Leduman Jantur, Dentuman yang Mengalir Bersama Waktu dan Generasi

SENJA Ramadan di Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai, selalu ditandai suara dentuman berat yang menggulung di atas aliran Sungai Mahakam. Bukan azan yang pertama terdengar, melainkan ledakan khas dari Leduman—meriam kayu raksasa yang selama lebih dari 50 tahun menjadi penanda waktu berbuka puasa bagi warga tepian sungai.

Tradisi yang juga dikenal sebagai Laduman ini lahir dari kebutuhan sederhana masyarakat di masa lalu, ketika akses informasi sangat terbatas. Desa yang jauh dari pusat kecamatan membuat warga kesulitan mengetahui waktu magrib secara pasti.

“Budaya ini sudah lebih 50 tahun. Dulu desa terpencil, tidak ada radio, tidak ada jam. Orang sering ketinggalan waktu berbuka,” tutur Muhriadi, tokoh agama sekaligus panitia pembuat Leduman.

Hal senada ia ungkapkan mengenai latar belakang munculnya tradisi tersebut.

“Dulu itu karena Jantur itu jauh, dari kecamatan saja sangat jauh. Jadi karena semua melaksanakan ibadah puasa, waktu itu banyak kendala untuk mengetahui masuknya waktu berbuka. Maka masyarakat bermusyawarah membuat Laduman,” ungkap Muhriadi.

Leduman Jantur di Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai. (Foto: Istimewa)

Menggema ke Hulu dan Hilir

Leduman dibuat sepasang, diarahkan ke hulu dan hilir sungai agar suaranya menjangkau seluruh wilayah. Dentumannya berat dan bergema, memantul di permukaan air hingga terdengar sampai Kecamatan Muara Muntai ke arah hilir, bahkan hingga Penyinggahan di Kutai Barat ke arah hulu.

“Makanya dibuat dua arah. Supaya semua dengar,” ujar Muhriadi.

Tahun 1447 Hijriah/2026 ini menjadi momen istimewa. Jika biasanya hanya dua meriam kayu yang dibunyikan, kali ini jumlahnya bertambah menjadi tiga.

“Tahun ini tiga Leduman. Kalau biasanya dua, ini tiga. Karena ternyata pas dicoba Leduman dari tahun lalu masih bisa dipakai,” sebutnya.

Satu meriam merupakan peninggalan tahun sebelumnya yang masih layak pakai, sementara dua lainnya dibuat baru melalui gotong royong warga.

Leduman Desa Jantur (Sumber: Tokoh Agama Desa Jantur)

 

Dibuat dari Nangka Air, Dikerjakan Gotong Royong

Leduman bukan meriam biasa. Bahan bakunya harus dari pohon nangka air berdiameter besar, bahkan bisa mencapai 80 sentimeter hingga lebih dari satu meter, dengan panjang sekitar 6–8 meter.

“Kayu nangka air yang tua dicari karena harus besar untuk bisa dibelah jadi dua, nanti dikerok di dalamnya dibuat jalur untuk arah meletupnya Laduman. Panjangnya sekitar 6-7 meter,” jelasnya.

Batang kayu dibelah, bagian tengahnya dikeruk hingga membentuk rongga besar, lalu disatukan kembali. Sambungan dilapisi ambal atau karpet dan dikunci menggunakan potongan drum besi agar kedap udara. Proses ini memakan waktu sekitar 10 hari, melibatkan 10 hingga 30 warga yang bekerja selepas aktivitas utama mereka.

Biaya pembuatan bisa mencapai Rp20 juta, berasal dari iuran masyarakat per RT. Dana tersebut mencakup pencarian kayu, pengerjaan, hingga operasional selama Ramadan.

Untuk membunyikannya, panitia memasukkan karbit dan air ke dalam rongga kayu sekitar 15 menit sebelum magrib. Reaksi kimia menghasilkan gas yang kemudian disulut, memunculkan dentuman yang dinanti anak-anak dan warga sebelum berbuka.

Tantangan Bahan Baku dan Keamanan

Meski teknologi komunikasi kini semakin canggih, warga tetap mempertahankan Leduman sebagai simbol kebersamaan dan identitas budaya. Tradisi ini bahkan hanya sekali terhenti, yakni saat pandemi Covid-19. Ketika itu sempat digunakan sirene, namun suaranya tidak menjangkau jauh sehingga warga sepakat kembali ke meriam kayu.

Namun, tantangan kini datang dari ketersediaan bahan baku. Pohon nangka air semakin sulit ditemukan. Panitia bahkan harus menyusuri Sungai Mahakam hingga wilayah Muara Pahu dan Muara Kedang di Kutai Barat untuk mendapatkannya.

Meski dentumannya menggelegar, aspek keamanan tetap dijaga ketat. Bahan peledak disimpan khusus oleh panitia yang ditunjuk agar tidak digunakan sembarangan.

Di tengah modernisasi, Leduman Jantur tetap berdiri sebagai warisan turun-temurun. Dentumannya bukan sekadar penanda berbuka, melainkan gema solidaritas, gotong royong, dan identitas masyarakat tepian Mahakam yang terus dijaga lintas generasi. (Tim MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI