Anyaman Ketupat dan Nafas Tradisi di Samarinda Seberang

HUJAN baru saja reda ketika langkah kaki memasuki lorong-lorong sempit di Samarinda Seberang, Sabtu (14/3/2026) sore. Jarum jam menunjuk sekitar pukul 16.00 Wita lewat sedikit. Jalanan kayu yang membelah Kampung Ketupat masih basah mengilap, memantulkan sisa cahaya langit yang mulai meredup menuju petang.

Di sela papan-papan ulin yang lembap, air Sungai Mahakam yang mengalir tenang memantulkan bayangan rumah panggung dan kabel listrik yang menggantung rendah.

Aroma khas sehabis hujan bercampur dengan bau kayu basah, tanah yang baru tersiram, serta wangi tipis asap dapur dari rumah-rumah warga yang mulai menyiapkan hidangan berbuka puasa.

Di sebuah rumah sederhana yang menghadap gang kayu itu, Ibu Darmi duduk bersila di teras. Di sampingnya, tumpukan daun nipah yang telah dibersihkan tersusun rapi. Jemarinya bergerak pelan namun teratur. Melipat, menyilangkan, menyelipkan, lalu menarik daun hingga membentuk rongga kecil persegi, wadah yang kelak diisi beras dan direbus menjadi ketupat untuk hari raya.

Gerakan itu berulang tanpa ragu, seperti pekerjaan yang telah lama menyatu dengan tubuhnya. Tidak ada kesan terburu-buru. Meski pesanan menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah mulai ramai, ritme tangannya tetap tenang, seolah setiap anyaman punya waktunya sendiri untuk lahir.

“Sudah lebih dari 10 tahun, mungkin mau 20 tahun juga,” ujarnya pelan, nyaris tanpa mengangkat wajah dari anyaman yang sedang dikerjakan.

Di Kampung Ketupat, pekerjaan seperti yang dilakukan Ibu Darmi bukan hal asing. Permukiman di Samarinda Seberang ini telah lama dikenal sebagai sentra pembuatan anyaman ketupat, terutama menjelang Idulfitri. Setiap Ramadan, aktivitas warga meningkat karena pesanan datang dari berbagai wilayah Samarinda hingga daerah sekitar.

Bagi Ibu Darmi, pekerjaan menganyam ketupat sebenarnya sudah dikenalnya sejak lama. Namun bentuk anyaman yang kini ia kerjakan justru dipelajarinya setelah menetap di kampung tersebut dari warga Banjar yang lebih dulu tinggal di sana.

“Kalau di sini bentuknya kotak, gampang ditiru,” katanya.

Dari tangannya, bentuk kotak kecil itu seolah lahir tanpa hitungan. Ia tak lagi perlu mengingat urutan lipatan. Semua bergerak otomatis, seperti ingatan yang tertanam di ujung jemari.

Meski terlihat sederhana, proses pembuatan ketupat sebenarnya cukup panjang. Bahan utama berupa daun nipah tidak mudah diperoleh di dalam kota. Daun tersebut didatangkan dari kawasan empang di daerah pesisir yang membutuhkan perjalanan sekitar tiga hingga empat jam sebelum sampai ke tangan para perajin.

Setelah tiba, daun nipah harus dibersihkan dari lidi, dibelah bagian luarnya, kemudian dijemur agar cukup lentur saat dianyam.

“Buang lidi dulu, baru dijemur, baru dibikin,” ujarnya.

Proses itu membutuhkan ketelitian. Satu kesalahan kecil saja dapat membuat bentuk ketupat tidak rapat atau miring ketika diisi beras.

Namun bagi para perajin di Kampung Ketupat, pekerjaan tersebut telah menjadi rutinitas yang dijalani bertahun-tahun.

Menjelang Lebaran, permintaan anyaman ketupat meningkat tajam. Pesanan datang dari pedagang pasar, rumah makan, hingga warga yang ingin menyiapkan ketupat sendiri di rumah.

Ibu Darmi mengatakan, dalam sehari ia biasanya menargetkan sekitar 300 anyaman ketupat. Jika anaknya ikut membantu, jumlah itu bisa mencapai 500 buah.

Perubahan harga juga terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Ia masih mengingat masa ketika satu ikat ketupat hanya dijual sekitar Rp7 ribu. Kini, harga satu ikat ukuran standar mencapai sekitar Rp50 ribu, sedangkan ukuran besar bisa mencapai Rp70 ribu.

Kenaikan harga tersebut terutama dipengaruhi oleh mahalnya bahan baku daun nipah.

“Daunnya sekarang mahal juga ke pasar,” katanya lagi.

Namun usia dan pekerjaan rumah membuat target itu tak selalu mudah dipenuhi. Kadang ia berhenti sejenak untuk membereskan dapur, mencuci, atau sekadar beristirahat.

“Kalau capek berhenti, nanti lanjut lagi,” katanya sambil tersenyum tipis.

Beberapa pelanggan bahkan memesan hingga ratusan sampai seribu buah ketupat ukuran kecil. Namun harga yang diterapkan sering kali berbeda antara pelanggan lama dan pembeli baru.

“Kalau langganan beda harganya,” ujarnya.

Senyum itu muncul ringan, tanpa nada mengeluh.

Sejak suaminya meninggal 7 tahun lalu, ketupat menjadi salah satu penyangga hidup yang paling setia. Ia tak lagi memiliki pekerjaan lain selain mengandalkan anyaman daun yang dikerjakan dari hari ke hari.

“Alhamdulillah, dari ketupat ini bisa untuk hidup,” tuturnya singkat.

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada dramatis. Justru kesederhanaannya terasa lebih kuat.

Di kampung yang namanya kini dikenal luas sebagai sentra ketupat itu, hidup berjalan dengan cara-cara kecil seperti milik Ibu Darmi: tenang, berulang, tetapi tak pernah benar-benar berhenti.

Sore makin turun. Jalan kayu di depan rumah masih memantulkan kilap air hujan. Suara anak-anak mulai terdengar dari ujung gang. Dari dapur rumah sebelah, aroma bawang goreng mengalir pelan bersama angin lembap.

Sementara itu, di teras rumahnya, Ibu Darmi tetap menunduk pada anyaman yang belum selesai. Satu ketupat selesai, lalu satu lagi lahir.

Di tangannya, daun-daun nipah itu bukan hanya wadah beras untuk hari raya. Ia juga menjelma pengingat bahwa tradisi, seperti hidup, sering kali bertahan justru lewat pekerjaan yang tampak paling sederhana dikerjakan pelan, sore demi sore, bahkan setelah hujan reda. (Tim MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI