Masjid At Taubah Hapus Stigma Lama Kawasan Keras Kota Tambang

WAKTU memang mampu mengubah wajah sebuah kawasan. Hal itu terlihat jelas di kawasan Sangatta Lama, wilayah yang kini perlahan meninggalkan stigma masa lalu yang keras dan penuh gejolak sosial. Di tengah kawasan yang dulu dikenal sebagai pusat aktivitas malam, berdiri Masjid At Taubah Sangatta, menjadi saksi perjalanan transformasi sosial masyarakat setempat.

Masjid yang berdiri sejak 1977 itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga simbol perubahan moral dan sosial. Nama “At Taubah” sendiri mengandung pesan yang kuat, ruang bagi siapa pun untuk kembali, memperbaiki diri, dan memulai kehidupan yang lebih baik.

Sebelum berdiri masjid, lokasi tersebut hanyalah lapangan sepak bola di sekitar Pasar Sangatta Lama. Perubahan mulai terjadi ketika geliat ekonomi wilayah ini meningkat seiring masuknya industri migas yang mendorong arus migrasi pekerja dari berbagai daerah.

“Awalnya cuma lapangan bola. Setelah banyak pendatang masuk karena perusahaan migas, daerah ini berkembang. Dari situ dibangunlah masjid yang dulu namanya Masjid Raya Sangatta,” ujarnya kepada Media Kaltim, Sabtu (28/2/2026).

Perkembangan ekonomi membawa konsekuensi sosial. Pertumbuhan penduduk yang cepat ikut memicu munculnya berbagai aktivitas yang pada masa itu dianggap problematik.

Tokoh masyarakat sekaligus salah satu pendiri masjid, H Sutiman, mengisahkan bahwa Sangatta Lama pada masa lalu memiliki reputasi sebagai kawasan dengan tingkat konflik sosial yang cukup tinggi.

Perkelahian antar warga disebut kerap terjadi, bahkan tidak jarang berujung pada korban jiwa. Di sisi lain, aktivitas perjudian, konsumsi minuman keras, hingga praktik prostitusi berkembang di tengah komunitas pekerja pendatang yang menetap di kawasan tersebut.

“Kondisi saat itu tidak mudah. Banyak pendatang masuk karena perusahaan migas. Dari situ, kawasan ini berkembang, tapi juga membawa berbagai persoalan sosial,” ujar H Sutiman.

Empat Tokoh di Balik Pendirian Masjid

Pendirian masjid ini tidak lepas dari peran empat tokoh masyarakat, yaitu H Sutiman, Dani, Ibud, dan Syahran. Mereka membangun rumah ibadah tersebut di tengah lingkungan sosial yang kompleks.

Menurut H Sutiman, masjid awalnya bernama Masjid Raya Sangatta sebelum kemudian berubah menjadi Masjid At Taubah. Pergantian nama bukan sekadar administrasi, melainkan mengandung makna dakwah sosial.

Imam masjid sekaligus salah satu pendiri ingin menjadikan rumah ibadah itu sebagai ruang spiritual bagi masyarakat yang ingin meninggalkan kehidupan malam.

Nama “At Taubah” dipilih untuk mengajak warga sekitar yang masih terlibat dalam aktivitas dunia malam agar mulai memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Bukan hanya karena banyak yang bertaubat di sini. Imam masjid sekaligus pendirinya memang ingin mengajak warga sekitar yang masih hidup di dunia malam untuk segera bertaubat. Akhirnya namanya diganti jadi Masjid At Taubah,” jelas H Sutiman

Seiring waktu, fungsi masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan sosial masyarakat Sangatta Lama.

Fenomena menarik terjadi dalam perjalanan sejarah masjid ini. Beberapa warga yang sebelumnya terlibat dalam aktivitas malam perlahan memilih meninggalkan kebiasaan lama dan mulai aktif mengikuti kegiatan keagamaan.

Masjid menjadi tempat harapan baru bagi masyarakat yang ingin memulai kehidupan berbeda. Hal itu menjadikan Masjid At Taubah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang rekonstruksi sosial di tengah perubahan kota tambang.

Kini, bangunan masjid seluas sekitar 200 meter persegi tersebut telah mengalami beberapa renovasi. Meski demikian, karakter bangunan lama tetap dipertahankan sebagai bagian dari sejarah kawasan.

Aktivitas ibadah tetap berjalan seperti biasa. Jemaah yang datang tidak hanya berasal dari Desa Pasar Raya, tetapi juga dari wilayah lain seperti Sangatta Utara hingga Sangkima.

Ramadan menjadi periode paling hidup di masjid ini. Suasana sore menjelang berbuka puasa menghadirkan pemandangan yang khas.

Warga berdatangan membawa makanan untuk berbuka bersama. Tradisi ini berkembang secara alami sebagai bentuk solidaritas sosial masyarakat.

Setiap hari selama Ramadan, sekitar 150 orang berbuka puasa bersama di masjid. Kegiatan biasanya diawali dengan pengajian sore, dilanjutkan dengan berbuka bersama, lalu salat magrib berjamaah.

Menurut H Sutiman, kegiatan Ramadan menjadi momentum kebersamaan lintas usia. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa hadir memanfaatkan ruang sosial yang tersedia.

“Ramadan selalu ramai. Banyak yang datang antar makanan. Anak-anak sampai orang dewasa ikut berbuka di sini,” tambah H Sutiman yang rumahnya tak jauh dari masjid.

Tokoh Masyarakat sekaligus Salah Satu Pendiri Masjid At Taubah, H Sutiman yang ditemui di kedia-
mannya.

Harapan Menjaga Jejak Spiritualitas Kota Tambang

Lebih dari empat dekade berdiri, Masjid At Taubah tetap memegang peran sebagai ruang ketenangan di tengah dinamika kota tambang yang terus berkembang.

H Sutiman berharap masjid tersebut terus menjadi rumah bagi siapa pun yang ingin berubah dan memperbaiki diri.

Menurutnya, perubahan wajah Sangatta Lama tidak boleh melupakan sejarah sosial yang membentuk kawasan tersebut. Diharapkan, Masjid At Taubah terus menjadi tempat pulang bagi siapa pun yang ingin berubah.

“Dulu tempat ini dikenal keras. Sekarang alhamdulillah sudah jauh berbeda. Harapan kami, masjid ini tetap jadi tempat orang memperbaiki diri dan mencari ketenangan,” tutupnya. (Tim MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI