Menembus Belantara Batu Besaung: Asa Pendidikan di Sekolah Rimba Bagi Anak Pedalaman Samarinda

SAMARINDA – Di tengah rimbunnya pepohonan wilayah Batu Besaung, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, tawa renyah anak-anak memecah kesunyian hutan pada Minggu (26/4/2026). Di sebuah gazebo sederhana berukuran 6 X 4 meter, puluhan anak tampak antusias mengais ilmu di tempat yang dikenal sebagai Sekolah Rimba.

Meski jauh dari hiruk-pikuk kota dan akses jalan yang menantang, semangat belajar anak-anak usia 2 hingga 10 tahun ini tidak surut. Kehadiran Sekolah Rimba menjadi oase bagi warga RT 34 dan RT 41 yang selama ini kesulitan mengakses fasilitas pendidikan formal karena jarak dan faktor ekonomi.

Founder sekaligus pengajar Sekolah Rimba, Yurni Handayani, mengisahkan inisiatif tersebut lahir pada Juni 2025 lalu. Menjelang satu tahun berdirinya sekolah itu, Yurni mengungkapkan keprihatinannya terhadap ketimpangan pendidikan di wilayah pedalaman.

“Saya melihat di sini tidak ada sekolah, akses ke sekolah negeri sangat jauh. Bahkan saya menemukan anak usia 8 dan 9 tahun tidak sekolah, terkena stunting, dan gizinya kurang. Itulah mengapa saya berinisiatif membuka Sekolah Rimba agar ada pemerataan pendidikan,” ujar Yurni saat ditemui di lokasi.

Saat ini, sekitar 35 siswa terdaftar di sekolah non pemerintah tersebut. Namun keterbatasan fasilitas menjadi kendala utama. Dengan kapasitas gazebo yang sempit, Yurni mengaku belum bisa melakukan survei ke RT lain seperti wilayah Berambai, karena daya tampung yang sudah tidak memadai.

Kegiatan belajar-mengajar hari ini terasa spesial dengan kehadiran Tim TRC PPA Kaltim. Selain mendampingi proses belajar, mereka membagikan paket alat tulis dan makanan bagi para siswa.

Rina Zainun dari TRC PPA Kaltim yang terjun langsung menjadi ‘Guru Minggu’ mengapresiasi keberadaan sekolah tersebut dalam mengakomodir anak-anak kurang mampu.

“Kami berharap pemerintah kota, terutama Dinas Pendidikan, bisa berkunjung dan melihat langsung kondisi di sini. Sekolah ini sangat bagus karena memenuhi hak pendidikan anak. Mereka butuh meja, kursi, papan tulis, dan alat permainan edukatif,” tegas Rina.

Selama setahun berdiri, Sekolah Rimba berjalan secara mandiri dengan bantuan para relawan (volunter) yang rela menempuh perjalanan jauh tanpa bayaran. Yurni menyebut bantuan pemerintah sejauh ini baru sebatas pemberian buku permainan, namun belum menyentuh fasilitas fisik maupun kesejahteraan operasional.

Kebutuhan Mendesak Sekolah Rimba tersebut mencakup ruang belajar perluasan kapasitas agar bisa menampung lebih banyak anak, fasilitas belajar seperti meja, kursi, papan tulis, dan alat peraga edukasi, area outdoor fasilitas permainan luar ruangan untuk anak usia PAUD/TK.

“Harapan saya, sekolah ini dilirik. Niat kami tulus agar anak-anak pedalaman bisa pintar sama dengan anak-anak di kota. Saat ini kami membuka donasi bagi siapa saja yang ingin berkontribusi membantu masa depan mereka,” jelas Yurni.

Bagi masyarakat yang ingin membantu atau menjadi relawan, Sekolah Rimba tetap membuka pintu lebar demi memastikan cahaya pendidikan tetap menyala di pelosok Batu Besaung.

Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI