SAMARINDA – Progres pembangunan jalan penghubung Kutai Barat (Kubar) menuju Mahakam Ulu (Mahulu) terus menunjukkan perkembangan signifikan. Proyek strategis tersebut menjadi salah satu prioritas Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam membuka terisolasinya wilayah pedalaman sekaligus meningkatkan konektivitas antar daerah.
Pembangunan infrastruktur tersebut menjadi sorotan Pemerintah Provinsi Kaltim saat rombongan Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, melakukan perjalanan menuju Kabupaten Mahakam Ulu beberapa waktu lalu.
Saat di konfirmasi pada saat acara Open House di rumah jabatan Wakil Gubernur, Minggu (22/3/2026), Seno bercerita rombongan yang dipimpinnya bergerak dari Kutai Barat menuju ibu kota Mahulu, Ujoh Bilang dengan menempuh perjalanan darat sejauh kurang lebih 136 kilometer. Perjalanan dari Tering hingga Ujoh Bilang tersebut melintasi ruas jalan yang penanganannya melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi hingga pemerintah kabupaten.
Dalam kesempatan itu, Seno Aji mengungkapkan dari total panjang jalan sekitar 136 kilometer, progres pekerjaan saat ini telah mencapai hampir 90 kilometer. Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) guna mempercepat penyelesaian.
“Sisanya sekitar 40 kilometer lagi, di mana 27 kilometer dikerjakan tahun ini oleh BPJN dan ditargetkan selesai akhir 2026,” ujarnya.
Berdasarkan pemaparan BPJN, penanganan ruas jalan tersebut dibagi dalam beberapa segmen. Ruas kilometer 0 hingga 10 ditangani melalui anggaran APBN, kemudian kilometer 10 hingga 41 menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Kaltim melalui APBD.
Selanjutnya ruas kilometer 41 hingga 117 kembali ditangani pemerintah pusat melalui APBN, sementara kilometer 117 hingga 136 menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu.
Selain itu, BPJN memaparkan rencana penanganan lanjutan pada tahun anggaran 2026. Terdapat tiga paket (bucket) anggaran masing-masing sekitar Rp30 miliar yang dialokasikan untuk memperbaiki sekitar 7,6 kilometer ruas jalan yang masih membutuhkan penanganan.
Tidak hanya fokus pada peningkatan kualitas jalan, pemerintah merencanakan penanganan tujuh titik rawan longsor di jalur Kutai Barat–Mahakam Ulu dengan total anggaran sekitar Rp18 miliar. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan keamanan serta kelancaran mobilitas masyarakat.
Seno Aji menegaskan pembangunan ruas jalan itu tidak hanya berfokus pada pembukaan akses, tetapi peningkatan kualitas konstruksi agar tahan terhadap kondisi geografis dan cuaca ekstrem. Untuk sisa sekitar 13 kilometer yang belum tertangani, pengerjaan akan dilanjutkan pada 2027 dengan kombinasi aspal dan rigid beton.
Menurutnya keberadaan jalan yang layak dan dapat dilalui sepanjang tahun sangat penting bagi masyarakat Mahakam Ulu yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses transportasi.
“Mahakam Ulu merupakan wilayah strategis di perbatasan, sehingga akses jalannya harus terus kita perbaiki. Konektivitas yang baik akan memperlancar mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” tegasnya.
Ia menambahkan Pemerintah Provinsi Kaltim akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten agar pembangunan infrastruktur di jalur Kubar–Mahulu berjalan berkelanjutan hingga tuntas pada 2027.
Dengan rampungnya proyek itu, akses transportasi di kawasan perbatasan diharapkan semakin lancar, membuka terisolasinya wilayah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kutai Barat dan Mahakam Ulu.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





