SENJA baru saja turun di Menteng. Cahaya keemasan memantul di dinding putih bangunan tua bergaya kolonial, sementara langkah-langkah tergesa mulai memenuhi pelataran. Di antara gedung-gedung bersejarah dan lalu lintas ibu kota yang tak pernah benar-benar sepi, Masjid Cut Meutia kembali menjadi magnet Ramadan dengan menghadirkan ruang hangat bagi siapa saja yang ingin pulang, meski hanya untuk beberapa jam.
Aroma takjil menyeruak dari sudut halaman. Ratusan kotak makanan tertata rapi. Remaja berseragam panitia hilir mudik, memastikan air mineral dan kurma tersedia di setiap saf. Sementara itu, para pekerja kantoran dengan tas masih tersampir di bahu duduk berdampingan dengan mahasiswa, ojek daring, hingga keluarga muda yang membawa anak kecil. Ramadan di sini terasa egaliter tanpa sekat.
Kantor Arsitek Menjadi Rumah Ibadah
Tak banyak masjid di Jakarta yang memiliki kisah arsitektural seunik ini. Bangunan yang kini menjadi Masjid Cut Meutia awalnya adalah kantor arsitek Belanda pada awal abad ke-20, dirancang dalam gaya New Indies Style. Fasadnya tegas dengan jendela-jendela lengkung besar dan pilar kokoh khas kolonial.
Karena bukan dirancang sebagai masjid sejak awal, tata ruangnya tidak sepenuhnya sejajar dengan arah kiblat. Namun justru di situlah letak daya tariknya sejarah yang beradaptasi, bangunan yang menemukan makna baru seiring waktu.
Di bulan Ramadan, nilai historis itu seakan menyatu dengan denyut spiritualitas modern. Lantunan azan menggema dari bangunan kolonial, menghadirkan pertemuan antara masa lalu dan masa kini dalam satu tarikan napas.
Setiap sore, ratusan jemaah memadati halaman dan ruang utama untuk berbuka puasa bersama, dilanjutkan salat tarawih yang kerap terisi penuh hingga ke saf paling belakang.
Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) menjadi tulang punggung kegiatan. Mereka bukan sekadar panitia teknis, tetapi penggerak semangat. Dari kajian pukul dua siang, tausiah menjelang tarawih, hingga sahur bersama. Semuanya dirancang agar Ramadan terasa hidup sepanjang hari.
“Selama Ramadan ini masjid Cut Meutia mengadakan buka bersama dan sahur bersama. Tak hanya itu, juga ada kajian jam 2 siang sama tausiah sebelum salat tarawih,” ujar Dion perwakilan dari RICMA.
Beberapa tokoh nasional turut mengisi agenda Ramadan tahun ini. Prof. Mahfud MD telah hadir memberikan kajian, dan dalam waktu dekat kultum dijadwalkan akan diisi oleh Sandiaga Uno. Kehadiran figur publik ini bukan sekadar simbol, tetapi magnet yang memperluas jangkauan dakwah ke generasi muda perkotaan.
“Belum lama ini sih ada Prof Mahfud MD dan InsyaAllah besok itu ada Pak Sandiaga Uno,” katanya.
Setiap hari panitia membagikan sekitar 600 hingga 1.000 porsi takjil gratis, dengan penyesuaian jumlah saat akhir pekan karena mempertimbangkan ritme kerja jemaah.
“Weekend porsi lebih sedikit sih, karena menyesuaikan orang kerja pada libur. Alhamdulillah setiap hari jemaah selalu banyak yang datang untuk berbuka puasa bersama. Salat tarawih juga full sampai belakang,” jelas Dion.

Lebih dari Sekadar Ibadah
Di barisan saf menjelang Maghrib, Rudy salah seorang pengunjung duduk bersila. Ia seorang pekerja yang merantau ke Jakarta. Baginya, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat pulang.
“Sepulang kerja saya sering mampir ke sini untuk berbuka bersama gratis yang disediakan panitia. Sangat membantu bagi perantau seperti saya,” katanya.
Rudy mengaku merasakan Ramadan yang “hidup” di sini. Ia melihat berbagai latar belakang masyarakat melebur tanpa jarak. Tidak ada yang merasa asing.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana masjid di pusat kota bisa menjadi simpul sosial ruang aman bagi pekerja, mahasiswa, hingga mereka yang mungkin hanya singgah sementara di ibu kota.
“Saya lihat sih di sini Ramadan sangat hidup, masyarakat dari berbagai kalangan tumpah ruah di masjid Cut Meutia untuk berbuka maupun menjalankan salat tarawih bersama,” ujarnya.
Rudy berharap kegiatan semacam ini terus berlanjut setiap tahunnya. Ia juga berharap banyak masjid lain untuk mengadopsi konsep Masjid Cut Meutia yang dianggap berhasil menghidupkan bulan suci Ramadan.
“Harapannya kegiatan seperti ini semoga terus ada di setiap Ramadan dan juga bisa ditularkan di masjid-masjid lain,” katanya.
Benar saja, ketika tarawih dimulai, saf-saf kembali terisi penuh. Suara imam menggema, menyapu ruang berkubah tinggi. Di luar, beberapa jemaah yang terlambat datang tetap khusyuk mengikuti salat dari pelataran.
Ramadan di sini bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang rasa memiliki. Tentang bagaimana sebuah bangunan kolonial bisa berubah menjadi ruang spiritual yang inklusif. Tentang bagaimana generasi muda mengambil peran, memastikan tradisi terus menyala.
Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang serba cepat, Masjid Cut Meutia menghadirkan jeda. Sebuah ruang di mana sejarah, seni, dan spiritualitas bertemu dalam satu harmoni.
Dari ribuan takjil yang dibagikan setiap hari hingga lantunan doa yang mengalun setiap malam, Ramadan di jantung Menteng ini membuktikan satu hal: di kota sebesar dan sesibuk Jakarta, kehangatan masih punya tempat untuk tumbuh—dan masjid tua ini menjaganya tetap menyala.

Ketika Jazz dan Doa Berjalan Seiring
Yang membuat Ramadan di Masjid Cut Meutia semakin berbeda adalah keberanian merangkul seni modern tanpa meninggalkan nilai religius. Pekan depan, masjid ini kembali menggelar Ramadan Jazz Festival 2026 bertema “Harmoni Untuk Negeri”.
Festival tahunan ini telah menjadi ikon tersendiri. Musik jazz yang lembut berpadu dengan pesan-pesan spiritual, menghadirkan wajah Islam yang ramah dan terbuka. Anak muda datang bukan hanya untuk menikmati musik, tetapi juga merayakan kebersamaan dalam bingkai kebangsaan.
Di tengah perdebatan soal batas seni dan religiusitas, Masjid Cut Meutia justru memilih jalan dialog dengan menghadirkan harmoni, bukan dikotomi. (Tim MK)





