TENGGARONG – Masuki pekan ke tiga Ramadan, harga cabai rawit merah di Kutai Kartanegara (Kukar) terpantau mengalami penurun dari yang sebelumnya sempat menembus harga Rp90.000 per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp75.000 per kilogram.
Penurun harga cabai itu terungkap saat Tim Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan turun langsung memantau harga bahan pokok di Pasar Gerbang Raja Mangkurawang, Tenggarong, Jumat (6/3/2026).
Dari hasil pemantauan tersebut, sebagian besar komoditas pangan terpantau masih berada pada kondisi stabil. Bahkan beberapa bahan pokok mengalami penurunan harga dibandingkan pekan sebelumnya.
Ketua Tim Kerja Stabilitas Pasokan Pangan pada Badan Pangan Nasional (Bapanas), Yudhi Harsatriadi Sandyatma, mengatakan pihaknya meninjau langsung sejumlah komoditas utama yang menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari.
“Pantauan kami hari ini (Jumat) untuk komoditas seperti beras, telur, ayam, daging ayam, daging sapi, bawang merah, bawang putih, cabai rawit merah, dan cabai merah keriting, hampir semuanya relatif stabil. Bahkan ada beberapa yang mengalami penurunan harga,” ujarnya.
Dari hasil pantauan, harga telur ayam masih berada di kisaran Rp55.000 per piring. Harga beras dan gula tercatat stabil, dengan gula dijual sekitar Rp17.500 per kilogram di tingkat pedagang.
Yudhi menjelaskan kondisi harga yang relatif stabil tersebut merupakan hasil pengawasan rutin yang dilakukan Satgas terhadap pasokan dan pergerakan harga pangan di daerah.
Ia menuturkan Satgas Sapu Bersih sebenarnya bertugas sepanjang tahun yakni sejak 1 Januari hingga 31 Desember 2026. Namun menjelang Ramadan dan Idulfitri, pengawasan diperketat guna memastikan ketersediaan serta kestabilan harga bahan pokok di pasar.
“Kami melakukan pengawalan penuh selama dua bulan, baik sebelum lebaran hingga pasca lebaran, di seluruh provinsi dari Sabang sampai Merauke,” jelasnya.
Meski secara umum harga komoditas masih terkendali, tim di lapangan menemukan satu hingga dua pedagang yang menjual beras premium di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Sementara harga beras medium masih berada dalam batas ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
Menurut Yudhi, harga beras premium yang melebihi HET dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain biaya distribusi serta harga dari sumber pasokan yang sudah mendekati batas harga tertinggi.
“Sementara ini kami masih melakukan sosialisasi dan peneguran kepada pedagang. Jika pada kunjungan berikutnya masih ditemukan pelanggaran, tentu akan ada tindakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap ketersediaan bahan pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri. Pemerintah memastikan pasokan pangan di wilayah Kalimantan masih mencukupi.
Selain itu, pemerintah mendapat dukungan dari Perum Bulog yang memiliki cadangan sejumlah komoditas strategis, khususnya beras.
“Untuk beras sendiri stoknya cukup aman, bahkan memiliki ketahanan sekitar tiga sampai lima bulan ke depan. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir atau melakukan panic buying,” katanya.
Sebagai tambahan informasi, Satgas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan sendiri terdiri dari berbagai unsur kementerian dan lembaga di antaranya Badan Pangan Nasional, Polda Kaltim, Dinas Pangan dan Pertanian Provinsi Kaltim, Dinas Perdagangan, Dinas Perizinan, serta pemerintah daerah di tingkat kabupaten, termasuk Kukar.
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo





