Pola Makan Berubah, Gangguan Pencernaan Kuasai Layanan Kesehatan di PPU

PERUBAHAN pola makan masyarakat usai menjalani ibadah puasa selama Ramadan kembali berdampak pada kondisi kesehatan. Hal ini tercermin dari data layanan di RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB) Nipah-Nipah, yang mencatat sebanyak 396 kasus pelayanan selama masa libur dan cuti bersama Lebaran 2026.

Dari ratusan kasus tersebut, gangguan pencernaan menjadi keluhan paling dominan. Kondisi ini dipicu kebiasaan konsumsi makanan berlebih, terutama makanan berlemak dan tinggi kolesterol, setelah sebelumnya masyarakat menjalani pola makan teratur selama berpuasa.

Direktur Utama RSUD RAPB, Lukasiwan Eddy Saputro, menyampaikan bahwa tren penyakit selama periode 16 Maret hingga 29 Maret 2026 relatif stabil dan tidak menunjukkan lonjakan signifikan.
“Secara umum tidak ada lonjakan kasus yang berarti, masih dalam kategori normal,” ujarnya.

Data yang dihimpun mencakup layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat inap, hingga rujukan pasien. Untuk memudahkan pemahaman publik, pihak rumah sakit menyederhanakan laporan menjadi lima kelompok penyakit utama.

Kelima keluhan tersebut meliputi gangguan pencernaan (dispepsia), demam, muntah (vomitus), hipertensi, serta nyeri perut (abdominal pain). Dari seluruh kategori, dispepsia menjadi kasus terbanyak.

Menurut Lukasiwan, kondisi ini merupakan pola berulang yang hampir selalu terjadi setiap tahun setelah Lebaran.

“Setelah sebulan pola makan teratur, saat Lebaran masyarakat cenderung makan berlebihan. Ini memicu gangguan lambung,” jelasnya.

Secara medis, dispepsia mencakup berbagai gangguan pada lambung, namun dalam komunikasi publik lebih dikenal sebagai gangguan pencernaan. Selain itu, keluhan muntah juga banyak ditemukan dan umumnya berkaitan dengan masalah pencernaan, sementara demam masih memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebabnya.

Di tengah dominasi gangguan pencernaan, hipertensi menjadi perhatian khusus. Lukasiwan menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak dapat dianggap sebagai penyakit ringan karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

“Tingkat keparahannya tergantung penyebabnya, bisa dari jantung, pembuluh darah, atau ginjal,” tegasnya.

Peningkatan tekanan darah pasca Lebaran juga kerap dikaitkan dengan konsumsi makanan tinggi garam dan lemak, serta perubahan gaya hidup yang cenderung kurang terkontrol.

Layanan Tetap Berjalan 24 Jam

Selama masa cuti bersama, RSUD RAPB memastikan seluruh layanan utama tetap beroperasi. Fasilitas seperti IGD, laboratorium, radiologi, ICU, NICU, hingga hemodialisa tetap siaga selama 24 jam.

Rumah sakit juga tetap melayani tindakan medis darurat, termasuk operasi sesar dan operasi usus buntu.

“Untuk layanan kegawatdaruratan dan tindakan segera, semuanya tetap berjalan,” kata Lukasiwan.

Namun demikian, kendala masih ditemui dalam proses rujukan pasien. Sejumlah rumah sakit tujuan dilaporkan mengalami keterbatasan kapasitas atau penuh selama periode tersebut.

Menghadapi kondisi tersebut, pihak rumah sakit melakukan berbagai langkah antisipatif, mulai dari mencari alternatif rumah sakit rujukan hingga berkoordinasi dengan berbagai pihak.

Upaya dukungan pembiayaan juga dilakukan melalui kerja sama dengan Jamkesda dan Baznas untuk membantu pasien yang tidak memiliki jaminan kesehatan.

“Kami tetap berupaya mencarikan solusi terbaik, baik dari sisi rujukan maupun pembiayaan pasien,” ujarnya.

Lukasiwan menilai, momen Lebaran bukanlah penyebab utama munculnya penyakit, melainkan lebih sebagai faktor pemicu akibat perubahan pola hidup yang drastis dalam waktu singkat.

“Lebaran ini ibarat pemicu. Karena pola makan berubah, akhirnya muncul keluhan. Ini pola yang hampir setiap tahun terjadi,” tambahnya.

Di sisi lain, akses masyarakat terhadap informasi kesehatan dinilai semakin baik seiring perkembangan teknologi digital. Namun, kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat tetap menjadi tantangan utama.

Pihak rumah sakit menekankan pentingnya upaya pencegahan sebagai langkah paling efektif dalam menjaga kesehatan, terutama pada periode pasca Lebaran.

Mengatur pola makan, membatasi konsumsi makanan berlemak dan tinggi gula, serta menjaga aktivitas fisik menjadi langkah sederhana namun krusial untuk menghindari berbagai penyakit.

“Yang paling penting adalah menjaga pola makan dan gaya hidup. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati,” pungkasnya. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI