Lorong Cahaya di Tenggarong, Semarakkan Kisah Kampung Ramadan 1.000 Lampu

LANGIT senja belum sepenuhnya turun ketika Jalan Ruwan di Tenggarong perlahan berubah wajah. Dari arah musala hingga ujung gang, cahaya lampu berkelip, membentuk lorong terang yang memantul di aspal basah sisa hujan. Anak-anak berlarian kecil, tawa mereka bersahutan, sementara orang tua berdiri di teras menikmati pemandangan yang tak biasa.
Inilah Kampung Ramadan 1.000 Lampu, tradisi swadaya warga RT 3 yang kini memasuki tahun keenam.

Ketua RT 3, Faidil Fasha, menyebut gagasan itu lahir dari keinginan sederhana, menghadirkan Ramadan yang terasa lebih hidup di lingkungan mereka.

“Awalnya kami hanya ingin suasana Ramadan di kampung terasa lebih hidup,” ujar Faidil, Senin (23/2/2026).

Keinginan itu tumbuh menjadi gerakan kolektif. Dari dekorasi sederhana di tahun pertama, kini sekitar 1.000 unit lampu menghiasi sepanjang jalan. Tahun ini, konsep Kampung Seribu Lampu Ramadan dipilih untuk mempertegas identitas kawasan tersebut sebagai titik cahaya di tengah permukiman.

Bukan sekadar memasang lampu, warga juga merancang ornamen secara kreatif. Botol suplemen, wadah makanan siap saji, hingga piring plastik bekas disulap menjadi hiasan dan kaligrafi. Rangka menggunakan pipa paralon, sementara kain dekorasi dibeli seperlunya untuk menekan pengeluaran.

“Hampir semua memanfaatkan barang yang ada. Hanya lampu dan kabel yang dibeli baru,” jelas Faidil.

Persiapan dilakukan sekitar dua bulan. Warga RT 2 dan RT 3 terlibat sejak tahap desain hingga instalasi listrik. Tantangan terbesar datang dari cuaca. Hujan kerap membuat lampu kemasukan air dan padam.

Dari pengalaman tahun lalu, warga belajar memasang lampu terbalik agar air tidak mudah masuk. Kini, tingkat kerusakan lampu dapat ditekan drastis. Setiap malam, ribuan cahaya tetap bersinar, menerangi jalan, rumah, dan hati yang melewati lorong itu.
Pendanaan sepenuhnya berasal dari iuran warga, dengan biaya mencapai puluhan juta rupiah untuk komponen listrik. Tak jarang, warga rela menyambungkan instalasi dari rumah masing-masing agar seluruh lampu menyala serentak.

Lampu-lampu akan tetap bersinar hingga tujuh hari setelah Idulfitri, sebelum akhirnya dibongkar bersama-sama. Momen pembongkaran tak kalah hangat dibanding proses pemasangan: tawa, cerita, dan kebersamaan terasa utuh, seolah mengabadikan semangat Ramadan yang lahir dari gotong-royong.

Ke depan, warga berencana membuka sayembara tema agar masyarakat luar bisa ikut menyumbangkan ide. Bagi Faidil dan warga, Kampung 1000 Lampu bukan sekadar dekorasi musiman. Ia adalah simbol kebersamaan, gotong-royong, dan cahaya yang menerangi Ramadan dari lorong-lorong kampung hingga hati warganya. (Tim MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI