Dugaan Gagal Panen, Pepaya Hilang di Pasar Tenggarong

TENGGARONG – Pepaya menghilang dari sejumlah lapak buah di Tenggarong sejak awal Ramadan. Di kios Sejati Buah, Jalan Danau Aji, komoditas yang biasanya menjadi pelengkap tersebut tidak lagi terlihat. Pedagang menduga kekosongan terjadi akibat gagal panen di tingkat pemasok.

Sejak beberapa pekan terakhir, pasokan pepaya disebut kerap tidak datang. Kondisi itu tidak hanya dialami satu pedagang, tetapi dirasakan di sejumlah kios lain di sekitar pasar.

Mikko, pedagang Sejati Buah, mengakui komoditas itu memang tidak tersedia di kiosnya tahun ini.

“Pepaya itu memang enggak prioritas. Kadang jualan, kadang enggak,” ujarnya.

Biasanya pepaya datang dari pemasok yang langsung mengantar ke kios. Jumlahnya tidak banyak dan hanya menjadi pelengkap di antara buah utama seperti semangka, melon, dan buah naga. Namun dalam beberapa pekan terakhir, pengiriman kerap kosong.

“Kayaknya gagal panen itu,” kata Mikko.

Ia tidak mengambil pepaya langsung dari sentra produksi. Ketergantungan pada pemasok membuat stok sepenuhnya bergantung pada ketersediaan di tingkat petani. Ketika pemasok tidak datang, lapak otomatis tanpa pepaya.

Fenomena itu tidak hanya terjadi di satu kios. Sejumlah pedagang lain di sekitar pasar mengaku stok pepaya menipis. Beberapa menyebut cuaca yang tidak menentu memengaruhi produksi di kebun. Curah hujan tinggi dapat menyebabkan buah mudah busuk sebelum panen, sementara musim kering ekstrem berdampak pada kualitas dan ukuran buah.

Meski begitu, absennya pepaya tidak terlalu mengguncang penjualan selama Ramadan. Permintaan masyarakat lebih terkonsentrasi pada buah untuk campuran es dan jus.

“Yang paling dicari itu semangka, melon, buah naga,” ujar Mikko.

Pepaya selama ini memang lebih sering dibeli sebagai buah potong atau konsumsi langsung, bukan sebagai bahan utama minuman berbuka. Dalam momentum Ramadan, pola belanja cenderung berubah. Pembeli berburu buah yang menyegarkan dan mudah diolah dalam jumlah besar.

Namun di sisi lain, kosongnya pepaya memperlihatkan rapuhnya rantai distribusi komoditas hortikultura skala kecil. Ketika terjadi gangguan produksi di tingkat petani, dampaknya langsung terasa di pasar tradisional. Pedagang kecil yang tidak memiliki akses langsung ke sentra produksi menjadi pihak yang paling terdampak.

Meski tanpa pepaya, Ramadan tetap menjadi musim ramai bagi pedagang buah di Tenggarong. Keramaian pembeli menjelang magrib menutup kekosongan satu dua komoditas. Namun ruang kosong di lapak itu menjadi pengingat stabilitas pasokan tidak selalu terjamin.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI