KONDISI ketahanan energi di Kalimantan Timur tidak lagi sekadar isu besar di tingkat nasional. Di tengah fluktuasi harga energi dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang belum merata, dampaknya kini dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari rumah tangga di perkotaan hingga petani di wilayah pedesaan.
Di Kota Bontang, kesadaran masyarakat untuk menghemat energi mulai tumbuh. Sementara di Kutai Kartanegara, persoalan distribusi BBM justru menimbulkan keresahan baru karena memengaruhi aktivitas ekonomi warga.
Dua kondisi yang berbeda ini memperlihatkan satu persoalan yang sama: ketahanan energi daerah masih rapuh dan sangat menentukan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di sejumlah kawasan permukiman di Bontang, warga mulai menerapkan pola hidup hemat energi. Mereka mematikan lampu dan perangkat elektronik saat tidak digunakan, memanfaatkan pencahayaan alami pada siang hari, hingga mengurangi penggunaan pendingin ruangan.
Kesadaran itu muncul seiring meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap perubahan harga energi yang dinilai dapat memengaruhi kondisi ekonomi keluarga.
Rina (34), salah seorang warga, mengaku mulai membiasakan penggunaan listrik secara lebih bijak di rumahnya. Ia menilai kebiasaan sederhana justru memberi dampak nyata terhadap pengeluaran bulanan.
“Kebiasaan kecil seperti ini ternyata cukup membantu mengurangi tagihan listrik bulanan. Makanya mulai sekarang, saya bakal menerapkan pentingnya penghematan energi,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Menurut Rina, pengeluaran listrik rumah tangga sering kali tidak disadari meningkat karena penggunaan peralatan elektronik yang berlebihan. Karena itu, ia mulai membiasakan seluruh anggota keluarga untuk lebih disiplin.
Selain menghemat listrik, sebagian warga juga mulai memperhatikan desain dan sirkulasi rumah. Ventilasi diperbaiki agar udara dapat mengalir lebih lancar dan ruangan terasa lebih sejuk tanpa harus terus-menerus menggunakan pendingin ruangan.
Beberapa warga bahkan menanam pohon di sekitar rumah. Selain membuat lingkungan lebih rindang, langkah itu dinilai efektif mengurangi suhu panas di siang hari.
Bagi masyarakat, penghematan energi bukan lagi semata-mata upaya menekan pengeluaran, tetapi juga bentuk antisipasi menghadapi ketidakpastian harga energi di masa mendatang.
Di sisi lain, masyarakat berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga dan ketersediaan energi. Kekhawatiran itu muncul karena kenaikan harga energi hampir selalu diikuti naiknya biaya hidup.
Rahmat (45), warga lainnya, menilai lonjakan harga energi akan berdampak langsung terhadap berbagai kebutuhan masyarakat.
“Kalau harga energi naik, semua ikut naik. Mulai dari transportasi sampai kebutuhan pokok. Nantinya masyarakat lagi yang kesulitan,” katanya.
Menurut Rahmat, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa pasokan energi tetap tersedia dan harganya tidak memberatkan. Sebab, ketika energi menjadi mahal, beban ekonomi rumah tangga ikut meningkat.
Pandangan serupa juga muncul di sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur, terutama di wilayah yang selama ini bergantung pada distribusi BBM dari luar daerah.
Situasi berbeda terjadi di Kutai Kartanegara. Dalam beberapa pekan terakhir, distribusi BBM di sejumlah kecamatan mulai menunjukkan ketimpangan.
Sejumlah wilayah mengalami keterbatasan pasokan, sementara daerah lain masih memiliki stok yang relatif aman. Akibatnya, harga BBM di lapangan menjadi berbeda-beda dan memunculkan kesenjangan antarwilayah.
Di Desa Kahala, Kecamatan Kenohan, warga mulai merasakan sulitnya mendapatkan BBM. Meski harga jual belum naik secara signifikan, masyarakat harus berupaya lebih keras untuk memperoleh pasokan.
Namun kondisi yang lebih berat dialami warga di kawasan SP 1. Di wilayah tersebut, harga bensin dilaporkan melonjak hingga Rp15 ribu per liter karena stok yang sangat terbatas.
Sebaliknya, di Tenggarong Seberang, situasi masih relatif terkendali. Ketersediaan BBM di sejumlah titik penjualan masih mencukupi dan harga tetap lebih stabil dibandingkan wilayah lain.
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa distribusi BBM di Kukar belum berjalan merata. Wilayah yang jauh dari pusat distribusi cenderung mengalami keterbatasan pasokan lebih cepat.
Petani Menjadi Pihak yang Paling Terdampak
Ketimpangan distribusi BBM tidak hanya memengaruhi kebutuhan transportasi warga, tetapi juga mengancam sektor pertanian.
Kelangkaan solar subsidi menjadi persoalan serius bagi para petani yang sedang memasuki musim pengolahan lahan. Solar dibutuhkan untuk mengoperasikan traktor dan berbagai alat mesin pertanian.
Ketika pasokan sulit diperoleh, aktivitas pertanian ikut terhambat. Proses bajak sawah tertunda dan jadwal tanam terancam mundur.
“Solar susah didapat, padahal sekarang lagi musim turun ke sawah,” keluh seorang petani di wilayah hulu Kutai Kartanegara.
Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak lebih luas terhadap produksi pertanian. Jika pengolahan lahan terlambat, hasil panen berpotensi menurun dan pada akhirnya memengaruhi ketersediaan pangan.
Di tengah keterbatasan itu, sebagian pedagang BBM eceran masih berupaya menjaga stok. Di Tenggarong Seberang, misalnya, BBM eceran masih dijual sekitar Rp13 ribu per liter dengan jumlah pembeli yang tetap stabil.
Namun, keberadaan BBM eceran dinilai belum mampu menjadi solusi jangka panjang. Pasokan yang terbatas membuat harga mudah berubah sewaktu-waktu. (MK)





