Balikpapan Berjibaku Jaga Pasokan dan Cegah Penyakit Hewan

PERDAGANGAN hewan kurban mulai menghidupkan sudut-sudut Kota Balikpapan. Lapak sapi dan kambing berdiri di lahan kosong, bahu jalan, hingga kawasan perdagangan musiman di Batu Ampar, Kilometer 5, Balikpapan Selatan, dan sejumlah titik lain.

Di balik ramainya transaksi tahunan itu, tersimpan persoalan yang lebih besar dari sekadar jual beli hewan kurban. Tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah, lonjakan ongkos distribusi, serta ancaman penyakit hewan menular yang membuat pengawasan tahun ini diperketat.

Bagi Balikpapan, Iduladha bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga ujian rantai pasok pangan dan peternakan. Kota jasa yang tidak memiliki basis peternakan besar itu masih menggantungkan sebagian besar kebutuhan sapi dan kambing kurban dari luar Kalimantan Timur. Ribuan kilometer jalur laut ditempuh ternak dari Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Pulau Jawa sebelum akhirnya tiba di kandang-kandang penjualan di Balikpapan.

Ketergantungan itulah yang kini mulai terasa dampaknya. Kenaikan biaya transportasi, harga pakan, perawatan ternak selama perjalanan, hingga biaya distribusi antarpulau membuat harga hewan kurban tahun ini ikut terkerek naik. Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi tantangan memastikan hewan yang masuk benar-benar sehat di tengah kewaspadaan terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), antraks, hingga penyakit zoonosis lain yang dapat menular ke manusia.

Situasi tersebut membuat pengawasan Iduladha tahun ini jauh lebih ketat dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Pengawasan Dimulai Sejak dari Daerah Asal

Ketua Tim Kerja Kesehatan Masyarakat Veteriner
DKP3 Balikpapan, drh. Ayu Widya Primanda

Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) memperkuat pengawasan lalu lintas hewan kurban sejak sebelum ternak tiba di pelabuhan. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan di lapak penjualan, tetapi dimulai dari dokumen kesehatan hewan di daerah asal.

Ketua Tim Kerja Kesehatan Masyarakat Veteriner DKP3 Balikpapan, drh. Ayu Widya Primanda, mengatakan seluruh hewan kurban yang masuk ke Balikpapan wajib dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Dokumen tersebut menjadi syarat utama untuk memastikan ternak berasal dari wilayah yang dinyatakan aman dari penyakit menular.

“Pengawasan rutin dilakukan setiap tahun karena sebagian besar hewan kurban didatangkan dari luar daerah. Pemeriksaan kami mulai dari dokumen kesehatan, kondisi fisik hewan, hingga pemantauan di lapak penjualan,” ujarnya.

Menurut Ayu, pemeriksaan fisik dilakukan secara detail untuk memastikan hewan bebas dari gejala penyakit seperti PMK, antraks maupun penyakit zoonosis lainnya. Petugas memeriksa kondisi mulut, kuku, mata, suhu tubuh, hingga perilaku hewan selama masa observasi.

DKP3 juga melakukan pemantauan berkala ke lapak-lapak penjualan yang tersebar di berbagai titik kota. Jika ditemukan hewan dengan gejala sakit atau kondisi mencurigakan, petugas akan langsung melakukan isolasi dan pemeriksaan lanjutan.

“Hewan yang tidak memenuhi syarat kesehatan tidak boleh diperjualbelikan. Ini penting untuk melindungi masyarakat sekaligus menjaga kualitas hewan kurban,” katanya.

Pengawasan ketat tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengantisipasi kembali munculnya kasus penyakit hewan menular yang sempat mengganggu distribusi ternak nasional dalam beberapa tahun terakhir. Kekhawatiran itu masih membekas, terutama setelah wabah PMK sempat memukul sektor peternakan di berbagai daerah Indonesia.

Jalur Panjang Hewan Kurban ke Balikpapan

Ketergantungan Balikpapan terhadap pasokan luar daerah membuat rantai distribusi hewan kurban menjadi panjang dan mahal. Sapi-sapi kurban umumnya berasal dari Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan hingga Nusa Tenggara Barat, sedangkan kambing banyak dipasok dari Pulau Jawa dan Sulawesi.

Perjalanan antarpulau itu membutuhkan biaya besar. Selain ongkos kapal dan transportasi darat, pedagang juga harus menanggung biaya pakan, vitamin, perawatan kesehatan hingga risiko penyusutan bobot ternak selama perjalanan.

Iron, salah seorang pedagang sapi di kawasan Batu Ampar Balikpapan Utara, mengatakan tekanan biaya distribusi menjadi tantangan terbesar penjualan hewan kurban tahun ini. Menurutnya, hampir seluruh komponen biaya mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya.

“Biaya pengiriman naik, pakan naik, perawatan juga naik. Itu yang membuat harga sapi ikut naik,” ujarnya.

Ia mengaku saat ini menyediakan sekitar 30 ekor sapi yang sebagian besar didatangkan dari Gorontalo dan Sulawesi Utara. Menurutnya, masyarakat kini mulai membeli hewan kurban lebih awal untuk menghindari lonjakan harga mendekati Iduladha.

“Kalau sudah dekat hari raya biasanya harga bisa naik lagi karena permintaan meningkat,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan pedagang kambing dan domba. Biaya distribusi dari Pulau Jawa maupun Sulawesi ikut memengaruhi harga jual di tingkat konsumen. Selain ongkos logistik, tingginya kebutuhan pakan selama proses penggemukan turut menambah biaya produksi.

Di lapangan, sapi kurban ukuran standar kini dijual mulai Rp20 juta hingga Rp30 juta per ekor. Untuk sapi jenis premium seperti Limousin dan Simental, harga dapat menembus Rp45 juta hingga Rp80 juta tergantung bobot dan kondisi fisik.

Sementara kambing dan domba berada di kisaran Rp2 juta hingga Rp5 juta per ekor. Harga bisa lebih tinggi untuk kambing dengan bobot besar dan kondisi fisik unggulan.

Ramainya permintaan Iduladha juga memunculkan gelombang pedagang musiman di Balikpapan. Lahan kosong dan tepi jalan berubah menjadi kandang sementara yang menawarkan berbagai jenis sapi dan kambing.

Persaingan penjualan tahun ini disebut semakin ketat karena jumlah pedagang bertambah. Banyak penjual mencoba memanfaatkan momentum Iduladha untuk meraih keuntungan cepat, meski harus bersaing dengan pedagang lama yang sudah memiliki pelanggan tetap.

Situasi itu membuat para pedagang harus memutar strategi. Sebagian mulai menawarkan layanan tambahan seperti penitipan hewan kurban hingga hari penyembelihan, pengantaran ke lokasi masjid, hingga perawatan khusus agar kondisi hewan tetap prima.

Setelah hewan tiba di Balikpapan, pedagang biasanya melakukan pemulihan kondisi ternak sebelum dijual. Hewan diberi tambahan vitamin, pakan berkualitas dan dipantau kesehatannya setiap hari untuk menjaga bobot tetap stabil.

Pedagang juga berupaya menjaga kepercayaan konsumen di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan hewan kurban. Selain menunjukkan kondisi fisik ternak, sebagian pedagang mulai menampilkan dokumen kesehatan hewan secara terbuka kepada calon pembeli.

Kenaikan harga tidak membuat minat masyarakat untuk berkurban surut. Namun, warga kini cenderung lebih selektif sebelum membeli hewan kurban.

Selain mempertimbangkan harga, pembeli juga memperhatikan kondisi fisik hewan secara detail. Mata harus terlihat bersih, bulu sehat, tubuh tidak cacat, aktif bergerak dan cukup umur sesuai syariat Islam.

Novri, warga Balikpapan yang mencari sapi kurban di kawasan Kilometer 5, mengaku kini lebih berhati-hati dalam memilih hewan kurban.

“Yang penting sehat dan ada surat kesehatannya. Kalau bisa beli lebih awal supaya pilihan masih banyak,” ujarnya.

Menurutnya, harga hewan kurban tahun ini memang terasa lebih mahal dibanding tahun lalu. Karena itu, banyak warga mulai menyiapkan anggaran lebih besar jauh sebelum Iduladha tiba.

Kenaikan harga tersebut memperlihatkan bagaimana faktor logistik masih menjadi persoalan utama distribusi pangan dan peternakan di Kalimantan. Ketika biaya transportasi naik, dampaknya langsung terasa pada harga jual di tingkat masyarakat.

Ketergantungan yang Belum Terpecahkan

Di balik rutinitas tahunan penjualan hewan kurban, persoalan mendasar Balikpapan sebenarnya belum berubah, minimnya pasokan ternak lokal. Kota ini masih sangat bergantung pada daerah pemasok di luar Kalimantan Timur.

Kondisi tersebut menjadi tantangan jangka panjang bagi pemerintah daerah. Ketergantungan distribusi antarpulau membuat harga ternak rentan bergejolak, terutama ketika biaya logistik meningkat atau terjadi gangguan distribusi.

Pengembangan peternakan lokal mulai dipandang sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar program pelengkap. Selain menjaga stabilitas harga, penguatan peternakan lokal juga dinilai penting untuk mengurangi risiko masuknya penyakit hewan dari luar daerah.

Namun hingga kini, kemampuan produksi ternak lokal di Kalimantan Timur masih belum mampu memenuhi tingginya kebutuhan pasar, khususnya menjelang Iduladha.

Sementara itu, terkait bantuan hewan kurban Presiden untuk daerah-daerah di Indonesia, pemerintah daerah mengaku masih menunggu informasi resmi mengenai distribusi sapi kurban Presiden tahun 2026. Pada tahun-tahun sebelumnya, bantuan sapi kurban Presiden rutin disalurkan ke sejumlah daerah dengan bobot mencapai lebih dari satu ton.

Di tengah tingginya antusiasme masyarakat berkurban, Balikpapan kini menghadapi realitas yang semakin jelas: ibadah kurban bukan hanya soal tradisi tahunan dan semangat berbagi, tetapi juga cermin persoalan logistik, ketahanan pangan, hingga kesiapan daerah menjaga kesehatan ternak di tengah ketergantungan pasokan dari luar pulau. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI