DI SEPANJANG Jalan KH Wahab Syahranie hingga kawasan Rapak Indah, Kota Samarinda kandang-kandang penjualan sapi dan kambing perlahan dipadati calon pembeli yang mulai berburu hewan kurban terbaik. Namun di balik ramainya aktivitas itu, ada tekanan besar yang tengah dirasakan para pedagang.
Kenaikan biaya logistik dan distribusi akibat lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai menghimpit rantai pasok ternak dari luar daerah menuju Kalimantan Timur.
Di lapak Sapi Bang Dafi, aroma jerami bercampur suara lenguhan sapi menjadi penanda musim kurban telah tiba. Puluhan sapi berbagai ukuran tampak berjajar di kandang beratap seng, sebagian berasal dari luar pulau dengan perjalanan laut yang panjang.
Pengelola Sapi Bang Dafi mengakui, harga hewan kurban tahun ini tidak bisa sepenuhnya dipertahankan seperti tahun sebelumnya. Ongkos pengiriman yang terus meningkat membuat pedagang terpaksa melakukan penyesuaian harga agar tetap mampu menutup biaya operasional.

“Untuk harga sapi dan kambing pasti ada peningkatan dari harga jualnya, karena dari ongkos kirimnya saja sudah mulai naik,” ujar Bang Dafi saat ditemui, Jumat (15/5/2026).
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana sektor perdagangan hewan kurban sangat bergantung pada jalur distribusi lintas daerah. Sebagian besar sapi dan kambing yang masuk ke Samarinda masih berasal dari luar Kalimantan, terutama Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Jawa Timur.
Biaya transportasi laut, pakan selama perjalanan, hingga distribusi darat menjadi komponen utama yang memengaruhi harga akhir di tingkat konsumen.
Meski demikian, para pedagang berusaha menjaga agar lonjakan harga tidak terlalu membebani masyarakat. Di lapak Bang Dafi, sapi dijual mulai Rp15 juta hingga mencapai Rp150 juta untuk kelas premium. Sementara kambing ditawarkan mulai Rp3 juta hingga Rp12 juta per ekor.
Harga fantastis pada sapi jenis tertentu seperti Limousin bukan tanpa alasan. Jenis sapi impor tersebut membutuhkan pola perawatan dan pakan yang jauh lebih intensif dibanding sapi lokal.
Menurut Bang Dafi, sapi Limousin memerlukan asupan tambahan untuk menjaga pertumbuhan bobot tubuh agar tetap ideal. Perawatannya pun lebih rumit dibanding sapi Bali atau sapi Kupang yang relatif lebih tahan terhadap kondisi kandang sederhana.
Di tengah tekanan ongkos distribusi, pedagang juga mulai melakukan strategi baru untuk menjaga kualitas ternak sekaligus mempertahankan harga jual. Tahun ini, Sapi Bang Dafi mengalihkan pasokan kambing dari Jember menuju Gresik, Jawa Timur.
Perubahan jalur pasokan itu dilakukan setelah pedagang menilai kambing asal Gresik memiliki ukuran tubuh lebih besar dengan harga yang masih kompetitif.
“Tahun ini kami ambil dari Gresik karena bisa dapat ukuran yang lebih tinggi dengan harga yang sama menariknya bagi pembeli,” katanya.

Fenomena serupa juga terjadi di kawasan Rapak Indah, Kelurahan Loa Bakung. Di lokasi tersebut, pedagang hewan kurban Rama Setia Nugraha atau Danu mengaku masih berupaya menjaga harga agar tidak melonjak drastis meskipun biaya operasional meningkat.
Di lapaknya, sapi dijual mulai Rp15 juta hingga Rp35 juta per ekor. Sapi kelas premium dengan bobot 400 hingga 450 kilogram menjadi favorit perusahaan maupun kelompok warga yang berkurban secara kolektif.
Sementara kambing dipasarkan dengan harga mulai Rp3,5 juta hingga Rp10 juta, tergantung ukuran dan kondisi fisik hewan.
“Mungkin ada pengaruh biaya seperti BBM yang naik, tapi untuk harga sapi sendiri masih relatif sama dengan tahun lalu. Masih bisa dikendalikan,” ujar Danu saat ditemui Selasa (12/5/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan para pedagang saat ini berada di posisi dilematis. Di satu sisi mereka harus menanggung kenaikan biaya distribusi, namun di sisi lain daya beli masyarakat juga menjadi pertimbangan utama.
Jika harga terlalu tinggi, risiko penurunan pembelian bisa terjadi. Karena itu, sebagian pedagang memilih menekan margin keuntungan demi menjaga perputaran penjualan selama musim kurban.
*Pola Pembelian Berubah*
Menariknya, pola pembelian masyarakat Samarinda mulai mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya mayoritas warga membeli hewan kurban mendekati hari H, kini sebagian mulai memesan lebih awal.
Pemesanan dini dilakukan agar pembeli bisa mendapatkan sapi dengan ukuran dan kualitas terbaik sebelum stok menipis. Umumnya calon pembeli datang langsung ke kandang untuk memilih hewan, kemudian memberikan uang muka atau tanda jadi.
Hewan yang sudah dibeli tetap dipelihara pedagang hingga mendekati waktu penyembelihan.
Meski demikian, para pedagang menilai puncak transaksi tetap akan terjadi pada H-7 Iduladha. Aktivitas penjualan biasanya berlangsung hingga malam hari, bahkan mencapai pukul 22.00 Wita.
Di balik hiruk pikuk perdagangan kurban, aspek kesehatan hewan kini menjadi perhatian serius. Ketatnya pengawasan kesehatan dilakukan untuk memastikan hewan yang dijual benar-benar layak konsumsi dan memenuhi syariat kurban.
Sapi-sapi asal NTT yang masuk ke Samarinda diwajibkan melalui pemeriksaan kesehatan dan karantina sebelum diberangkatkan menggunakan kapal kargo maupun tol laut.
Menurut Danu, seluruh ternak yang dikirim telah diperiksa dokter hewan di daerah asal, termasuk menjalani vaksinasi dan skrining kesehatan secara menyeluruh.
“Kalau dari sana, sebelum diberangkatkan sudah dicek kesehatannya. Hewan ternak juga sudah diperiksa dan ada proses karantina dulu sebelum dikirim menggunakan kapal kargo atau tol laut,” jelasnya.
Setelah tiba di Samarinda, pengawasan kembali dilakukan bersama dinas terkait untuk memastikan kondisi hewan tetap sehat selama berada di kandang penjualan.
Bagi pedagang, prosedur kesehatan yang ketat justru menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Jaminan kesehatan ternak dianggap penting karena berkaitan langsung dengan kualitas daging yang nantinya dikonsumsi warga.
“Yang penting sapi yang dijual sehat dan layak kurban. Jadi masyarakat juga merasa lebih tenang saat membeli dan mengonsumsi dagingnya nanti,” pungkas Danu.
Di tengah tekanan biaya logistik, kenaikan BBM, dan rantai distribusi yang panjang dari luar pulau, para pedagang hewan kurban di Samarinda kini bukan hanya menjual sapi dan kambing. Mereka juga sedang bertaruh menjaga keseimbangan antara keuntungan usaha dan kemampuan masyarakat untuk tetap berkurban di tengah tekanan ekonomi. (MK)





