SAMARINDA – Seiring dengan status Samarinda sebagai kota jasa dan pemukiman yang terus berkembang, sektor pertanian kini berada di titik yang mengkhawatirkan.
Staf Ahli Komisi II DPRD Kota Samarinda, Misirah, memaparkan analisis mendalam mengenai menyusutnya lahan produktif dan bagaimana masyarakat harus mulai beradaptasi dengan realitas perkotaan yang padat.
Persoalan pangan bukan lagi sekadar urusan ketersediaan di pasar, melainkan tentang bagaimana sebuah kota mampu mempertahankan kedaulatannya di atas lahan yang kian tergerus pembangunan beton.
Misirah menjelaskan data lapangan menunjukkan angka yang cukup kontras antara total luas wilayah dengan sisa lahan yang dapat digunakan untuk bercocok tanam.
Dari total luas wilayah Kota Samarinda yang mencapai 718 kilometer persegi, persentase lahan pertanian kini sudah berada di angka kritis.
“Kalau dihitung secara luasan, kira-kira hanya tinggal 5 ribu hingga 10 ribu hektar untuk menopang kebutuhan pertanian kita, itu hanya berkisar antara 7 persen sampai 14 persen saja yang tersisa,” ungkap Misirah saat diwawancara, Senin (4/5/2026).
Kondisi itu diperparah dengan jumlah penduduk yang terus bertambah hingga hampir menyentuh angka 900 ribu jiwa, yang secara otomatis meningkatkan permintaan akan lahan hunian.
Selain itu, keterbatasan lahan berdampak langsung pada rantai pasok pangan. Misirah mengakui hingga saat ini, Samarinda belum mampu mandiri secara penuh dalam memenuhi kebutuhan pokok warganya.
“Untuk beras, telur, ikan, dan sayur-sayuran, kita masih harus bekerja sama dan mendatangkan dari daerah tetangga seperti Kutai Kartanegara, bahkan hingga kiriman dari Pulau Jawa dan Sulawesi,” jelasnya.
Ketergantungan tersebut menjadi tantangan besar bagi Komisi II untuk terus memastikan jalur distribusi tetap lancar agar harga di tingkat konsumen tidak melambung tinggi.
Menyadari lahan pertanian tidak mungkin lagi diperluas secara konvensional, Misirah menekankan inovasi adalah jalan satu-satunya.
Ia mendorong perubahan pola pikir masyarakat dari pertanian skala besar menjadi pertanian mikro berbasis rumah tangga.
“Lahan kita tidak bisa ditambah. Maka satu-satunya cara adalah optimalisasi lahan yang ada. Kami dari Komisi II terus memberikan edukasi agar masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah masing-masing. Jangan biarkan lahan sempit itu kosong,” tegas Misirah.
Ia memberikan contoh nyata mengenai metode tanam sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa pun tanpa harus memiliki lahan yang luas.
“Masyarakat bisa menanam cabai, tomat, atau sayuran lainnya menggunakan polybag. Bagi yang memiliki sedikit modal dan minat teknologi, sistem hidroponik adalah solusi terbaik untuk wilayah perkotaan seperti Samarinda,” jelasnya. (rm/rls)
Pewarta: Abdi
Editor: Yahya Yabo





