Hipertensi Mendominasi, Alarm Kesehatan Pasca Lebaran di Kukar Belum Mereda

KEMERIAHAN Idulfitri yang identik dengan kebersamaan dan hidangan berlimpah kembali menyisakan persoalan klasik di sektor kesehatan. Di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tren penyakit pasca Lebaran menunjukkan pola berulang. Lonjakan kasus penyakit tidak menular (PTM), dengan hipertensi sebagai ancaman utama yang belum tergantikan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar mencatat, dinamika kunjungan pasien mengalami fluktuasi khas periode Lebaran. Pada pekan pertama, angka kunjungan justru sempat menurun, dipengaruhi mobilitas masyarakat yang masih dalam suasana mudik dan liburan. Namun, kondisi ini hanya bersifat sementara.

Kabid Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinkes Kukar, dr Waode Nuraida, menjelaskan bahwa lonjakan mulai terasa saat masyarakat kembali ke rutinitas.

“Di awal pasca-Lebaran itu justru agak menurun karena masyarakat masih liburan. Tapi biasanya mulai meningkat saat masuk kerja, meskipun tidak langsung tinggi seperti hari normal,” ujarnya.

Meski secara agregat terlihat “normal”, data lapangan menunjukkan adanya lonjakan signifikan di sejumlah fasilitas kesehatan. Puskesmas di wilayah padat seperti Rapak Mahang, Loa Ipuh, dan Mangkurawang, hingga kawasan pesisir seperti Muara Jawa dan Sangasanga, mencatat peningkatan pasien hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Fenomena ini mengindikasikan adanya “lonjakan tertunda” (delayed surge), di mana masyarakat baru memeriksakan diri setelah aktivitas kembali berjalan normal.

Berdasarkan rekap laporan harian periode 1 Maret hingga 9 April 2026, pola penyakit di Kukar didominasi tiga kelompok besar: penyakit tidak menular, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan gangguan pencernaan.

Namun, dari ketiga kategori tersebut, PTM tetap menjadi beban utama.

Hipertensi esensial kembali menempati posisi teratas di seluruh periode pemantauan. Bahkan ketika total kasus sempat turun selama libur Lebaran dari 3.479 kasus menjadi 1.909 kasus angka tersebut kembali naik menjadi 2.105 kasus saat arus mudik berlangsung.

Data ini memperlihatkan bahwa hipertensi bukan sekadar penyakit musiman, melainkan persoalan kronis yang terus membayangi masyarakat.

Kondisi ini diperparah oleh pola konsumsi khas Lebaran yang tinggi garam, lemak, dan gula, serta minimnya aktivitas fisik selama libur panjang.

Tak hanya hipertensi, penyakit metabolik lain seperti diabetes melitus juga tetap bertahan di jajaran atas, memperkuat indikasi bahwa transisi gaya hidup masyarakat menjadi faktor risiko utama.

Kelelahan Mudik hingga Ancaman ISPA

Selain PTM, keluhan yang cukup dominan pada pekan pertama pasca mudik adalah mialgia atau nyeri otot. Kondisi ini dipicu kelelahan perjalanan panjang, terutama bagi pemudik yang menempuh jarak jauh dengan kendaraan darat.

Di sisi lain, ISPA khususnya common cold atau flu tetap konsisten berada di posisi kedua, meskipun sempat menurun selama masa libur. Penurunan ini diduga akibat berkurangnya interaksi di ruang kerja dan sekolah.

Namun, yang cukup menarik perhatian adalah munculnya kasus pulpitis atau peradangan pulpa gigi dalam daftar 10 besar penyakit. Hal ini mengindikasikan meningkatnya konsumsi makanan manis selama Lebaran tanpa diimbangi perawatan kesehatan gigi yang memadai.

Layanan Kesehatan Tetap Siaga, Sistem Disesuaikan

Mengantisipasi lonjakan kebutuhan layanan, Dinkes Kukar memastikan seluruh fasilitas kesehatan tetap beroperasi optimal selama periode Lebaran. Puskesmas rawat inap disiagakan 24 jam, sementara pos pelayanan terpadu dibuka di sejumlah titik strategis.

Beberapa lokasi yang menjadi fokus antara lain Taman Tanjong, Simpang Lembuswana, Pasar Loa Ulu, hingga rest area di jalur mudik.

Selain itu, koordinasi dengan BPJS Kesehatan dilakukan untuk memastikan distribusi pasien berjalan efektif, terutama bagi masyarakat yang mengakses layanan di luar fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) asalnya.

“FKTP yang buka dimaksimalkan untuk menerima pasien, meskipun bukan peserta yang terdaftar di sana,” jelas dr Waode.

Di tengah dominasi PTM, Dinkes Kukar juga menyoroti potensi penyebaran penyakit menular, khususnya campak. Wilayah pesisir seperti Marangkayu, Muara Badak, dan Badak Baru menjadi perhatian khusus, menyusul temuan kasus di daerah tetangga, Bontang.

Langkah ini menunjukkan bahwa ancaman kesehatan pasca Lebaran tidak hanya berasal dari gaya hidup, tetapi juga mobilitas penduduk yang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular.
Dinkes memprediksi aktivitas layanan kesehatan akan kembali stabil dalam tiga hingga empat pekan setelah Lebaran, seiring normalnya kegiatan sekolah dan perkantoran.

Namun, di balik proyeksi tersebut, terdapat pekerjaan rumah besar: mengubah pola hidup masyarakat.

Melalui program promosi kesehatan, edukasi terus digencarkan, mulai dari media digital hingga pelibatan pemerintah tingkat kecamatan dan desa.

“Pola hidup sehat itu bukan sekadar jargon. Masyarakat harus bisa memilah makanan, rutin berolahraga, dan mengantisipasi risiko penyakit,” tegas dr Waode.

Tren berulang ini mempertegas satu hal bahwa Lebaran bukan hanya momen kebahagiaan, tetapi juga titik kritis bagi kesehatan masyarakat.

Selama pola konsumsi dan gaya hidup tidak berubah, hipertensi dan penyakit metabolik lainnya akan terus menjadi “warisan tahunan” pasca Lebaran muncul, mereda, lalu kembali menguat di siklus yang sama. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI