Pasar Kurban di Tenggarong Lesu: Pedagang Bertahan di Tengah Ancaman Beban Ekonomi

SUASANA lapak hewan kurban di Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), tahun ini berbeda dari biasanya. Tidak ada kerumunan calon pembeli yang sibuk menawar sapi atau kambing seperti musim Iduladha pada tahun-tahun sebelumnya. Deretan kandang masih penuh, sementara para pedagang lebih banyak menunggu dibanding melayani transaksi.

Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, pasar hewan kurban di Tenggarong mengalami perlambatan cukup tajam. Penurunan daya beli masyarakat disebut menjadi faktor utama lesunya penjualan. Kondisi itu tidak hanya dirasakan pembeli, tetapi juga memukul para pedagang yang harus menanggung biaya pemeliharaan ternak di tengah ketidakpastian pasar.

Di salah satu lapak penjualan hewan kurban di Kelurahan Melayu, Bejo tampak sibuk memberi pakan ternaknya. Pria yang telah puluhan tahun berjualan hewan kurban itu mengaku musim Iduladha tahun ini menjadi salah satu periode tersulit yang pernah ia hadapi.

“Sepertinya kondisi sekarang agak sepi, terutama dari faktor keuangan masyarakat ya. Kalau dulu perbandingannya jauh sekali dengan sekarang,” ujar Bejo saat ditemui di kandangnya.

Kelesuan pasar kurban di Tenggarong menjadi gambaran lebih luas mengenai tekanan ekonomi masyarakat daerah. Tradisi berkurban yang selama ini identik dengan semangat berbagi dan meningkatnya aktivitas ekonomi musiman, kini ikut terdampak situasi keuangan warga yang melemah.

PHK dan Tekanan Ekonomi Mengubah Pola Konsumsi

Menurut Bejo, penurunan pembelian hewan kurban tidak bisa dilepaskan dari kondisi lapangan kerja di Kukar. Ia menyebut banyak masyarakat yang kini lebih berhati-hati mengatur pengeluaran setelah terjadi pengurangan tenaga kerja di sejumlah perusahaan besar.

“Mungkin karena banyak pengurangan di perusahaan-perusahaan. Jangankan untuk berkurban, untuk kebutuhan sehari-hari saja masyarakat harus berhitung betul,” katanya.

Pernyataan itu mencerminkan bagaimana kondisi ekonomi makro dapat langsung memengaruhi tradisi sosial-keagamaan masyarakat. Dalam situasi normal, Iduladha menjadi momentum meningkatnya perputaran uang di sektor peternakan, perdagangan pakan, jasa transportasi ternak, hingga pekerja musiman.

Namun ketika penghasilan masyarakat tertekan, prioritas pengeluaran berubah. Kebutuhan pokok menjadi fokus utama, sementara ibadah kurban yang membutuhkan biaya jutaan rupiah mulai dipertimbangkan ulang.

Fenomena tersebut terlihat jelas dari minimnya transaksi di lapak Bejo. Dari total 10 ekor sapi yang ia siapkan untuk musim kurban tahun ini, baru tiga ekor yang berhasil terjual. Sementara stok kambing masih tersisa puluhan ekor.

“Untuk saat ini yang saya jual tersedia 10 ekor sapi dan lebih dari 50 ekor kambing,” ujarnya.

Padahal, pada musim kurban sebelumnya, penjualan biasanya mulai meningkat jauh sebelum Iduladha tiba.

Harga Hewan Kurban Relatif Stabil, Tetapi Pembeli Menurun

Di tengah lesunya pasar, harga hewan kurban sebenarnya tidak mengalami lonjakan ekstrem. Bejo menjual sapi mulai di bawah Rp20 juta hingga di atas Rp20 juta per ekor, tergantung ukuran dan bobot. Sementara kambing dijual dengan kisaran Rp3 juta sampai Rp8 juta.

Menurut dia, harga kambing sangat dipengaruhi ukuran fisik dan berat hewan. Semakin besar dan sehat kondisi ternak, semakin tinggi pula nilai jualnya.

Sebagian hewan yang dijual merupakan hasil pemeliharaan sendiri, sementara sebagian lain didatangkan dari Pulau Jawa melalui sistem titipan pelanggan maupun kebutuhan masjid.

Meski harga relatif masih dalam kisaran normal, kondisi ekonomi membuat masyarakat lebih selektif. Banyak calon pembeli memilih menunda pembelian atau beralih pada sistem patungan kurban untuk mengurangi beban biaya.

Kondisi itu membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Di satu sisi mereka harus menjaga kualitas ternak, namun di sisi lain biaya operasional terus berjalan.

Beban Pedagang: Pakan, Perawatan, dan Risiko Ternak Tidak Laku

Bagi pedagang hewan kurban, musim Iduladha bukan sekadar soal penjualan, tetapi juga tentang manajemen risiko. Setiap hewan yang tidak terjual berarti tambahan biaya pakan, perawatan, hingga tenaga kerja.

Bejo mengaku tetap berupaya menjaga kondisi hewan agar tetap sehat dan layak jual. Setiap ternak yang baru datang dari luar daerah langsung mendapat penanganan kesehatan untuk mencegah penyakit.

“Begitu datang langsung kami suntik antibiotik dan vitamin. Untuk menjaga stamina, kami juga rutin memberikan suplemen alami berupa campuran air gula merah,” jelasnya.

Perawatan kesehatan menjadi aspek penting di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas hewan kurban. Selain memenuhi syariat agama, hewan juga harus dipastikan sehat dan aman dikonsumsi.

Langkah antisipasi itu dilakukan karena mobilitas ternak dari luar daerah memiliki risiko tersendiri, terutama terkait stres perjalanan dan potensi penularan penyakit.

Di tengah situasi pasar yang melemah, pedagang tetap dituntut menjaga standar kesehatan hewan. Jika kualitas ternak menurun, kepercayaan pembeli bisa ikut hilang.

Di sela kesibukannya merawat ternak, Bejo juga menyinggung soal distribusi bantuan hewan kurban dari pemerintah pusat maupun lembaga besar. Selama hampir tiga dekade berjualan, ia mengaku belum pernah mendapatkan manfaat langsung dari program tersebut.

“Saya selama 29 tahun mulai 2000-an belum pernah saya dapat bantuan. Sebenarnya ya, saya mengharap juga bantuan tersebut,” katanya.

Bagi pedagang kecil, bantuan pembelian hewan kurban dari pemerintah dinilai dapat membantu perputaran ekonomi peternak lokal sekaligus menjaga stabilitas pasar saat daya beli masyarakat menurun.

Selama ini, distribusi bantuan hewan kurban kerap menjadi perhatian karena menyangkut pemerataan ekonomi peternak daerah. Ketika pembelian dilakukan langsung kepada pedagang lokal, dampaknya bisa membantu mengurangi risiko kerugian akibat hewan tidak terjual.

Meski pasar kurban sedang lesu, Bejo memilih tetap bertahan. Ia percaya setiap musim memiliki tantangan berbeda, dan pedagang harus mampu beradaptasi.

Jika hingga Iduladha usai masih ada ternak yang belum terjual, ia akan mengalihkannya untuk kebutuhan konsumsi harian maupun jasa aqiqah masyarakat.

“Kalau tidak habis saat musim haji, ya tetap dijual untuk kebutuhan harian atau aqiqah,” ujarnya.

Kondisi pasar kurban di Tenggarong tahun ini menunjukkan bahwa Iduladha bukan hanya tentang ibadah dan tradisi tahunan. Di balik kandang-kandang ternak yang masih penuh, ada cerita tentang melemahnya daya beli, tekanan ekonomi rumah tangga, hingga perjuangan pedagang kecil mempertahankan usaha di tengah situasi yang tidak menentu.

Bagi para pedagang seperti Bejo, musim kurban kali ini bukan semata-mata soal mencari keuntungan, tetapi tentang bertahan hidup sambil berharap kondisi ekonomi masyarakat perlahan membaik. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI