BERAU – Fenomena kenakalan remaja yang belakangan mencuat di tengah masyarakat menjadi perhatian serius DPRD Kabupaten Berau.
Berbagai perilaku menyimpang yang melibatkan kalangan remaja dinilai tidak dapat dianggap sebagai persoalan sepele, karena berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda di daerah.
Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menegaskan persoalan tersebut harus disikapi secara komprehensif oleh semua pihak. Menurutnya perubahan sosial yang berlangsung cepat, terutama akibat perkembangan teknologi dan media sosial, turut memengaruhi pola perilaku remaja saat ini.
Ia menilai derasnya arus informasi yang tidak selalu tersaring, ditambah pengaruh lingkungan pergaulan, membuat remaja berada dalam situasi yang cukup rentan. Tanpa pengawasan serta pendampingan yang memadai dari orang tua maupun lingkungan sekitar, mereka dapat dengan mudah terjerumus pada perilaku negatif.
“Pergaulan yang tidak terkontrol bisa menghancurkan masa depan anak-anak kita. Ini bukan hanya soal citra, tapi soal masa depan generasi Berau,” ujar Sumadi, Sabtu (7/3/2026).
Ia menjelaskan kenakalan remaja sering kali muncul dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari kurangnya perhatian keluarga, pengaruh teman sebaya, hingga lemahnya kontrol sosial di lingkungan tempat tinggal. Kondisi tersebut diperparah dengan kemudahan akses terhadap berbagai konten di media sosial yang belum tentu sesuai dengan usia remaja.
Menurut Sumadi upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan melalui teguran atau sanksi. Pendekatan yang lebih mendasar perlu dilakukan, terutama melalui pendidikan karakter yang konsisten baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Sumadi menilai pembentukan karakter sejak dini menjadi fondasi penting agar anak memiliki nilai moral dan tanggung jawab yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan di masa remaja.
Ia mengingatkan kenakalan remaja dapat membawa konsekuensi yang panjang. Apabila tidak ditangani sejak awal, perilaku menyimpang tersebut berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih serius, seperti keterlibatan dalam penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga tindak kriminal.
“Dampaknya bukan hanya pada perilaku sosial, tetapi juga bisa memengaruhi prestasi belajar dan masa depan pendidikan mereka,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk arah perkembangan anak. Kehadiran orang tua, menurutnya tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan materi, tetapi membangun komunikasi yang terbuka dan hubungan emosional yang kuat.
“Kita tidak bisa hanya menyalahkan anak. Orang tua juga harus hadir, membangun komunikasi yang terbuka dan menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bercerita,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sumadi menyebut kedekatan emosional antara orang tua dan anak dapat menjadi benteng utama dalam mencegah remaja mencari pelarian di luar rumah. Ketika anak merasa didengar dan dihargai, mereka cenderung lebih terbuka dalam menyampaikan masalah yang dihadapi.
Selain peran keluarga, ia mendorong adanya kerja sama yang lebih erat antara sekolah, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan, serta pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan remaja.
Menurutnya pembinaan kegiatan positif seperti olahraga, seni, hingga kegiatan kepemudaan perlu terus diperkuat agar remaja memiliki ruang untuk menyalurkan energi dan kreativitas mereka secara produktif.
“Generasi muda adalah aset daerah. Kalau hari ini kita abai, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan Berau,” jelas Sumadi. (adv)
Pewarta: Aril
Editor: Yahya Yabo





