SAMARINDA – Proyek ambisius terowongan Samarinda yang menelan anggaran ratusan miliar rupiah kembali menuai sorotan tajam. Kali ini kekhawatiran datang dari lingkungan pendidikan. Komisi III DPRD Samarinda menerima laporan terkait air limpasan dari area inlet terowongan di Jalan Sultan Alimuddin mulai mengancam fasilitas SMP Negeri 9 Samarinda.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengungkapkan posisi sekolah yang berada tepat di bawah sisi inlet membuat risiko air langsung menerjang bangunan sekolah saat intensitas hujan tinggi. Ia mendesak adanya langkah preventif segera agar proses belajar mengajar tidak terganggu.
“Kami sudah sampaikan ke Dinas PUPR untuk memastikan dibuat drainase tambahan dari sisi inlet. Jangan sampai air itu justru masuk ke fasilitas sekolah maupun pemukiman warga di sana,” tegas Deni
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Samarinda, Darmadi, berjanji akan segera menerjunkan tim untuk mengecek kondisi lapangan dan berkoordinasi dengan pelaksana proyek terowongan.
Menurutnya langkah jangka pendek yang bisa dilakukan adalah normalisasi saluran yang sudah ada.
“Mungkin sementara kalau memang karena salurannya kotor, bisa dibersihkan dulu,” ujar Darmadi
Meski mengklaim sistem drainase sebenarnya sudah masuk dalam perencanaan awal untuk mengatasi banjir di kawasan tersebut, Darmadi mengakui penanganan teknis lanjutan tetap harus berbenturan dengan keadaan keuangan daerah.
“Salurannya sebenarnya sudah ada, tinggal menyesuaikan kembali dengan rencana teknis dan juga ketersediaan anggaran kita,” sebutnya.
Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo





