Rasa Tradisi, Aroma Kebersamaan: Bubur Nusantara Mengisi Hati Ramadan di IKN

KEHENINGAN langit senja mulai merayap di langit ibu kota Nusantara. Di Masjid Negara IKN, aroma gurih mengundang siapa pun yang melintas. Dari dapur kecil, uap hangat bubur rempah Nusantara naik, berpadu dengan wangi santan dan rempah khas Kalimantan Timur.

Takjil yang sederhana namun penuh makna ini siap dinikmati, membawa tradisi bubur Peca dari Samarinda Seberang ke tengah buka puasa bersama di kota baru yang sedang tumbuh.

Di meja-meja yang tersusun rapi, setiap porsi bubur dibubuhi kurma dan segelas air mineral. Tapi bukan sekadar sajian, yang terasa adalah hangatnya kebersamaan dan toleransi. Pegawai Muslim dan non-Muslim, dari Buddha hingga Kristen dan Katolik, bekerja berdampingan menata takjil, memastikan setiap orang bisa berbuka dengan nikmat.

Aroma bubur Nusantara itu pun seolah menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya soal puasa, tetapi juga tentang persaudaraan, budaya, dan hati yang diterangi oleh kearifan lokal.

Bubur Nusantara yang disajikan di Masjid Negara IKN, olahannya sedikit berbeda. Meski bahan utamanya tetap sama, namun campurannya ada yang lain dari biasanya. Tapi rasanya tak bisa dimungkiri, tetap nikmat dan gurih saat disantap.

Bubur kaya rempah dengan kentalnya rasa daging kornet ini, jadi andalan menu takjil buka puasa di Masjid Negara IKN. (Foto: Atmaja/Media Kaltim)

Yeni, yang pernah tinggal di Donghwa, Penajam Paser Utara, menjadi juru masak utama. Bersama dua rekannya, ia menyiapkan 600 porsi setiap hari, menggunakan bahan-bahan segar seperti beras, santan, dan kornet sapi berbumbu rempah Nusantara.

“Bubur rempah Nusantara ini dari bahan-bahan bergizi, antara lain kornet sapi. Bubur ini juga tanpa bahan pengawet,” jelas Yeni di selasar Masjid Negara IKN, Sabtu (21/2/2026).

Sore pukul 16.11 Wita, bubur mulai dikemas oleh beberapa ASN Otorita IKN. Troli makanan membawa setiap porsi ke lantai dua Masjid Negara, disusun shaf demi shaf untuk buka puasa bersama. Setiap langkah dipenuhi kesigapan dan ketelitian agar setiap pengunjung mendapat sajian hangat.

“Masaknya kita hanya 3 orang,” tuturnya.

Deputi Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, mengungkap bukber di masjid ini Otorita mencoba mentradisikan sebuah kearifan lokal yang ada di Kaltim, bubur Baqa seperti yang biasa disajikan di Samarinda seberang.

“Sebenarnya itu adalah bubur peca, kita bawa ke sini (IKN) ternyata antusias. Masyarakat suka. Ada beberapa warga lokal yang saya suruh belajar (membuat bubur) itu,” sebut Deputi.

Yang menarik, proses penyajian melibatkan pegawai non-Muslim bersama pegawai Muslim, bekerja berdampingan menata meja, menyiapkan takjil, dan memastikan buka puasa berjalan lancar.

“Pegawai-pegawai kita yang non-muslim itu baik yang Buddha, kemudian yang Kristen, Katolik, bersama-sama menyiapkan menu takjil dengan teman-teman muslim yang melaksanakan puasa,” ungkapnya.

Di tengah hiruk-pikuk ibu kota baru, aroma bubur rempah Nusantara dan kebersamaan yang tercipta mengingatkan bahwa tradisi lokal bisa hidup harmonis, menyatukan budaya, rasa, dan hati dalam satu Ramadan.

Setiap suap bubur bukan sekadar mengisi perut, tapi juga menghangatkan jiwa, mengingatkan bahwa Ramadan adalah momen untuk berbagi, menghargai, dan menumbuhkan rasa toleransi.

Bubur Rempah Nusantara di Masjid Negara IKN menjadi bukti nyata bahwa tradisi lokal bisa merangkul semua, menjadikan puasa lebih dari sekadar menahan lapar, tetapi juga mempererat persaudaraan lintas budaya dan agama. (Tim MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI