BERAU – Kabupaten Berau dikenal memiliki beragam kekayaan sumber daya alam, mulai dari sektor pariwisata hingga perkebunan.
Salah satu potensi yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan adalah kopi lokal khas Berau yang dinilai memiliki karakter rasa unik dan berpotensi menjadi komoditas unggulan daerah.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman, menilai pengelolaan komoditas kopi di daerah masih membutuhkan perhatian yang lebih terarah, terutama dalam penguatan kelembagaan petani agar pengembangannya dapat berjalan lebih optimal.
“Pengembangan kopi lokal ini perlu perhatian kita bersama. Komoditas ini bisa membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya para petani di wilayah kampung,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).
Menurut Sakirman, sejumlah wilayah di Kabupaten Berau telah dikenal memiliki kopi dengan cita rasa khas yang berbeda dengan daerah lain. Hal tersebut dinilai menjadi modal penting bagi daerah untuk memperkenalkan kopi lokal ke pasar yang lebih luas.
“Ini menjadi modal penting bagi daerah untuk mengembangkan produk kopi lokal agar lebih dikenal luas. Potensinya cukup besar, tinggal bagaimana kita mengelolanya secara serius agar bisa berkembang,” katanya.
Meski begitu, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang dihadapi para petani kopi di Berau. Salah satu yang paling mendasar adalah belum terbentuknya kelompok tani yang kuat di beberapa wilayah penghasil kopi.
Padahal, menurutnya keberadaan kelompok tani sangat penting sebagai wadah koordinasi para petani sekaligus menjadi syarat utama untuk mendapatkan pembinaan, pelatihan, maupun bantuan dari pemerintah.
Karena itu, Sakirman mendorong para petani kopi di Berau untuk mulai membentuk kelompok tani agar lebih mudah mendapatkan pendampingan dari pemerintah daerah. Dengan adanya kelompok tani yang terorganisir, program pengembangan komoditas kopi dapat dijalankan secara lebih terarah.
“Peran kelompok tani sangat penting agar pemerintah juga lebih mudah memberikan bantuan dan pembinaan kepada para petani,” jelasnya.
Selain penguatan kelembagaan petani, Sakirman menekankan pentingnya dukungan sarana dan prasarana produksi bagi para petani kopi. Dukungan tersebut meliputi penyediaan peralatan pengolahan kopi, fasilitas pengeringan, hingga peralatan roasting atau sangrai biji kopi.
Menurutnya dukungan fasilitas tersebut akan membantu meningkatkan kualitas produk kopi lokal sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Saat ini sejumlah kedai kopi di Kabupaten Berau masih harus mendatangkan biji kopi dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan usaha mereka. Kondisi tersebut justru menunjukkan adanya peluang pasar yang cukup besar bagi petani kopi lokal.
Apabila produksi kopi lokal dapat ditingkatkan, kebutuhan pasar di Berau berpotensi dipenuhi dari hasil perkebunan sendiri tanpa harus bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Kalau produksi lokal bisa ditingkatkan, tentu akan membantu perekonomian petani sekaligus mengurangi ketergantungan dari luar daerah,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat terus mendorong pengembangan kopi Berau melalui program pembinaan yang berkelanjutan, mulai dari peningkatan kualitas budidaya hingga penguatan pemasaran produk kopi lokal.
Menurutnya dengan dukungan yang tepat serta kolaborasi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha, kopi Berau memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi komoditas unggulan daerah di masa mendatang.
“Jika dikelola dengan baik, kopi Berau bisa menjadi komoditas yang menjanjikan ke depan,” sebutnya. (adv)
Pewarta: Aril
Editor: Yahya Yabo





