Buka Puasa “Dibayar” dengan Doa, Menjadi Jalan Berbagi dan Kebersamaan Ramadan di Balikpapan

MENJELANG azan Maghrib, halaman sebuah ruko di kawasan Balikpapan Baru yang berbatasan dengan Balikpapan Utara, berubah menjadi lautan antrean warga. Sejak hari pertama Ramadan, lokasi ini tidak pernah sepi. Pengemudi ojek daring, tukang sapu, hingga warga yang melintas, berhenti untuk berbuka bersama.

Di meja-meja sederhana tersaji aneka takjil gratis. Ada donat, tahu isi, bakwan, dan tiga butir kurma untuk membatalkan puasa. Begitu salat Maghrib selesai, panitia kembali membagikan makanan berat, bahkan kambing guling, yang bisa dinikmati tanpa dipungut biaya. Syaratnya sederhana, hanya dibayar dengan doa.

Ketua panitia kegiatan, Gianto, mengatakan program “Buka Puasa Dibayar dengan Doa” tahun ini memasuki tahun kelima penyelenggaraan. Kegiatan tersebut terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Suasana antrean mengambil takjil berbuka puasa. (Foto: Istimewa)

“Ini untuk semua masyarakat, dan semuanya gratis,” ujarnya.

Program ini lahir dari kepedulian komunitas terhadap pengemudi ojek online di masa pemulihan ekonomi pascapandemi. Seiring waktu, kegiatan ini berkembang, menarik perhatian warga umum yang ingin merasakan kebersamaan.

“Awalnya itu habis Covid-19. Tapi sekarang berkembang, masyarakat umum juga ikut hadir dan menikmati buka puasa bersama,” jelasnya.

Pada Ramadan tahun ini, panitia menargetkan pembagian 700-800 porsi makanan setiap hari. Jumlah itu diperkirakan bisa bertambah, mengingat dukungan dari berbagai komunitas dan relawan terus mengalir.

“Alhamdulillah sudah berjalan hari keempat dan makin ramai. Semoga menjadi berkah untuk kita semua dan memotivasi teman-teman lain di Balikpapan untuk mengadakan kegiatan serupa. Ramadan ini momen luar biasa, waktunya kita panen kebaikan,” tambahnya.

Ia juga menyebut, dukungan tahun ini justru mengalami peningkatan dibanding sebelumnya. “Insya Allah porsinya juga akan kami tambah karena semakin banyak yang ikut support,” tegasnya.

Kegiatan ini pun disambut antusias warga. Susanti, warga Balikpapan Utara, mengaku bersyukur bisa berbuka puasa di lokasi tersebut saat sedang melintas bersama saudaranya.

“Cukup bayar doa saja. Tadi baca doa Al Ikhlas dan An-Nas,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Bayu, salah seorang pengemudi ojek online. Ia mengaku senang bisa berbuka bersama rekan-rekannya.

“Kita buka bersama teman-teman ojol lainnya juga. Baca doa Al-Fatihah, ada juga doa-doa pendek,” katanya.

Meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih, semangat berbagi tetap menyala. Kegiatan sosial ini berjalan lancar berkat gotong royong dan partisipasi banyak pihak, menghadirkan kehangatan dan kebersamaan di tengah masyarakat Balikpapan.

Di Balikpapan Baru inilah, doa menjadi “mata uang” Ramadan, mengingatkan bahwa kebaikan dan kebersamaan tidak selalu dihitung dari uang, tapi dari hati yang tulus. (Tim MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI