Berau Stabil Pasca Lebaran, Penyakit Musiman Tetap Diawasi Ketat

DI TENGAH kekhawatiran lonjakan penyakit pasca Idulfitri yang terjadi di sejumlah daerah, Kabupaten Berau justru menunjukkan kondisi berbeda. Dinas Kesehatan (Dinkes) memastikan situasi kesehatan masyarakat di Bumi Batiwakkal masih dalam kategori stabil dan terkendali. Namun, di balik stabilitas tersebut, kewaspadaan tetap ditingkatkan, mengingat potensi ancaman penyakit yang bisa muncul sewaktu-waktu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Rahmawati, mengungkapkan bahwa hasil pemantauan dari berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, tidak menunjukkan adanya lonjakan signifikan kasus penyakit, baik menular maupun tidak menular.

“Secara umum kondisi kesehatan masyarakat pasca Lebaran masih stabil. Tidak ada peningkatan signifikan untuk penyakit tertentu,” ujarnya.

Momentum Lebaran identik dengan tingginya mobilitas masyarakat melalui arus mudik dan balik. Kondisi ini umumnya menjadi celah meningkatnya penularan penyakit, terutama penyakit infeksi. Namun, di Berau, skenario tersebut sejauh ini belum terjadi.

Rahmawati menegaskan, hingga kini tidak ditemukan kasus menonjol, termasuk penyakit menular yang sempat menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir.

Rahmawati, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau.

“Sejauh ini tidak ada kasus yang terdata terkait penyakit menular, termasuk COVID-19,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi ini bukan alasan untuk lengah. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa lonjakan kasus kerap muncul dengan jeda waktu tertentu setelah mobilitas massal terjadi.

Selain penyakit menular, perhatian juga tertuju pada penyakit musiman yang biasanya meningkat saat perubahan cuaca. Di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, hingga demam berdarah dengue (DBD).

Dinkes Berau mencatat, ketiga penyakit tersebut masih berada dalam batas normal dan belum menunjukkan tren kenaikan yang signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Grafiknya masih dalam batas standar seperti tahun kemarin. Artinya tidak ada lonjakan spesifik,” kata Rahmawati.

Kondisi ini dinilai cukup positif, mengingat cuaca yang tidak menentu seperti hujan yang turun tiba-tiba berpotensi memicu peningkatan kasus, khususnya DBD yang berkaitan erat dengan perkembangbiakan nyamuk.

Campak Jadi Perhatian Khusus

Meski secara umum terkendali, Dinkes Berau tetap memberikan perhatian khusus terhadap penyakit campak. Sejak awal tahun, penyakit ini menjadi salah satu fokus pengawasan karena berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) jika tidak ditangani secara cepat.

Pengawasan dilakukan melalui sistem pelaporan berjenjang dari fasilitas kesehatan, serta pemantauan aktif di lapangan. Langkah ini penting untuk memastikan deteksi dini apabila muncul kasus baru.

Untuk menjaga kondisi tetap terkendali, Dinkes Berau mengandalkan sistem kewaspadaan dini yang beroperasi selama 24 jam. Sistem ini memungkinkan pemantauan perkembangan kasus secara real-time dari seluruh fasilitas kesehatan.

Jika ditemukan indikasi peningkatan kasus atau potensi wabah, respons cepat langsung dilakukan, termasuk koordinasi lintas sektor.

“Petugas kami selalu memantau. Jika ada kasus, kami langsung bergerak dan menghubungi pihak terkait,” tegas Rahmawati.

Kesiapsiagaan juga didukung oleh kondisi fasilitas kesehatan yang dinyatakan siap siaga, baik dari sisi tenaga medis maupun sarana prasarana.

Kondisi stabil yang terjadi di Berau patut diapresiasi, namun tidak boleh diartikan sebagai situasi yang sepenuhnya aman. Pola penyakit pasca Lebaran sering kali dinamis dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari perilaku masyarakat, daya tahan tubuh, hingga perubahan lingkungan.

Terlebih, kebiasaan konsumsi makanan tinggi lemak dan gula saat Lebaran, serta kelelahan akibat perjalanan jauh, dapat memicu penurunan imunitas tubuh.

Karena itu, masyarakat tetap diimbau untuk menjaga pola hidup sehat, memperhatikan kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala penyakit.

Dengan kondisi yang masih terkendali, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga agar situasi tersebut tidak berubah menjadi lonjakan kasus dalam beberapa pekan ke depan. Antisipasi dini, konsistensi pemantauan, serta kesadaran masyarakat menjadi kunci utama.

Dinkes Berau menegaskan komitmennya untuk terus menjaga sistem pengawasan tetap aktif dan responsif terhadap setiap potensi ancaman kesehatan.

“Yang terpenting adalah kita tidak lengah. Stabil hari ini harus tetap dijaga agar tidak berubah menjadi lonjakan besok,” pungkas Rahmawati. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI