Jalur Panjang Rantai Pasok, Kurban di Kaltim Kian Berat

MENJELANG Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, denyut perdagangan hewan kurban mulai terasa di berbagai daerah di Kalimantan Timur. Lapak-lapak sapi dan kambing bermunculan di pinggir jalan, kandang sementara mulai dipadati ternak dari luar pulau, sementara masyarakat perlahan mulai berburu hewan kurban terbaik di tengah tekanan ekonomi dan harga yang terus merangkak naik.

Di balik semarak persiapan ibadah tahunan umat Islam itu, terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar jual beli sapi dan kambing. Tahun ini, Kalimantan Timur menghadapi tantangan berlapis. Mulai dari ketergantungan pasokan ternak dari luar daerah, ancaman penyakit hewan menular, biaya distribusi yang melonjak akibat kenaikan harga BBM, hingga menurunnya daya beli masyarakat.

Liputan khusus Media Kaltim menemukan, hampir seluruh kabupaten dan kota di Kaltim kini memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban. Pemerintah daerah tak ingin kecolongan setelah beberapa tahun terakhir ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sempat mengguncang sektor peternakan nasional.

Di Kabupaten Paser misalnya, setiap hewan kurban yang masuk wajib mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan diverifikasi langsung oleh pejabat otoritas veteriner daerah. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap sapi dari luar provinsi, tetapi juga ternak antarkabupaten di Kalimantan Timur.

“Kita juga akan menerjunkan tim ke seluruh titik penyembelihan untuk memastikan kondisi hewan sehat dan aman dikonsumsi,” kata Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Paser, Djoko Bawono.

Langkah serupa dilakukan di Balikpapan, Kutai Timur, Bontang hingga Berau. Pemeriksaan fisik, pengambilan sampel darah dan feses, pemantauan dokumen kesehatan, hingga pengawasan lalu lintas ternak diperketat menjelang Iduladha.

Kewaspadaan itu bukan tanpa alasan. Kaltim hingga kini masih sangat bergantung pada pasokan hewan kurban dari luar daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, NTB hingga Pulau Jawa. Ribuan sapi didatangkan melalui jalur laut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan yang terus meningkat setiap tahun.

Di Balikpapan, sapi kurban sebagian besar berasal dari Gorontalo, Sulawesi Selatan hingga NTB. Di Samarinda dan Paser, banyak pedagang memilih mendatangkan sapi Bali dari Kupang, NTT. Sementara kambing banyak dipasok dari Jawa Timur.

Ketergantungan terhadap pasokan luar daerah itu membuat harga hewan kurban sangat rentan terhadap biaya logistik. Tahun ini, kenaikan harga BBM terutama solar menjadi pukulan berat bagi pedagang maupun pembeli.

Di sejumlah daerah, harga sapi naik antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per ekor dibanding tahun sebelumnya. Untuk sapi standar, harga kini berada di kisaran Rp18 juta hingga Rp35 juta. Sementara sapi premium jenis Limousin dan Simental di Balikpapan bahkan menembus Rp80 juta per ekor.

“Pengaruh biaya angkut dan BBM sangat terasa. Harga naik, sementara daya beli masyarakat justru menurun,” ujar Masran, pedagang sapi di Tanah Grogot, Paser.

Kondisi itu memunculkan fenomena baru di sejumlah daerah. Banyak kelompok kurban mulai menurunkan target pembelian. Jika sebelumnya mampu membeli lima ekor sapi, kini hanya tiga ekor. Sebagian masyarakat juga mulai mencari sapi ukuran lebih kecil agar biaya patungan tetap terjangkau.

Di Tenggarong, pedagang mengeluhkan pasar hewan kurban yang jauh lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lesunya ekonomi dan berkurangnya lapangan kerja disebut menjadi penyebab utama menurunnya daya beli masyarakat.

“Jangankan untuk berkurban, untuk kebutuhan sehari-hari saja masyarakat harus berhitung,” kata Bejo, pedagang hewan kurban di Kelurahan Melayu.

Meski demikian, optimisme belum sepenuhnya hilang. Pedagang tetap berharap penjualan meningkat mendekati Hari Raya Iduladha. Sebagian masyarakat juga memilih membeli lebih awal untuk menghindari lonjakan harga sekaligus mendapatkan hewan terbaik.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah daerah menghadapi tantangan besar: menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan, stabilitas harga, dan jaminan kesehatan hewan kurban.

Sebab Iduladha bukan sekadar ritual tahunan penyembelihan hewan. Di baliknya terdapat denyut ekonomi rakyat, perputaran miliaran rupiah, ketahanan pangan daerah, hingga persoalan serius tentang kemandirian peternakan Kalimantan Timur yang sampai hari ini masih bertumpu pada pasokan dari luar pulau.

Momentum Iduladha 2026 akhirnya tidak hanya menjadi cermin tingginya semangat masyarakat untuk berkurban, tetapi juga memperlihatkan rapuhnya rantai distribusi ternak dan tekanan ekonomi yang kini dirasakan hingga ke kandang-kandang sapi di pelosok daerah. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI