BERAU – Komisi II DPRD Berau mendorong optimalisasi pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kabupaten Berau agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dorongan tersebut disampaikan Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman, menyusul masih ditemukannya sejumlah RTH yang dinilai belum produktif dan minim aktivitas.
Menurut Sakirman, pembangunan fisik RTH di beberapa titik sudah tergolong baik dari sisi infrastruktur. Namun, ia menilai upaya tersebut belum diimbangi dengan strategi pengelolaan yang matang dan berkelanjutan.
“Persoalannya bukan pada kurangnya pembangunan fisik, melainkan absennya strategi pengelolaan. Sayang sekali jika sudah dibangun, namun tidak dirawat dan tidak dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya, Rabu, (4/3/2026).
Ia mengungkapkan sejumlah fasilitas seperti taman kota dan ruang publik terbuka terlihat kurang terawat serta jarang dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat. Padahal RTH seharusnya menjadi ruang publik yang hidup, menjadi pusat interaksi sosial, aktivitas olahraga, seni budaya, hingga ruang pemberdayaan ekonomi warga.
Menurutnya konsep RTH modern tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota atau elemen estetika, tetapi sebagai ruang inklusif yang mampu menumbuhkan aktivitas produktif. Oleh karena itu, Sakirman mendorong pemerintah daerah untuk menggandeng berbagai unsur masyarakat dalam pengelolaan RTH.
Pelibatan pelaku UMKM, komunitas olahraga, komunitas seni, hingga kelompok edukasi dinilai dapat menghadirkan kegiatan rutin yang berkelanjutan. Misalnya senam bersama, pentas seni akhir pekan, bazar UMKM, kelas literasi terbuka, hingga kegiatan komunitas anak dan remaja.
“Untuk menghidupkan RTH, pemerintah perlu melibatkan masyarakat. Dengan begitu, ruang terbuka hijau tidak hanya menjadi pemanis kota, tetapi benar-benar dimanfaatkan,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya pengawasan dan perawatan berkala terhadap fasilitas yang ada. Keamanan, kebersihan, serta kelayakan sarana seperti bangku taman, penerangan, dan area bermain anak harus dipastikan agar warga merasa nyaman beraktivitas.
“Pengawasan dan perawatan berkala juga perlu dipastikan agar area RTH tetap aman dan nyaman,” tuturnya.
Lebih jauh, ia berharap pembangunan RTH ke depan tidak berhenti pada penyelesaian proyek fisik semata, melainkan disertai dengan konsep keberlanjutan yang jelas, termasuk perencanaan anggaran pemeliharaan serta pola pengelolaan jangka panjang.
Sakirman menilai tanpa perencanaan keberlanjutan, pembangunan RTH berisiko menjadi pemborosan anggaran. Padahal apabila dikelola secara optimal, RTH dapat menjadi investasi sosial dan lingkungan yang berdampak luas, mulai dari peningkatan kualitas hidup warga hingga penguatan ekonomi lokal.
“RTH harus menjadi investasi keberlanjutan. RTH harus hidup, dimanfaatkan, dan berdampak bagi masyarakat. Kalau hanya dibangun tanpa konsep keberlanjutan, itu pemborosan,” jelasnya. (adv)
Pewarta: Aril
Editor: Yahya Yabo





