroti belum adanya kejelasan terkait pelaksanaan Training Camp (TC) yang tercantum dalam program kerja. Menurutnya pemusatan latihan merupakan elemen krusial untuk meningkatkan kesiapan fisik dan mental atlet menjelang ajang sebesar Porprov.

“Di atas kertas memang ada program TC, tapi sampai sekarang belum jelas realisasinya. Padahal itu sangat menentukan kesiapan atlet kami,” pungkasnya.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI