BERAU – Peluang penguatan kemandirian ekonomi kampung di Kabupaten Berau kembali terbuka melalui rencana pengembangan komoditas kelapa dan kakao.
Program tersebut semakin menjanjikan setelah adanya peluang bantuan bibit seluas 200 hektare dari Kementerian Pertanian yang dapat dimanfaatkan oleh kampung-kampung di daerah tersebut.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Berau, Arman Nofriansyah, meminta para kepala kampung untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Ia menilai bantuan bibit yang ditawarkan pemerintah pusat merupakan peluang nyata untuk meningkatkan sektor pertanian sekaligus mendongkrak pendapatan masyarakat di tingkat kampung.
“Jika ini bisa terealisasi, ini akan menjadi peluang bagi petani di Kabupaten Berau,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Menurut Arman, komoditas kelapa saat ini memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan. Harga jualnya relatif stabil dan permintaannya terus ada di pasar.
Ia menyebutkan berdasarkan komunikasi dengan para penampung, harga kelapa di luar bulan Ramadan berkisar antara Rp6.000 hingga Rp7.000 per butir, bahkan berpotensi lebih tinggi tergantung kualitas dan kondisi pasar.
“Kalau ditanam sekarang, tiga tahun mendatang kampung sudah bisa menikmati hasilnya. Ini kesempatan nyata untuk meningkatkan pendapatan asli kampung,” jelasnya.
Arman menambahkan jenis kelapa yang dinilai paling cocok untuk dikembangkan adalah kelapa genjah atau kelapa etok. Varietas itu memiliki masa panen yang relatif lebih cepat yakni sekitar tiga tahun setelah ditanam.
Selain itu, pohon kelapa genjah tidak tumbuh terlalu tinggi dan menghasilkan buah berukuran besar, sehingga memudahkan petani dalam proses perawatan maupun panen.
“Jenis ini sangat cocok karena petani tidak perlu menunggu terlalu lama untuk panen. Perawatannya juga lebih mudah,” katanya.
Namun, ia menekankan keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada proses penanaman saja. Pemerintah perlu menyiapkan sistem pemasaran yang baik agar hasil panen petani dapat terserap pasar dengan harga yang stabil.
“Tinggal pemerintah menyiapkan pasar yang bagus dan harga yang stabil,” tambahnya.
Lebih jauh, Arman mendorong masyarakat kampung untuk tidak hanya menjual kelapa dalam bentuk mentah. Ia menilai pengembangan sektor hilir perlu diperkuat agar komoditas tersebut memiliki nilai tambah.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengolah kelapa menjadi kopra maupun produk turunan lainnya yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kalau hanya menjual kelapa utuh, nilai tambahnya masih terbatas. Tapi kalau diolah menjadi kopra atau produk lain, hasilnya bisa lebih besar,” ujarnya.
Selain kelapa, komoditas kakao dinilai memiliki prospek yang tidak kalah menjanjikan. Komoditas itu dikenal memiliki pasar yang relatif stabil dan sebagian besar produksinya berorientasi ekspor.
Melalui dukungan bibit unggul dari pemerintah serta ketersediaan lahan di sejumlah kampung, kakao dinilai berpotensi menjadi salah satu sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Arman berharap para kepala kampung dapat benar-benar serius memanfaatkan peluang bantuan tersebut. Menurutnya program pemerintah akan berjalan optimal apabila didukung dengan kesiapan lahan, komitmen pengelolaan, serta partisipasi aktif masyarakat.
“Kami berharap kepala kampung benar-benar serius memanfaatkan bantuan ini. Jangan sampai sudah ada program dan lahan, tetapi tidak dioptimalkan,” ungkapnya. (adv)
Pewarta: Aril
Editor: Yahya Yabo





