Omzet Penjualan Buah Meningkat Selama Ramadan 2026 di Kukar

TENGGARONG – Bulan Suci Ramadan kembali menghadirkan berkah tersendiri bagi pedagang buah. Menjelang sore kios Sejati Buah milik Mikko yang beralamat di Jalan Danau Aji, Tenggarong, selalu tampak lebih hidup dari bulan-bulan biasanya.

Pada bagian depan kios, tumpukan semangka berderet di bagian depan, sebagian sudah dibelah untuk menunjukkan daging merahnya yang segar. Buah lain seperti jeruk, melon dan anggur tidak kalah mencuri perhatian, sengaja disusukan rapi agar menggoda pengunjung untuk mencicipinya saat berbuka.

Bagi Mikko, bulan puasa selalu menjadi momentum yang dinanti. Permintaan meningkat, pembeli datang lebih ramai, dan suasana pasar terasa berbeda dibanding bulan biasa. Ia mengaku bersyukur setiap kali Ramadan tiba.

“Pasti lebih rame bulan puasa. Kalau tidak hujan, pembeli datang terus,” ujarnya.

Ia menuturkan buah yang paling banyak dicari masyarakat selama Ramadan adalah semangka. Disusul melon, alpukat, mangga, dan buah naga. Buah-buahan itu umumnya digunakan sebagai campuran es dan jus untuk berbuka.

“Semangka itu yang paling dicari orang. Kalau bulan puasa hampir pasti habis lebih cepat,” timpalnya.

Seiring dengan tingginya permintaan, harga sejumlah komoditas buah mengalami kenaikan, namun tidak terlalu tinggi. Semangka yang biasanya dijual sekitar Rp10 ribu per kilogram kini menjadi Rp12 ribu. Buah naga dari kisaran Rp20 ribu naik menjadi Rp25 ribu. Alpukat dan anggur ikut bergerak naik mengikuti pola musiman.

“Rata-rata memang naik kalau Ramadan sampai mendekati Idulfitri, tapi tidak sampai melonjak jauh,” ujar Mikko.

Ia menceritakan Semangka yang ia jual didatangkan dari Kota Bangun dan Tanah Merah. Selama pasokan lancar, harga masih relatif stabil meski permintaan meningkat. Ia menyebut lonjakan harga lebih dipengaruhi oleh tingginya konsumsi masyarakat selama puasa.

Selain buah segar, kurma menjadi pembeda utama antara Ramadan dan hari biasa. Stok diperbanyak dengan variasi harga mulai dari sekitar Rp33 ribu per kilogram hingga ratusan ribu rupiah untuk jenis premium seperti mejol.

Di tengah keramaian itu, ada komoditas yang justru kosong, seperti pepaya yang diduga terdampak gagal panen. Namun kondisi tersebut tidak terlalu memengaruhi penjualan secara keseluruhan.

Bagi Mikko, Ramadan bukan hanya tentang peningkatan omzet. Ia melihatnya sebagai momentum kebersamaan dan perputaran ekonomi kecil yang menghidupi banyak orang. Setiap sore, saat pembeli datang membawa senyum dan kantong belanja penuh buah, ia merasakan suasana yang berbeda.

Ramadan menghadirkan rasa syukur yang sederhana bagi pedagang kecil. Di balik tumpukan semangka yang cepat berkurang, ada harapan agar musim ramai seperti itu terus berlanjut hingga Idulfitri.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI