LEBARAN di Sangatta, Kutai Timur (Kutim), tak hanya identik dengan silaturahmi. Di kota yang dihuni masyarakat dari berbagai penjuru nusantara ini, Hari Raya Idulfitri juga menghadirkan ragam cita rasa khas daerah yang tersaji di meja makan warga.
Sejak beberapa hari menjelang Lebaran, aroma rempah mulai tercium dari dapur-dapur rumah warga. Setiap keluarga menyiapkan hidangan khas daerah asalnya, menjadikan perayaan hari raya di kota tambang ini terasa seperti pertemuan berbagai tradisi kuliner Nusantara.
Di rumah warga Bugis, misalnya, hidangan buras hampir selalu hadir saat Lebaran. Makanan yang terbuat dari beras dan santan ini biasanya disantap bersama lauk khas seperti bebek palekko atau rica-rica ayam yang kaya rempah.
Warga Bugis di Sangatta, Nina Raditya, mengatakan bebek palekko selalu menjadi menu utama di rumahnya setiap Idulfitri. Tradisi itu sudah diwariskan turun-temurun dalam keluarganya.
“Kalau Lebaran di rumah pasti ada buras dan bebek palekko. Itu sudah tradisi keluarga sejak dulu,” ujarnya.
Sementara itu, keluarga Jawa juga memiliki hidangan khas yang hampir selalu hadir saat Lebaran, yakni ketupat dan opor ayam. Menu tersebut biasanya disajikan kepada tamu yang datang bersilaturahmi setelah Salat Idulfitri.
Salah seorang warga Sangatta, Dewi Sulastri, mengaku ketupat dan opor ayam selalu menjadi hidangan wajib di keluarganya saat Lebaran.
“Kalau Lebaran rasanya belum lengkap kalau tidak ada ketupat dan opor ayam,” katanya.
Tak kalah khas, masyarakat Banjar juga memiliki hidangan yang selalu hadir saat hari raya, yakni masakan habang. Hidangan berkuah merah dengan cita rasa manis gurih itu biasanya disajikan bersama ketupat atau lontong.
Salah seorang warga Banjar di Sangatta, Fatinah, mengatakan masakan habang sudah menjadi menu wajib di keluarganya setiap Lebaran.
“Setiap Lebaran pasti ada masakan habang di meja makan. Itu sudah tradisi dari dulu,” ujarnya.
Selain itu, warga asal Palembang juga turut menghadirkan hidangan khas daerahnya. Pempek sering menjadi sajian tambahan yang disuguhkan kepada tamu yang datang berkunjung.
Keberagaman hidangan tersebut membuat suasana Lebaran di Sangatta terasa lebih berwarna. Dalam satu rumah, tamu bisa menemukan berbagai menu khas dari daerah yang berbeda.
Tradisi saling berkunjung dari rumah ke rumah saat Lebaran pun semakin memperkaya suasana. Warga tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga mencicipi berbagai hidangan khas dari latar budaya yang berbeda.
Di kota yang dihuni masyarakat dari berbagai penjuru nusantara ini, Lebaran menjadi momen yang mempertemukan beragam tradisi dalam satu kebersamaan. Ragam hidangan yang tersaji di meja makan menjadi simbol bagaimana keberagaman dapat menyatu dalam suasana hari raya.
“Di Sangatta ini banyak suku, jadi makanan Lebaran juga macam-macam. Justru itu yang bikin suasana Lebaran terasa lebih ramai dan hangat,” ujar Dewi Sulastri. (Tim MK)





